Aquena menatap lembut kearah bocah kecil yang wajahnya sudah berlumuran tepung itu.
"Lucas sayang, kenapa main di dapur? Mama kan udah bilang jangan main di dapur, tuh lihat jadi berantakan!" tunjuk Aquena kearah lantai dapur yanh sudah kotor dengan tepung yang berserakan.
"Tadi Lucas pengen buat kue, tapi waktu mau ambil tepung, tepungnya malah jatuh keatas wajah Lucas," ujar Lucas menundukkan kepalanya memberitahu sang Mama
"Ya udah, sekarang Lucas mandi, ini semua biar Mama yang beresin." Aquena mengelus lembut kepala Lucas dan membersihkan sisa tepung yang ada dikepala anaknya itu.
"Mama enggak marah kan?" tanya Lucas dengan air mata yang berlinang.
"Loh, kenapa nangis, hm?" tanya Aquena pada Lucas
"Lucas ... Lucas minta maaf, Mama jangan marah ya, karena Lucas udah berantakin dapur Mama," sahut Lucas masih dengan tangisnya
"Mama enggak marah sayang, udah dong jangan nangis nanti gantengnya ilang loh! Lucas nggak mau kan kalo nggak ganteng lagi?" Aquena mencoba menenangkan Lucas agar anak itu berhenti menangis.
"Enggak, Lucas enggak mau kegantengan Lucas hilang!" sahut Lucas dan mengusap air matanya cepat
"Kalau gitu udahan ya nangis nya!" ujar Aquena menghapus air mata sang anak
"Sekarang Lucas mandi, Mama mau beresin ini terus masak buat makan malam. Lucas mau Mama masakin apa?" tanya Aquena
"Apa aja, asal Mama yang masak Lucas pasti makan, Lucas mandi dulu."
Bocah laki-laki yang berumur 6 tahun itu segera berlari menuju kamar mandi, Aquena menatap sendu kearah anaknya yang sudah menghilang dibalik pintu kamar mandi. Hampir 7 tahun ia tinggal dirumah yang luasnya tak seberapa ini bersama dengan buah hatinya. Walaupun hanya berdua Aquena merasa itu lebih baik.
Menjadi single parent bukan hal mudah bagi Aquena, pasti saja ada yang menggunjingnya walau tak didepannya langsung.
Aquena segera membereskan kekacauan yang dibuat oleh Lucas, setelah semuanya bersih Aquena segera memakai celemek pink miliknya dan mulai memasak hidangan makan malam.
"Mama! Lucas udah siap, ganteng kan?" tanya Lucas pada Aquena yang masih berkutat di dalam dapur dan membelakangi anak nya itu.
"Mana sini Mama lihat anak gantengnya Mama," ujar Aquena lalu mematikan kompornya dan membalikkan badannya.
Aquena cukup dibuat tercengang karena wajah Lucas yang bertabur bedak bayi dengan begitu tebalnya.
"Ini kenapa kayak gini sayang?" tanya Aquena mengusap pipi Lucas dan saat itu juga bedak yang dipakai Lucas berpindah ke telapak tangan Aquena.
"Kenapa? Lucas jelek ya pake bedak?" tanya Lucas mengerucutkan bibirnya cemberut.
"Siapa bilang? Anak Mama itu ganteng, bedak kamu ketebelan sayang. Tuh lihat matanya merah pasti kemasukan bedak ya tadi?" tanya Aquena
"Iya, tadi enggak sengaja kena mata terus Lucas kucek biar hilang!" sahut Lucas enteng.
"Lain kali jangan gitu ya, mending basuh dulu wajahnya nanti Mama bedakin lagi biar tambah ganteng!" suruh Aquena
Lucas menurut ia masuk kedalam kamar mandi dan membasuh mukanya sedangkan Aquena melanjutkan acara masaknya. Makan malam hanya ada mereka berdua tanpa ada anggota tambahan lagi selain mereka berdua.
~`~
"Kamu jangan nakal ya, ini hari pertama kamu sekolah. Belajar yang rajin jangan malas, dengarkan apa yang ibu guru bilang. Kalau ada yang nakal sama kamu diemin aja ya jangan dilawan Mama nggak mau kamu berantem." Aquena menasehati Lucas sebelum benar-benar melepas anaknya untuk masuk kedalam sekolah dasar bersama dengan murid yang lainnya.
"Siap Mama!" sahut Lucas patuh.
"Ya udah sana masuk, nanti Mama jemput kalo udah jam pulang!"
Setelah memastikan Lucas masuk kedalam gedung sekolahnya, barulah Aquena berlalu pergi ke cafe miliknya
Lonceng kecil yang berada diatas pintu berbunyi saat Aquena membuka pintu cafe. Perhatian karyawan dan pengunjung sedikit teralih kearahnya tapi setelah itu mereka semua kembali melakukan aktifitas sebelumnya.
"Pagi Mbak!" sapa salah satu karyawan pada Aquena
"Pagi Rara!" sapa Aquena balik pada Rara karyawati yang memang sudah bekerja dengannya lama.
