Malam itu hujan turun tanpa aba-aba, seperti langit pun ikut menahan napas bersama hati Aruna. Rumah besar sang kakek sudah sunyi, hanya suara tetesan air dari talang dan derit halus jam dinding yang terdengar. Aruna duduk di ruang kerja lamanya Kolonel Adibrata Prasetyo ruangan yang selama ini nyaris tak pernah ia jamah sejak kecelakaan itu. Aroma kayu tua bercampur debu dan sedikit wangi khas parfum ayahnya yang sudah lama menguap. Tapi entah kenapa, malam ini langkahnya menuntunnya ke ruangan itu lagi seolah ada sesuatu yang menunggunya di sana. Ia membuka laci meja ayahnya satu per satu. Ada foto lama keluarga, peta lipat, dan beberapa surat yang sudah menguning. Jantungnya berdebar aneh. Tangannya berhenti pada jas dinas berwarna hijau tua yang tergantung di balik pintu lemari. Ia

