Xander berjalan masuk kedalam ruangan miliknya, sapaan dari sekretarisnya ia balas dengan anggukan. Xander duduk di kursi nya dan mulai berkutat dengan pekerjaannya.
"Permisi pak, ibu anda ingin menemui anda saat ini," ujar Anggun yang masuk kedalam ruangan Xander
"Suruh dia masuk!" sahut Xander
Pintu ruangan terbuka dan menampakkan sosok wanita paruh baya dan juga wanita yang kiranya seumuran dengannya.
"Ada apa Ma? Tumben kesini enggak bilang-bilang dulu," ujar Xander lalu menghampiri Arimbi dan tak memperdulikan wanita disamping Mama nya
"Ini Mama mau ngenalin kamu sama anak temen Mama, siapa tau cocok kan kalian bisa langsung nikah," sahut Arimbi memberitahu perihal kedatangannya
"Xander kan udah bilang, jangan pernah jodoh-jodohin Xander sama anak temen Mama apalagi berkedok cuma kenalan doang," ujar Xander malas
"Mama udah tua Xander, mau sampai kapan lagi kamu sendiri kayak gini? Mama iri liat temen Mama pada ngomongin menantu sama cucunya," ujar sang Arimbi pura-pura sedih
"Siapa juga yang bilang Mama masih muda," gumam Xander yang hanya bisa ia dengar orang lain tak akan mendengarkannya karena volume suaranya yang kecil
"Kalau saja dulu Mama enggak egois mungkin Mama bisa bermain dengan cucu Mama, tapi itu semua udah berlalu. Mending Mama pulang Xander mau nyeleseiin pekerjaan Xander dulu," ujar Xander menuntun Arimbi menuju pintu ruangan miliknya
"Tapi kamu kan tau Mama enggak suka sama dia, Mama udah larang kamu nikah sama dia tapi kamu malah bandel nikahin dia,"
"Kenapa sih Mama sampai enggak suka sama dia? Dia baik Ma enggak seperti yang Mama duga selama ini. Xander juga cinta sama dia, Xander bahagia sama dia," sahut Xander yang masih tak tahu kenapa Mama nya tidak menyukai Aquena
"Dia itu wanita licik Xander, kamu itu cuma dimanfaatin sama dia. Dia cuma ngincer harta kami,dia itu cuma pura-pura polos padahal aslinya licik,".Arimbi tak henti-hentinya menjelekkan Aquena
"Cukup Ma, Xander muak denger semua omongan busuk Mama tentang Aquena, mending Mama pulang," Xander meninggalkan sang Mama diluar ruangannya
"Kenapa anda masih disini, keluar!" titah Xander dengan sedikit keras
Wanita itu menghentakkan kakinya kesal karena Xander mengusir dirinya. Terbuang sudah waktunya saat ini, jika bukan karena suruhan Mama nya ia tak ingin menemui lelaki itu bersama ibu nya.
Xander menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kerja miliknya. Jam makan siang sudah tiba, Xander bengkit dari duduknya lalu keluar dari ruangannya.
"Kosongkan jadwal saya hari ini," ujar Xander kepada sekretarisnya
"Baik Pak!" sahut sang sekretaris patuh
Xander masuk kedalam lift dan menekan angka 1 untuk menuju lantai dasar. Pintu lift terbuka Xander keluar dari dalam lift, banyak karyawan yang berlalu lalang didepannya. Sapaan sapaan dari bawahannya hanya dibalas anggukan oleh Xander tanpa ada senyum yang terpatri.
Xander melajukan mobilnya meninggalkan pelataran perusahaannya menuju sekolah dasar Lucas, membelah jalanan siang ini yang lumayan macetnya dimana-mana. Setengah jam akhirnya Xander bisa terlepas dari macetnya jalanan, mobil Xander terhenti didepan halte depan sekolah Lucas.
