Langit Jakarta tampak muram sore itu, awan kelabu menggantung rendah seolah menyerap sisa-sisa panas dari medan operasi yang baru berlalu. Aroma logam dan bensin masih menempel di kulit Raka ketika kendaraan lapis baja itu berhenti di halaman rumah besar milik Jenderal Wiratmaja. Aruna turun lebih dulu, menatap sekilas ke arah Raka yang diam membisu. Tak ada kata. Tak ada senyum. Hanya sisa debu dan darah kering di lengan Raka yang menjadi saksi betapa tipisnya batas antara hidup dan mati tadi malam. Begitu mereka melangkah masuk ke ruang tengah, suasana langsung menegang. Jenderal Wiratmaja berdiri tegak di depan jendela besar, punggungnya membelakangi mereka. Seragam dinasnya masih rapi meski wajahnya tampak menahan murka. Di atas meja, laporan operasi sudah menunggu—kertas yang penu

