Lucas duduk bersandar di kursi panjang yang ada di halaman belakang sekolah, jarang ada yang kesana sehingga membuat Lucas merasa nyaman menikmati kesendiriannya.
Lucas menatap surat ditangannya, yang dimana isinya agar ayah dari para murid datang ke sekolah untuk menghadiri pertemuan dengan guru dan para wali yang lainnya juga.
"Nanti siapa yang datang kesekolah? Papa dimana? Lucas pengen ketemu sama Papa. Lucas iri sama temen-temen yang pulang dijemput sama Papa dan Mama mereka, sedangkan Lucas hanya dijemput sama Mama,"
Lucas memasukkan surat ditangannya kedalam tas punggung miliknya lalu meninggalkan halaman belakang sekolah, di depan gerbang ia melihat pria yang tempo hari ia temui sedang berdiri didepan mobil entah menunggu siapa Lucas tak menghiraukannya.
Aquena datang dari arah yang berlawanan, motornya berhenti tepat didepan mobil hitam yang terparkir disana. Tanpa melihat siapa yang sedang berdiri disana Aquena memilih menghampiri Lucas yang terlihat berjalan keluar sekolah.
"Lucas kenapa hmm? Kok cemberut gitu mukanya," tanya Aquena pada anaknya
"Enggak papa Ma," sahut Lucas menyunggingkan senyum miliknya
"Ya udah, kalo emang enggak papa, muka nya jangan cemberut gitu dong nanti Lucas nggak ganteng lagi,"
"Iyaa, ini Lucas senyum gantengnya Lucas nambah kan?" tanya Lucas sambil memamerkan deretan gigi rapinya
"Anak Mama selalu ganteng kok," sahut Aquena mengelus rambut Lucas dan tersenyum.
Aquena menuntun Lucas menuju motor miliknya tanpa tahu jika lelaki yang berdiri tak jauh darinya menampilkan raut wajah terkejutnya.
Xander masih tak percaya jika Aquena kini ada didepan matanya, saat kaki jenjang itu hendak melangkah menghampiri Aquena dan Lucas yang masih berdiri disamping motor tanpa menatap kedepan, terpaksa harus terhenti karena Anggun memanggil namanya.
"Apa?" tanya Xander dengan raut wajah datar
"Anda sudah ditunggu, mari," ujar Anggun memberitahu.
Ingin sekali Xander berlalu pergi gitu saja tanpa menghadiri pertemuan itu dan memilih untuk bertemu dengan Aquena dan juga anak yang pastinya itu anak kandungnya, tetapi Xander harus pasrah karena pertemuan itu jika dibatalkan dapat mengakibatkan perusahaannya mengalami penurunan saham dan Xander tidak mau itu terjadi, bukan karena dia lebih mementingkan saham daripada bertemu Aquena dan anaknya tetapi ada banyak orang yang bergantung pada perusahaannya.
~`~
Aquena menurunkan Lucas didepan pintu gerbang panti asuhan yang tempo hari mereka kunjungi. Lucas memilih untuk berkunjung dan bermain disana bersama anak-anak yang lainnya ketimbang ikut dengan sang Mama ke cafe.
"Kamu baik-baik disini, jangan nakal nanti sore Mama jemput," ujar Aquena pada Lucas
"Iya Ma," sahut Lucas
"Resta, Tante titip Lucas ya kalo ada apa-apa hubungin tante segera," ujar Aquena pada Resta yang disampingnya
"Iya tante, nanti Resta hubungin kalo emang ada masalah serius,"
"Kamu tenang aja, Lucas baik-baik saja disini kamu enggak usah khawatir," ujar Bu Ratna menenangkan. Dia menghampiri Aquena yang berdiri didepan gerbang.
"Baiklah, kalo gitu aku pergi ya Bu," pamit Aquena pada Bu Ratna tak lupa dia menyalimi tangan wanita paruh baya itu.
"Iya hati-hati nak,"
"Tante pergi dulu ya," ujar Aquena mengusap rambut Resta
"Iya tante, hati-hati," sahut Resta
Aquena berlalu keluar dari panti asuhan, melajukan motornya menuju cafe miliknya. Selang beberapa menit datanglah mobil sedan hitam terparkir didepan gerbang panti, keluarlah seorang pria lengkap dengan jas hitam melekat pada tubuhnya.