Xander menatap gerombolan anak-anak sekolah dasar yang mulai meninggalkan gerbang sekolah. Xander mengedarkan matanya mencari keberadaan Lucas. Matanya akhirnya menemukan Lucas yang sudah akan naik keatas boncengan sang Mama.
Aquena memakaikan Lucas helm lalu menyuruh anak itu untuk naik keatas jok motornya. Aquena melajukan motornya menuju cafe miliknya, motor Aquena melaju ikut berbaur dengan kendaraan lainnya.
Xander mengikuti motor Aquena dari belakang dengan jarak yang lumayan jauh agar tidak ketahuan oleh Aquena. Mobil Xander terparkir tepat disamping motor Aquena.
Xander keluar menggunakan masker hitamnya dan tak lupa topi dan juga kacamata hitamnya. Xander masuk kedalam cafe lalu duduk pada meja dekat kaca. Xander memesan coffee latte dan lava cake, selama didalam cafe Xander sama sekali tidak melepas atributnya.
Pesanannya datang, Xander menyesap coffee latte miliknya. Matanya menelisik mencari keberadaan Aquena dan juga Lucas. Xander menemukan keberadaan Lucas pada pojok ruangan terlihat sedang mengerjakan sesuatu tapi ia tak melihat Aquena ada didekat Lucas.
Xander beranjak dari duduknya lalu menghampiri Lucas yang tengah asyik sendiri.
"Hai sayang, kenapa kamu sendirian?" tanya Xander saat sudah didepan Lucas
"Jangan takut sayang, ini Papa, Papa Xander," ujar Xander lalu menurunkan masker dan melepas kacamatanya karena Lucas menatapnya takut
"Papa!" pekik Lucas dan menghambur kepelukan Xander
"Papa kemana saja, dari kemarin Lucas enggak dapet liat Papa," ujar Lucas yang sudah dipangkuan Lucas
"Papa kan kerja sayang, jadi enggak bisa selalu ada buat Lucas tapi Papa bakalan luangin waktu Papa buat kamu," sahut Xander mengelus rambut Lucas
"Lucas udah makan?" tanya Xander
"Belum," Lucas menggelengkan kepalanya
~`~
Aquena menatap Lucas yang sedang mengobrol dengan seorang yang tak ia kenal. Aquena hendak menghampiri anaknya tapi langkah kakinya tertahan oleh suara lelaki yang ia kenal.
"Aquena!"
"Kak Davin! Kapan nyampe nya?" tanya Aquena pada sosok lelaki yang sudah ada dihadapannya
"Udah dari pagi kakak nyampe nya," sahut lelaki yang memiliki nama lengkap Davin Pratap Samudra itu memeluk tubuh Aquena.
Lelaki yang berstatus sepupu jauh Aquena itu memang tidak tinggal di Indonesia Davin memilih untuk tinggal di Jerman untuk melanjutkan perusahaan keluarganya yang ada disana.
"Kenapa enggak ngabarin Aquena, kan bisa Aquena jemput di bandara." Aquena membalas pelukan kakak sepupunya itu
"Lucas mana?" tanya Davin menanyakan keponakan nya itu
"Itu lagi main disana!" tunjuk Aquena kearah Lucas yang bermain sendirian
'Loh! Bukannya tadi Lucas sama orang lain ya?' batin Aquena bertanya-tanya karena tak menemukan sosok lelaki yang tadi ia lihat
"Ya udah, kakak mau nyamperin Lucas ya," setelah mengacak rambut Aquena, Davin melangkahkan kakinya menuju tempat Lucas.
Aquena melamun hingga tepukan di bahunya menyadarkan nya dari lamunannya.
"Kenapa?" tanya Aquena menatap karyawannya
"Mbak bisa gantiin bentar? Saya mau ke toilet udah kebelet nih enggak bisa ditahan!" Tara menyilangkan kakinya menahan hasrat ingin membuang air kecilnya
"Yaudah sana, awas ntar pipis di celana!" teriak Aquena saat Tara sudah hilang dari balik pintu toilet
Aquena melangkahkan kakinya menuju meja kasir untuk menggantikan posisi sementara Tara. Mata Aquena menatap kearah pengunjung cafe nya, tak ramai tapi tak sepi juga.
