Pagi itu terasa asing bagi Aruna. Udara dingin dari pendingin ruangan menyentuh kulitnya, tapi bukan itu yang membuat tubuhnya gemetar—melainkan kenyataan bahwa ia nyaris mati semalam. Bayangan peluru yang menembus kaca, suara ledakan di belakang mobil, dan percikan darah yang nyaris mengenai wajahnya masih menempel kuat di kepala. Raka duduk di kursi seberang tempat tidurnya. Tegap, berseragam lengkap, pistol masih di pinggang, seolah perang belum berakhir. Tatapannya tajam menembus ruang, seakan setiap bayangan di dinding bisa jadi ancaman. Ia belum tidur sejak malam itu, Aruna tahu. Tapi bukan itu yang membuat dadanya sesak—melainkan caranya Raka menatapnya sekarang, bukan lagi seperti ajudan yang menjaga… tapi seperti penjaga penjara. “Airmu habis.” Suara Raka datar, pelan, tapi me