Aquena berlalu menuju ruangannya dilantai 2, cafe yang ia rintis sejak mengandung Lucas kini sudah punya beberapa cabang.
Aquena turun dari ruangannya, dari ujung anak tangga Aquena melihat banyaknya pengunjung yang datang ke cafenya. Aquena melihat para karyawannya sedikit kewalahan karena membludaknya pengunjung.
Aquena mengambil alih nampan yang ada diatas meja kasir
"Biar saya saja Mbak!" sahut Tara lelaki bersurai coklat itu hendak mengambil alih nampan
"Saya saja yang mengantar, kamu lanjutin pekerjaan kamu!"
"Ini dibawa ke meja no berapa?" tanya Aquena
"Meja no 5, Mbak!" sahut Tara
Aquena segera melangkahkan kakinya menuju meja no 05 yang memang berada didekat kaca besar.
"Selamat menikmati!" ujar Aquena menaruh coffe latte pesanan dan sepotong cake diatas meja
"Hmm." pria itu hanya berdehem
Aquena tak menghiraukan deheman itu, ia memilih pergi dan melanjutkan mengantar pesanan yang lain. Tak seperti biasanya cafe miliknya sampai kewalahan gara-gara pembeli yang membludak.
Hari hampir siang kini tinggal sedikit pengunjung yang ada didalam cafe, Aquena naik keatas ruangannya. Mengambil kunci motor dan jaket miliknya
"Ra! Mbak mau jemput Lucas dulu, nanti kalo ada apa-apa hubungin Mbak ya," ujar Aquena yang dibalas anggukan oleh Rara
Aquena melajukan motor maticnya menuju sekolah Lucas, ia melihat anaknya sedang berdiri sendiri didepan gerbang sementara anak lainnya berdiri dibelakang Lucas.
"Lucas enggak punya Papa!"
"Lucas enggak punya Papa!" ledek anak-anak dibelakang Lucas
"Lucas punya PAPA!!" teriak Lucas akhirnya setelah daritadi menahan emosinya
"Lucas!" tegur Aquena akhirnya
"Mama!! Hiks...hiks mereka ledekin Lucas!" ujar Lucas, tangisnya pecah lalu memeluk sang Mama.
Ini adalah hari pertamanya sekolah tapi kenapa teman-temannya yang lain meledeki dirinya dan bilang dia tidak memiliki sosok seorang Papa. Apa karena tadi saat perkenalan dia tidak tahu nama dan wajah Papa nya sehingga mereka meledeknya seperti itu.
"Udah, jangan dengerin kata mereka. Sekarang Lucas mau pulang apa ikut Mama ke cafe?" tanya Aquena mengelus sayang rambut Lucas.
"Lucas ikut Mama aja," sahut Lucas
Aquena menaikan Lucas diatas jok belakang motornya, setelah memakaikan helm pada anaknya, Aquena lalu melajukan motornya meninggalkan gerbang sekolah Lucas.
"Ma, Lucas punya Papa kan?" tanya Lucas saat Aquena ingin melepas helm di kepala Lucas
Aquena terdiam mendengar pertanyaan yang dilontarkan sang anak, selama ini Lucas tak pernah sekalipun menanyakan tentang Papa nya. Lidah Aquena kelu saat ingin menjawab pertanyaan sang anak
"Punya! Lucas punya Papa, siapa yang bilang Lucas enggak punya Papa?" tanya Aquena
"Terus Papa Lucas kemana? Selama ini Lucas belum pernah bertemu Papa, jangankan wajahnya nama Papa saja Lucas tidak tahu." Lucas bertanya dengan wajah lesu miliknya.
"Papa udah bahagia dengan keluarga barunya jadi Lucas enggak perlu nanyain Papa lagi ya, walaupun Lucas cuma punya Mama tapi Lucas enggak bakalan kekurangan kasih sayang nak," Aquena mengatakan hal itu dengan hati yang berat sebenarnya tetapi ia harus mengatakannya walaupun Lucas belum mengerti tapi seiring berjalannya waktu anak itu bakalan paham juga pada akhirnya
"Kenapa papa nggak sama kita Ma, kenapa?"tanya Lucas
"Apa Papa nggak bahagia punya Lucas? Apa Papa nggak sayang sama Lucas? Sampai Papa harus ninggalin kita, jawab Ma,"
"Lucas enggak perlu tau semuanya, nanti kalo Lucas udah besar Mama bakalan kasih tau. Jadi sekarang Lucas nurut ya sama Mama. Mama enggak mau kehilangan Lucas jadi Mama mohon Lucas jangan nanyain Papa lagi ya,"pinta Aquena
Lucas mengangguk, sebenarnya Lucas masih ada banyak pertanyaan dibenaknya, walaupun ia masih kecil tapi otaknya sudah pintar menangkap apa maksud dari Mama nya
"Lucas anak pinter! Ya udah turun yuk!" ajak Aquena
Lucas turun sendiri tanpa bantuan dari Mamanya. Karena tinggi Lucas yang lebih tinggi dari anak seumurannya membuatnya bisa naik turun tanpa bantuan dari nya. Tak dapat Aquena pungkiri jika gen sang suami menurun kepada Lucas, ia bersyukur setidaknya sifat sang anak tidak seperti suaminya, eh! Bolehkah ia memanggil pria itu sebagai suaminya? Karena sampai saat ini ia belum mendapat kejelasan dalam hubungan mereka.