Dengan langkah tegap, ia berjalan masuk kedalam panti. Matanya bersibobrok dengan mata hitam legam milik Lucas, Lucas segera mengalihkan perhatiannya kearah mainan didepannya dan tak menghiraukan pria yang sedang menatapnya lekat.
'Jika Lucas ada disini, Aquena pasti juga ada disini,' ujar Xander dalam hati kepala terputar mencari keberadaan Aquena di sudut panti asuhan itu tetapi nihil dia tidak menemukan keberadaan Aquena.
"Tuan!" Bu Ratna memanggil Xander hingga membuat Xander menatap wanita paruh baya didepannya.
"Mari! Silahkan duduk," ujar Bu Ratna mempersilahkan Xander untuk duduk
Xander duduk disofa, tapi matanya tak lepas menatap Lucas yang sedang bermain dengan anak panti yang lainnya, senyum manis Lucas terpendar tatkala bercanda dengan teman sebayanya.
"Ada hal apa, hingga tuan datang kembali kesini?" tanya Bu Ratna pasalnya baru tempo hari Xander datang kesini.
"Seperti sebelumnya, kedatangan saya kesini meminta agar ibu beserta anak panti untuk segera meninggalkan bangunan ini, paling lambat minggu depan bangunan ini sudah kosong," ujar Xander tanpa menatap Bu Ratna
"Tapi tuan ... harus kemana kami pergi, kami sudah tidak memiliki tempat lagi untuk tinggal selain panti ini," sahut Bu Ratna dengan nada yang bergetar. Ia masih belum bisa jika melepas bangunan panti itu, ada banyak anak yang bergantung hidup dibawah atap panti asuhan yang dia bangun.
"Saya tidak peduli, mau kalian tinggal di kolong jembatan pun saya nggak bakal peduli," ujar Xander datar
"Tapi..."
"No! Om enggak bisa ngusir ibu panti sama yang lainnya dari sini, yang seharusnya pergi dari sini itu om bukan ibu panti sama yang lainnya!" ujar Lucas marah setelah mendengar perkataan Xander yang ingin mengusir ibu panti beserta yang lainnya
"Hei nak! kamu enggak tau apa-apa, jadi lebih baik diam saja okey," ujar Xander mencoba berbicara lembut pada Lucas
"Enggak! Pokoknya om enggak boleh ngusir ibu panti sama yang lainnya dari sini!!" teriak Lucas yang air matanya sudah menggenang di pelupuk matanya mungkin sebentar lagi tangisnya akan pecah
Entah kenapa, Xander merasa sakit mendengar kata 'Om' yang keluar dari mulut Lucas, ingin sekali ia berkata bahwa ia adalah ayah kandung Lucas. Harusnya Lucas memanggil dia dengan sebutan Papa bukannya Om seperti tadi.
"Pokoknya om enggak boleh usir mereka," ujar Lucas, air matanya sudah merembes keluar. Walaupun dia baru beberapa kali bertemu dengan semua yang ada di dalam panti itu, Lucas tak ingin orang asing mengusik kehidupan mereka di panti apalagi mengusir mereka dari dalam panti.
"Kalo...Om usir... mereka, hiks ... mereka bakalan tinggal dimana hiks..hiks," tanya Lucas sesenggukan didepan Xander.
"Ssst, jangan nangis okey, om enggak bakalan usir ibu panti sama yang lainnya," ujar Xander pada akhirnya menuruti perkataan anaknya, ia tak ingin melihat Lucas terus menangis
"Beneran?" tanya Lucas menatap Xander
"Iya beneran, makanya Lucas berhenti nangis yaa," ujar Xander dan membawa Lucas pada dekapannya
Lucas mendekap tubuh Xander erat, Lucas merasa nyaman akan dekapan Xander, ia merasa seperti memeluk ayahnya saat ini. Xander mengelus lembut rambut Lucas, tanpa ia tahu jika ada setitik air mata yang keluar dari matanya.
Rasa bahagia membuncah tatkala Lucas membalas pelukannya erat, tangannya mengelus lembut punggung kecil Lucas.
"Lucas kesini sama siapa?" tanya Xander memangku Lucas
"Sama Mama," sahut Lucas yang masih menyandarkan tubuhnya pada lengan kokoh Xander
"Sekarang Mama Lucas dimana?" tanya Xander
"Mama lagi kerja,"
"Kalo Papa Lucas dimana?"