"Saya ingin membayar pesanan di meja no 5," suara berat nan seksi menyapa gendang telinga Aquena
Aquena menatap orang didepannya dengan pandangan yang sulit diartikan. Lelaki didepannya ini memakai masker dan juga kacamata hitamnya sehingga membuat Aquena tak dapat melihat siapa orang dibalik masker itu.
"Nona!" lelaki itu melambaikan tangannya kedepan wajah Aquena
"Hah iya?" tanya Aquena linglung "
Jadi totalnya berapa?" tanya lelaki itu
"Pesanan meja no berapa?" tanya Aquena balik setelah kesadarannya kembali
"Meja no 5," sahut lelaki itu
"Totalnya 150 ribu," sahut Aquena memberitahu
Lelaki itu mengeluarkan dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang seratus ribu dan memberikannya pada Aquena. Aquena menerima uang itu dan memberikan kembaliannya.
"Terimakasih atas kunjungannya!" ujar Aquena tersenyum ramah
Tanpa membalas ucapan Aquena lelaki itu berlalu keluar dari cafe milik Aquena menuju mobil dan melajukan meninggalkan parkiran cafe Aquena.
"Aneh, siang-siang pake masker sama kacamata hitam, enggak pengap apa. Mana warnanya hitam-hitam lagi udah kayak detektif aja," gumam Aquena menatap kepergian lelaki yang tak ia ketahui itu
"Saya udah selesai, Mbak boleh kembali ketempat semula," usir Tara yang baru saja keluar dari toilet
"Ngapain aja didalam? Lama banget sih," dumel Aquena pada Tara
"Aduh Mbak, tadi kebelet boker juga yaudah sekalian aja," ujar Tara nyengir menampilkan deretan gigi putih miliknya
"Astaga! Pantesan bau nya keciun sampe sini, kamu enggak cebok dengan benar ya?" tanya Aquena dan menutup hidungnya pura-pura kebauan
"Iih mana ada, nih cium tangan saya wangi stroberry kalo enggak percaya," Tara mendekatkan kedua tangannya pada wajah Aquena
Aquena dengan cepat menghindar dari tangan Tara
"Udah-udah, kamu balik ke posisi semula sana!" usir Aquena
"Tapi Mbak..."
"Balik Tara!" Aquena memotong ucapan Tara
"Ya balik kemana Mbak! Saya kan tugasnya jaga kasir!" ujar Tara geram
"Ooh iya ya? Ya udah sana jaga kasir, saya mau ketempat Lucas dulu. Babay Tara tuh tangan jangan lupa dicuci lagi soalnya baunya ke cium sampe sini," ujar Aquena lalu pergi meninggalkan Tara yang tersubgut sebal akan sifat Aquena
"Enggak ada ya, hidung Mbak aja yang bermasalah," sahut Tara
Aquena tak menghiraukan dumelan Tara, ia memilih untuk menghampiri Lucas dan kak Davin yang terlihat sedang memakan sesuatu
"Loh, Lucas dapet martabak dari siapa?" tanya Aquena saat melihat dua kotak martabak yang satunya masih utuh sedangkan yang satunya lagi udah sisa setengah
"Dari Papa," sahut Lucas dan kembali melanjutkan makannya
"Aquena.."
"Nanti Aquena jelaskan Kak," potong Aquena cepat
"Kok Mama enggak tau kalo Papa dateng kesini," ujar Aquena pura-pura berpikir
"Papa tadi buru-buru, cuma nyamperin Lucas terus tanya Lucas udah makan apa belum yaudah Lucas jawab belum eh malah dibeliin martabak sama Papa," jelas Lucas
"Yaudah Lucas lanjut makannya saja, Mama mau naik keatas kalo ada apa-apa Lucas cari aja Mama diatas," ujar Aquena mengelus lembut surai hitam anaknya