Mereka tiba di istana balgold tepat sebelum acara dimulai. Kelima rombongan itu segera memasuki hall tempat upacara pernikahan dilangsungkan. Wajah Irven tampak sendu, meski dia sudah berusaha menutupinya setengah mati. Bagaimanapun juga, sakit hati tetaplah rasa yang teramat sangat menyakitkan. Pun bagi seorang Irven. Edmund menepuk bahu kakaknya pelan. “Tegarlah, suatu saat nanti pasti kakak akan menemukan cinta baru, atau jika beruntung, kakak akan segera bertemu dengan mate mu?” Kata Edmund setengah menggoda. Saat seperti ini sangatlah langka baginya. Biasanya Irven adalah orang yang rapi, sempurna tanpa celah. Baru kali ini datang saat untuknya menggoda kakaknya itu. Irven tidak menggubris kata-kata Edmund matanya terus saja fokus melihat ke depan

