"Aku ketok pintu dulu nggak ya? Tuhan, semoga hal buruk tidak terjadi di dalam sana," ucap Lana bermonolog pada dirinya.
Sementara di dalam ruangannya, Artos kembali bertengkar dengan Deon. Keponakan yang sangat dibencinya itu sudah mengirimkan anak bbuah untuk mengikuti kemanapun Artos pergi. Dan ketika Deon mendapatkan informasi jika Artos mencari wanita bayaran, dengan murka Deon menghampiri Artos di kantonya.
"Dasar laki-laki brengs*k!," teriak Deon.
"Jaga ucapanmu bocah tengil," ucap Artos keras seraya menunjuk ke arah pintu.
"Aku tidak akan membiarkanmu terus-terusan menyakiti Lana."
"Kubilang pergi ya pergi."
"Kamu yang memancing keributan karena tidak bisa mendengarkanku. Ingat aku akan terus menasehati hingga kamu sadar jika karna akan menghampiri. Nanti ataupun suatu hari."
"Cukup!," bentak Artos.
"Ingat karna menantimu, dia akan datang menghampirimu. Bahkan bisa jadi ketika kamu telah kehilangan semuanya. Ingat jangan pernah sia-siakan Lana," ucap Deon seraya berlalu meninggalkan Artos.
Rasanya bicara kepada manequin bernyawa tidak akan berakhir seperti pada umumnya.
Ketika Deon membuka pintu, Lana merasa tubuhnya tidak seimbang. Hampir saja wanita itu melayang ke udara dan terhempas ke tempat yang tidak semestinya. Namun lengan kekar segera menahannya.
"Lana?," tanya Deon dengan heran.
"Maaf, Terima kasih Deon," ucap Lana gugup.
Wanita itu memutuskan untuk pergi. Dia tidak mau menjadi pelampiasan Artos karena kemarahan Deon. Jika Deon saja bisa dibentak apalagi Lana. Wanita itu pasti akan merasa hatinya lebih sakit jika menemui Artos.
"Lana tunggu!," teriak Deon seraya mengejar Lana.
Semakin Lana menahan air matanya agar tidak luruh, semakin air mata itu ingin keluar. Bergegas wanita itu memasuki mobilnya. Setelah berhasil mendudukan pantatnya di balik kemudi, Lana segera meluapkan tangisnya. Membiarkan amarah meluruhkan segalanya.
"Lana buka please," di luar Deon tengah khawatir dengan keadaan Lana.
Laki-laki itu berusaha sebisa mungkin agar Lana membuka pintu mobilnya. Atau setidaknya biarkan dia membuka kacanya saja.
Hening, Lana tidak menanggapi ucapan Deon. Namun bukan Deon jika dia putus asa. Berkali-kali melakukan hal yang sama hingga akhirnya Lana luluh karena permintaannya.
Karena ucapan Deon terdengar tulus, Lana akhirnya membuka kaca mobilnya.
"Lana buka pintunya, biarkan aku masuk," ucap Deon lirih.
Lana mengabulkan permintaan Deon. Wanita itu membuka pintu mobil dan membiarkan Deon masuk ke dalamnya.
"Kamu keluar dari sini dan ikuti aku. Aku akan menunggumu di depan," ucap Deon lalu keluar lagi dan berjalan menuju mobilnya.
Lana tidak bisa berpikir jernih. Yang dia inginkan saat ini hanya ketenangan dan berbagi kesedihan. Ketika Artis seperti ini, hanya Deon yang Lana punya.
"Mungkin tidak ada salahnya berbagi dengan Deon," gumam Lana.
Istri sah Artos Demian segera melajukan mobilnya keluar kantor. Di sana sudah ada Deon yang menunggu di dalam mobilnya. Lana menghentikan mobilnya tepat di belakang Deon. Laki-laki itu mengerti maksud Lana. Segera Deon melajukan kendaraan darat yang ditumpangi untuk membawa Lana pergi jauh meninggalkan tempat yang baru saja dipijakinya. Soalnya, baru beberapa saat justru mendapat kenyataan yang membuat hatinya tersesat.
"Mau kemana?," Lana bicara pada dirinya sendiri.
Deon berniat mengajak Lana ke apartementnya karena dia berpikir Artos tidak akan mendatanginya. Menguntungkan lagi saat Deon sadar jika Artis bahkan tidak sudi melirik dirinya.
Lana ragu untuk mengikuti Deon ketika laki-laki itu memasuki basement sebuah apartemen. Namun berputar arah dan pergi sangat tidak mungkin karena Lana sudah terlanjur sampai di parkiran.
"Ikuti aku," perintah Deon saat laki-laki itu turun dari mobil dan mendapati Lana sudah menunggu di depannya.
Tanpa mengeluarkan suara, Lana mengikuti Deon hingga tiba di depan pintu. Deon membuka kamarnya lalu masuk ke dalam. Diikuti Lana yang sedikit bingung di belakangnya.
"Ayo masuk," ajak Deon.
"Hm, apartement siapa?."
"Milikku."
"Kenapa membawaku ke sini?."
"Nanti juga kamu tau. Tunggu di sini dulu, aku akan ke kamar mandi ganti baju," ucap Deon seraya menunjuk sofa di samping Lana.
"Jangan lama-lama," ucap Lana lirih.
"Iya."
Pemilik apartement itu segera menuju kamar tidurnya. Membuka lemari dan mencari kaos putih serta celana pendek. Setelah mengganti pakaian, Deon menuju kamar mandi untuk membasahi rambutnya.
"Aku memang tidak setampan Artos, tapi setidaknya aku tidak akan menyakiti Lana seperti Artos menyakitinya," Deon berbicara dengan pantulan dirinya di cermin.
Selesai bermonolog, Deon kembali menemui Lana yang masih setia mendaratkan pantai seksinya di sofa.
"Diminum," Deon menyerahkan minuman kaleng yang telah diambilnya dari mesin pendingin.
"Terima kasih."
Deon melihat wanita di sampingnya sudah lebih baik daripada beberapa saat lalu. Maka laki-laki itu akan memulai inti pembicaraannya.
"Apa kamu akan menceritakan semuanya kepadaku?."
"Bukankah harusnya aku yang bertanya seperti itu?," Lana bertanya dengan salah satu alis yang terangkat.
"Baiklah, aku atau kamu dulu. Kita bisa melakukannya dengan batu kertas gunting. Siapa yang menang, maka itulah yang lebih dulu bertanya.
"Deal," gumam Lana.
Deon dan Lana mengepalkan tangannya masing-masing bersiap untuk melakukan permainan ala taman kanak-kanak.
"Satu dua tigaa," ucap Deon dan Lana bersamaan.
Mendapat hasil yang memuaskan, Lana tanpa sadar berjoget ria melupakan sejenak apa yang mengganggu pikirannya.
"Yeee aku menang, aku menang. Berarti aku dulu yang tanya sama kamu."
"Aarrgghkkk sial," ucap Deon putus asa seraya mengacak rambutnya.
"Bolehkah aku bertanya tuan?," tanya Lana memastikan.
"Hm," jawab Deon malas.
Lana berhenti dari acara joget garingnya. Dia kembali ke keadaan semula dimana ingatannya berputar tentang kejadian tadi pagi di rumah dan di kantor Artos. Deon melihat raut wajah Lana yang berubah menjadi sendu segera menatapnya tajam. Deon tidak suka melihat Lana yang lemah.
"Kalau nangis aku nggak bakal cerita apapun," ancam Deon.
"Aku nggak nangis kok. Apa yang terjadi tadi pagi di rumah? Tadi malam Mas Artos pulang dalam keadaan mabuk, tapi dia sendiri tidak bersama wanita. Mas Artos masuk ke kamar pribadi yang sering digunakan bersama wanitanya."
"Dasar breng**k! Jadi dia masih membawa jalan* ke rumah?."
Lana mengangguk seraya menepuk bahu Deon untuk menenangkan agar amarah laki-laki itu mereda.
"Lalu?."
"Mas Artos langsung masuk ke kamarnya tanpa memperdulikan aku. Tanpa menganggap kehadiranku, bahkan seperti rumah itu hanya dia saja penghuninya tidak ada yang lain," jelas Lana.
"Apa yang sebenarnya kalian bicarakan hingga membuat keributan seperti tadi?," imbuhnya.
"Huufttt" Deon menghembuskan nafas kasar sebelum menjawab pertanyaan Lana.
"Aku dan dia berbicara tentangmu," jawab Deon.
"Tentang apa? Kenapa membahas ku?."
"Karena dia tidak pernah menghargaimu Lana. Bagaimana mungkin aku tega melihat wanita yang seharusnya bahagia selalu dibuat sengsara?."