Udara pagi di kompleks markas militer terasa berat. Embun belum kering di dedaunan, tapi ketegangan sudah menempel di udara seperti kabut yang enggan hilang. Aruna melangkah cepat, langkahnya berat tapi pasti. Jaket cokelat yang ia kenakan masih bau asap kayu dari desa tempat mereka bersembunyi seminggu terakhir. Semua terasa seperti mimpi—pelarian itu, malam di rumah kosong, napas Raka di bahunya, dan… ciuman itu. Ia bahkan masih bisa merasakan sisa panas di bibirnya tiap kali mengingatnya. Tapi bukan itu yang memenuhi pikirannya pagi ini. Sejak kembali ke markas, ada sesuatu yang mengganjal. Tatapan Raka dingin lagi. Ia kembali jadi ajudan yang kaku, yang bicara seperlunya, seolah semua yang terjadi di luar sana tak pernah ada. Aruna benci itu. Benci bagaimana pria itu bisa semudah it

