Keesokan harinya. Pagi itu, Lara baru saja kembali ke dapur setelah membantu membereskan beberapa piring bekas sarapan ketika sang pelayan datang menghampirinya dengan wajah sedikit ragu. Perempuan itu menunduk sopan, lalu menyampaikan bahwa Niko memintanya datang ke ruang kerja sebelum lelaki itu benar-benar berangkat ke kantor. Mendengar nama Niko disebut, gerakan Lara yang sedang menyusun piring di rak langsung terhenti sesaat. Ada sesuatu yang berdenyut pelan di dadanya, bukan hanya gugup, melainkan juga takut pada kemungkinan bahwa pertemuan singkat itu akan kembali membuat hatinya runtuh tanpa bisa ia cegah. “Non, biar Mbok saja yang lanjutkan,” ucap Mbok Asih cepat, ia mengerti perubahan kecil di wajah Lara. “Tuan udah manggil, jangan dibuat menunggu. Tapi jalannya pelan-pelan,

