Ta bangun dengan kepala yang serasa lebih baik dari sebelumnya. Sedikit syukur yang bisa ia temukan dari Reda adalah wanita itu bersedia mengganti seprei dengan tangannya sendiri lalu menyemprotkan parfum aroma lain di sekeliling kamarnya. Sehingga kini, Ta merasa warasnya beralih pulih dengan udara Indonesia dan tanpa aroma vanila. Ta tadi langsung tidur setelah muntah, kini perutnya sudah dibatas kelaparan merindukan makanan. Turun tangga, Ta mau tak mau menyaksikan semua adegan memojokkan Abifata saat menekan mental Reda.
Kejam, pria tua itu. Tidak memberi kesempatan Reda untuk sedikit pun buka suara. Suara menggelegarnya kasar, juga kalimatnya tidak ada yang nyaman didengar. Abifata baru diam setelah menyadari kehadirannya. Ta santai saja meneruskan langkah untuk turun, lalu ada wanita lain yang muncul membawa Abifata pergi.
Reda menyeruak rambut hitamnya sambil menghela napas berat. Satu sampai lima belas detik, dua puluh kata umpatan ditelurkannya.
“Aku mau makan,” kata Ta. Berniat memberitahu Reda bahwa ia tak berminat mengagumi kefasihannya.
“Kau punya tangan, kau punya mata! Urus sendiri hidupmu, TB!” balas Reda meluapkan marahnya.
Ta tak menggubris. Ia berjalan ke meja makan yang ada pelayan di sekitar sana.
“Ada yang bisa dibantu, Tuan?”
“Aku lapar.”
“Anda ingin makan apa?”
“Yang ada saja.”
Pelayan itu mengeluarkan makanan lalu menyajikan di depan Ta. “Silakan.”
Ta makan dengan lahap. Baru sekarang makanan terasa nikmat di lidah dan perutnya. Namun, kenikmatan itu memudar setelah Reda ikut duduk di seberang kursinya. Ta tahu, ia akan jadi tempat wanita itu melampiaskan kesal kepada Abifata.
“Kulihat kau makan seperti kesetanan. Pasti kau sudah pulih,” sapa Reda sinis.
Ta mengangguk.
“Kita harus melakukannya malam ini, Ta.”
Ta tahu apa yang dibicarakannya. Sesuatu yang tadi ditugaskan Abifata untuk mereka. Namun, Ta tak siap harus bergumul dengan Reda. Bukan karena lelah atau kondisi kurang stamina, tapi ia tak mau saja melakukannya. “Aku menolak. Cari saja teman kencan yang lain.”
Reda menggebrak meja. “Kau pikir aku wanita macam apa, Ta?! Kau setuju menikah, harusnya kau juga sudah memikirkan hal seperti ini akan terjadi di antara kita! Mengapa Gazain bisa menyarankan kau yang bodoh begini untuk pernikahanku?!”
Pelayan muncul untuk membereskan sisa makanan Ta.
“Ambil minuman untukku! Yang memabukkan!” titah Reda.
“Baik.”
Dua botol disediakan. Dua gelas kosong pula sebagai temannya. Baru dua gelas kecil Reda meneguk minuman, wajahnya berubah memerah. “Khumaira ****.”
Ta mendengar caci makian untuk Khumaira. Entah siapa wanita malang itu yang sering sekali jadi pelampiasan Reda. Ta hanya ingat jika Khumaira menggunakan kain penutup wajah dan sudah pasti bertolak belakang hidupnya dengan Reda.
“Kau bisa mengemudi? Oh, tidak! Kau tidak mungkin bisa! Yang kau tahu hanya bernapas dan diam seperti buku-buku.” Reda bangkit, sempoyongan. “Pelayan!”
Ta mengamati saja Reda yang tak bisa diam oleh efek mabuknya. Saat pelayan wanita datang mendekat, Ta lebih dulu memutar meja untuk menahan tubuh Reda.
Reda menepis, tapi tak berdaya. “Kau tetap seperti dirimu saja. Jangan peduli kepadaku! Si*lan, aku menyedihkan!”
“Ada yang bisa dibantu, Nyonya?”
“Pelayan, antar aku ke klub biasa. Pesankan seorang pria untukku,” kata Reda. Reda mengambil botol lalu meneguknya langsung. “Aku tidak bisa mabuk dengan minuman remeh ini.”
Pelayan itu ragu-ragu melihat Ta. Ta juga berpikir ide Reda gila.
“Jangan takut kepadanya. Takut saja kepada Abifata. Kau membangkang, aku laporkan kau kepada ayahku!” ancam Reda teler.
“B---baik!”
Ta tidak ingin panjang urusan pelayan itu dengan Abifata karena Reda, lebih baik dirinya atau Reda saja yang terlibat dengan Abifata. “Siapkan mobil dan sopir saja. Ambil jaketku dan ponsel di kamar.”
Pelayan itu patuh kepada majikannya yang masih waras.
“Aku anak haram, Ta. Harus aku yang menuruti semua keinginan Abifata agar dia tidak mengganggu hidup Gazain.”
“Kau yakin bebas bagimu bicara begitu di sini?” ingat Ta melirik kiri kanan mereka.
“Kau tak melihat betapa cantiknya aku sebelum Abifata merusaknya jadi begini. Aku mirip Gazain, wajar kami kembar, tapi aku versi cantiknya. Aku rindu sekali wajahku yang dulu. Setiap bercermin, aku hanya bisa membenci kehilangan diri sendiri,” ujarnya sedih.
Ta yakin, Reda memang butuh tempat lain untuk mengeluarkan semua isi hatinya. Maka, Ta menggendong Reda lalu memasukkannya ke mobil.