Secara hukum mereka memang masih dalam status suami istri karena dari pihak keduanya tidak ada yang mengajukan surat perceraian ke pengadilan, tapi mereka sudah pisah rumah, ranjang bahkan nafkah secara lahir dan bathin pun sudah tak Aquena terima dan apakah itu masih bisa disebut sebagai suami-istri?
"Mama ayo!" Lucas menarik tangan Aquena hingga membuyarkan lamunan Aquena.
"Eh! Iya ayo." Aquena menggenggam tangan Lucas dan masuk kedalam cafe.
Banyak pasang mata menatap kearah bocah kecil disampingnya, paras Lucas yang tampan membuat ia menjadi pusat perhatian. Lucas dengan PD-nya mengumbar senyum manis miliknya hingga membuat setidaknya separuh dari pengunjung cafe nya menjerit gemas.
"Pangerannya tante sudah datang! Gimana sekolahnya seru?" sambut Rara dan mencubit gemas pipi Lucas yang tembam itu.
"Auh, sakit!" ringis Lucas mmengelus pipinya
"Maaf sayang, habisnya kamu ngegemesin kan tante jadi pengen cubit," sahut Rara dan mengelus pipi Lucas yang memerah.
"Udah jangan digangguin lagi, kamu sebaiknya kembali bekerja!" suruh Aquena pada Rara
"Siap Mbak!" ujar Rara sambil hormat dan berlalu dari hadapan mereka berdua
Aquena menuju ruangan pojok tempat Lucas bermain, Aquena sengaja menyisakan tempat dipojok agar anaknya punya tempat bermain selagi ia membantu para karyawannya. Tidak terlalu besar namun cukuplah buat Lucas bermain.
"Lucas disini dulu ya, Mama mau siapin makan siang kamu dulu," ujar Aquena pada anaknya
"Iya Ma!" sahut Lucas
Lucas membuka tas miliknya mengeluarkan buku tulisnya dan mengerjakan soal matematika yang guru nya berikan. Lucas fokus menghitung sesekali ia menggunakan kedua tangannya seperti yang sudah Mama nya ajarkan.
"Hai?" sapa anak kecil kearah Lucas
Lucas yang merasa ada yang menyapa dengan segera mendongakkan kepalanya dan menemukan anak perempuan didepannya.
"Hai!" sapa Lucas balik dan tersenyum
Anak perempuan itu terpaku dengan senyum manis milik Lucas.
"Kok bengong?" tanya Lucas sambil melambaikan tangannya didepan wajah anak perempuan itu
"Eh! Hehehe enggak papa," sahut anak itu dan menggelengkan kepalanya
"Ayo masuk!" ajak Lucas dan membuka pagar agar anak perempuan itu masuk kedalam
Anak perempuan yang Lucas tak tahu namanya itu masuk kedalam dan duduk didepan Lucas.
"Nama kamu siapa?" tanya Lucas pada akhirnya
"Lala, kalau kamu?" tanya Lala dan menyodorkan tangannya
"Lucas!" ujar Lucas menyambut tangan Lala
Setelah perkenalan itu, keduanya bungkam. Lucas melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda tadi, hingga suara Mama Lucas memecah keheningan diantara keduanya.
"Lucas, makan siang udah siap! Ayo ganti baju... Loh, ini siapa?" tanya Aquena saat menyadari anaknya tak sendirian
"Nama aku Lala tante," sahut Lala memperkenalkan dirinya dengan logat yang menggemaskan
"Hai Lala, kenalin nama Tante Aquena. Tante Mamanya Lucas, orangtua kamu mana?" tanya Aquena
"Mama sama Papa masih di mobil tante, jadi Lala masuk duluan kesini" sahut Lala
"Lala mau ikut tante sama Lucas atau mau nunggu Mama sama Papa disini?" tanya Aquena
"Ikut tante boleh enggak?" tanya Lala menundukkan kepalanya
"Boleh! Ayo Lucas kamu ganti baju dulu, setelah itu baru makan siang!"
Aquena menggiring kedua anak yang berbeda jenis kelamin itu kedalam ruangan yang berisi loker tempat karyawannya istirahat. Aquena membuka salah satu loker dan mengambilkan Lucas pakaian ganti. Setelah berganti Lucas duduk disamping Lala sedangkan sang Mama mengambil kan nya makan siang.
Lala yang tadinya menolak kini mulai melahap makanan yang Aquena berikan, makanan mereka habis Aquena segera merapikan piring bekas makan mereka.
Lucas dan Lala berjalan beriringan menuju tempat mereka bertemu tadi. Mereka asyik bermain berdua, banyak mainan yang ada disana. Mulai dari koleksi lego milik Lucas yang tepajang diatas lemari hingga beragam buku mewarnai ada disana.