"Papa, Lucas enggak tahu Papa ada dimana tapi Mama bilang Papa udah bahagia sama keluarga barunya,"sahut Lucas tersenyum
Xander terdiam mendengar perkataan Lucas, bahagia? Hahaha rasanya Xander ingin tertawa saat mendengar perkataan Lucas. Keluarga baru? Sejak kapan ia berkeluarga lagi? Rasanya tidak mungkin karena ternyata hatinya masih tertaut pada satu nama yaitu Aquena.
"Om mau tanya, kalo seumpama nya Papa Lucas ada didepan Lucas, Lucas mau ngomong apa ke Papa?"tanya Xander
"Lucas mau nanya ke Papa, kenapa Papa ninggalin Mama sama Lucas? Apa Papa tidak sayang sama Lucas dan juga Mama? Apa sebegitu bencinya Papa sama kehadiran Lucas hingga membuat Papa ninggalin kita. Lucas pengen ketemu Papa sebenarnya, tapi Lucas enggak mau buat Mama sedih tiap nanyain Papa,"ujar Lucas sedih
Xander tergugu mendengar penuturan Lucas, tangannya dengan segera kembali mendekap Lucas kedalam pelukannya. Ternyata anaknya selama ini merindukan dirinya tapi karena tak mau membuat Aquena sedih Lucas harus menahan semua rasa rindu itu.
"Om beneran kan, nggak bakalan usir ibu panti sama yang lainnya dari sini?" tanya Lucas yang masih berada didekapan Xander
"Iya, om beneran nggak bakalan usir ibu panti sama yang lainnya dari sini, asal Lucas mau menuruti satu permintaan om," ujar Xander
"Apa itu Om?"tanya Lucas penasaran
"Om mau Lucas dari sekarang panggil om dengan sebutan Papa, bisa?"tanya Xander
"Papa? Tapi om bukan Papa Lucas, jadi buat apa Lucas harus panggil om dengan sebutan Papa?"tanya Lucas lugu
"Lucas pengen kan punya Papa?"
"Pengen, Lucas pengen banget om,"sahut Lucas
"Nah, maka dari itu Lucas panggil om dengan sebutan Papa, biar Lucas punya Papa,,"ujar Xander
"Tapi … "tanya Lucas polos
'Ini Papa nak, Papa ada disamping kamu. Papa pengen denger kamu menyebut kata Papa kepada saya bukan kata om,' batin Xander
"Enggak papa, kalau Papa kandung Lucas enggak bisa nyayangin Lucas, om siap buat bahagiain kamu sayang," setelah mengatakan itu Xander terdiam lagi, sakit rasanya anak kandung sendiri memanggilnya om. Anak kandungnya sendiri tidak mengenalinya, kesalahannya dulu membuat Lucas seperti ini
"Lucas bakalan panggil om dengan sebutan Papa, asal om enggak bakalan usir ibu panti sama yang lainnya kalo om ingkar janji Lucas bakalan benci sama om selamanya,"ujar Lucas
"Iya, om janji, om enggak bakalan usir ibu panti sama yang lainnya asal Lucas mau menuruti permintaan om tadi,"
"Baiklah Papa,"ujar Lucas tersenyum sumringah
Ada rasa hangat menjalar pada rongga d**a Xander saat mendengar Lucas menyebutnya dengan panggilan Papa, rasa senang tak dapat ia elakkan lagi dengan senang ia memeluk Lucas erat-erat.
"Papa, lep..as. Lucas enggak bisa napas," ujar Lucas menepuk-nepuk lengan kekar Xander
"Hehehe, maafin om ya, om terlalu seneng saat Lucas panggil om dengan sebutan Papa," ujar Xander mengelus rambut hitam Lucas
"Sekarang Lucas udah punya Papa, jadi bisa kan Papa datang kesekolah Lucas besok lusa?" tanya Lucas pada Xander
"Ada masalah apa hingga Papa harus datang ke sekolah Lucas?" tanya Xander
"Hmm, ini!" Lucas menyodorkan sepucuk surat kearah Xander
Xander menerima uluran surat dari tangan kecil Lucas, Xander membaca isi surat itu dengan seksama.
"Baiklah, Papa bakalan datang besok lusa," ujar Xander pada akhirnya
"Beneran?" tanya Lucas senang
"Iya, untuk jagoan Papa apa sih yang enggak," ujar Xander
"Thanks Papa!" Lucas memeluk tubuh Xander
"Iya sayang,"