Reda mengoceh lagi, “Abifata membenci ibu kami karena menyembunyikan kehamilannya. Abifata tidak menginginkan kami kecuali sebagai alat saja, begitu menurut Gazain.”
Akhirnya Ta ikut Reda dalam perjalanan menuju klub yang belum pernah Ta tempuh seumur hidupnya.
“Aku benci Abifata!” ujar Reda seperti jijik. “Dia gila!”
Ta bisa berkesimpulan yang sama tentang Abifata, juga Reda itu sendiri. Ayah dan anak yang gila.
“Abifata menyuruhku memata-matai Khumaira. Dia memintaku untuk menjadi gadis lugu dan bodoh yang membuat Khumaira sakit kepala. Lalu, setelah Khumaira menduduki kursi pewarisnya, aku punya kesempatan tampil di acara pameran permata Internasional. Desainku diakui Khumaira, tapi Abifata tua bangka itu malah tak mendukung bakatku. Dia marah kepadaku karena Khumaira sukses dengan acara itu! Padahal dia sendiri tidak mendukungku untuk mengacaukan kesuksesan Khumaira atau memberiku jalan untuk sukses seperti Khumaira!”
Mobil berhenti di tempat asing. “Kita sudah sampai?” tanya Ta polos.
“Ayo! Pria udik, kukenalkan kau pada dunia menyenangkan ini!” ajak Reda hendak turun sendiri, tapi malah jatuh dan mengumpat lagi.
Akhirnya Ta menemani Reda hingga sungguh-sungguh mabuk. Liar Reda tertawa-tawa sambil menikmati lantai tari. Ta ke mana-mana menjaganya. Terlalu banyak pria mencuri kesempatan di sana. Jangan sampai Reda jadi sasaran juga. Sudah menyedihkan dihardik ayahnya, jangan sampai dia menyesal setelah bangun nanti.
Mendadak Reda menjauh, Ta ikut segera. Reda berhenti di lorong yang suara musik kecil teredam di sana. “Oh, tidak! Aku sudah diperdaya tua bangka itu. Ta, kita terjebak!” pekiknya panik.
“Aku berencana pulang saja,” keluh Ta lelah.
Reda tiba-tiba saja merosot duduk, menangis pilu, “Maafkan aku, Ta. Kurasa Gazain benar. Kau yang paling tepat untuk pernikahan ini. Aku coba berpikir seperti Gazain. Aku pikir alasan Abifata menerimamu pastilah karena profilmu yang rendah. Kau tidak menarik dan tidak punya sisi bagus sedikit pun!”
Ta tidak peduli akan hinaan itu. Inginnya pergi dari sini, itu saja.
“Kau dibuat menderita dengan perjalanan bulan madu itu, dan Abifata pasti sengaja mempertemukan aku dengan Arthur di sana!”
Arthur? Ta hanya akan menyimpan saja nama itu sementara.
“Ya Tuhan! Aku baru memikirkan itu. Kurasa Abifata berniat aku hamil dengan Arthur, tapi menjadikan kau sebagai ayah sah anakku. Abifata licik itu. Dia pasti ingin silsilah Bakrie seperti ibunya Khumaira. Tidak mungkin Abifata mau pewaris Abinaya selanjutnya keturunan ... Kahiyang! Namamu Kahiyang? Aneh sekali. Nama yang tidak ada dalam daftar orang-orang penting.”
Ta menarik napas panjang mendengar semua ocehan racau Reda. “Ayo, pulang!”
“Aku yakin. Demi Tuhan! Aku yakin sekali.” Reda menepis Ta saat pria itu ingin membawanya pergi. “Abifata sengaja membuatmu mabuk dengan aroma vanila sehingga ... bagaimana pun akhirnya aku akan tetap berselingkuh dengan Arthur bukan tidur denganmu!”
Reda terenyak sendiri sambil mengusap lengannya. “Aku merinding! Aku merinding!”
Ta juga merinding. Bagaimana bisa ada orang tua segila itu kepada putri kandungnya sendiri. “Kau sudah mabuk. Kita pulang!”
Reda yang terpukul oleh spekulasinya sendiri, mual hingga akhirnya muntah mengenai jaket Ta. Ta malas sekali untuk terbawa emosi, melepas saja jaketnya kemudian membawan pulang Reda yang tampak menyedihkan. Sepanjang jalan itu Reda menangis dalam mabuknya. Ta pun sedikit tak ikhlas membiarkan Reda bersandar ke dadanya. Anggap saja balas budi karena Reda tak meninggalkan Ta di negara asing kemarin.
“Aku benci Abifata. Aku benci dia!”
Reda menggila. Dia mencakar wajahnya sendiri. “Aku anak setan!”
“Aku tak suka Khumaira. Aku ingin kehidupannya. Mengapa manusia seperti dia tidak bisa dibenci bahkan olehku?!” tanyanya pelan, kelelahan. “Mengapa aku bukan Khumaira Abinaya?!”
***
Reda pernah merasakan sensasi pusing ini. Tetapi, kali ini lebih parah daripada kapan pun yang pernah dialaminya seumur hidup. Reda mengerejap hati-hati. Silau siang menyapa.
"Sudah bangun?!"
Reda terkejut mengenali suara itu. Susah payah ia duduk sambil memegang kepalanya dan selimut, "Ayah, ada apa ---"
"Kau menghabiskan malam dengannya?!" tanya Abifata dingin.
Reda berkerut kening. Matanya belum sempurna fokus oleh efek mabuk semalam. Ia kemudian menemukan Ta tidur di sebelah, yang ditunjuk Abifata. "Mengapa kau menghabiskan malam dengannya?!"
Tanya tajam sang ayah membuat Reda sadar kondisi dirinya sendiri. Reda menunduk, tak ada sehelai benang pun yang menyangkut di badannya, selain selimut yang dibagi kepada Ta.