2 - Puncak

1357 Words

Reda sibuk dengan kegiatan paginya. Dapur, telur dan penggorengan. Ada rasa senang diam-diam menyusup dalam kegiatan yang terlampau lama tak dilakukannya itu. Sebelum bersama Abifata, Reda dan Gazain pernah juga tinggal bersama, hidup seperti keluarga selama bulan pertemuan kembali mereka. Kini, Reda sampai bersenandung mengenang momen mirip begitu ketika semua hal terasa baik-baik saja. Reda punya tempat berteduh, aman dan tanpa rasa waswas. Tidak ada hal yang perlu ditakutkannya. Inilah kebebasan yang Gazain sering elukan untuk Reda. Reda tersenyum, akhirnya menyajikan telur di piring makanan sesuai dengan yang Ta minta. “Kau mau pakai kecap atau sambal?” “Kecap, asin.” Reda mengerjap. “Asin?” Ta tak menyebut dua kali. Bangkit tubuhnya sesaat lalu membuka laci, tetapi benda yang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD