Ta menemukan Reda sedang memeluk Memu di atap. Seperti sebelumnya, Reda bermandikan udara malam dengan selimut saja penghalang dingin angin. Setelah apa yang terjadi di meja makan tadi, Reda jadi pendiam dan lebih banyak menghindarinya. Namun, Ta tak akan membiarkan berlarut begitu. Waktu mereka terbatas, kesempatan ini bagi Ta lebih berharga daripada emas. Hampir dua menit setelah Ta berdiri di samping Reda, wanita itu tetap bungkam mulutnya tak menyapa. Entah merajuk atau apa, Ta tak tahu sebabnya. Ta melawan embusan angin dengan helaan napas. “Kau menghindariku. Kenapa?” Reda membenamkan wajah pada Memu. “Kau yang kenapa, Ta? Kau seolah ingin mencegahku. Apa alasanmu?” “Kau terlalu berharga untuk bersama Arthur,” ungkapnya jujur. Reda terenyuh. Sampai-sampai ia mendongak karena

