Aruna masih berdiri di teras. Hujan belum berhenti, malah makin deras, membasahi seluruh halaman. Di dalam rumah, lampu yang tadinya mati mendadak menyala lagi—tapi hanya sebagian. Cahaya remang membuat suasana terasa aneh, seperti rumah itu punya napas sendiri. Ia melangkah perlahan masuk ke ruang tamu. Lantai masih lembap, udara dingin menyusup dari celah jendela. Di meja, teh Raka sudah dingin, uapnya lenyap, tapi aroma melati masih tertinggal samar. “Raka?” panggilnya pelan. Tak ada jawaban. Aruna menatap ke arah koridor yang menuju kamar tamu. Sunyi. Hanya suara jam dinding berdetak, satu per satu, seperti menghitung waktu yang menuju sesuatu yang buruk. Ia melangkah perlahan, menyusuri koridor gelap itu. Di ujung, pintu kamar Raka sedikit terbuka. Aruna menelan ludah, lalu me

