Tiga Puluh Empat

1043 Words
Akhirnya waktu yang dinanti telah tiba. Setelah acara pembukaan kedai kopi yang akan dikembangkan oleh Ikfan dan Andre selesai, kini Rusdi, Hata, dan keluarga kecilnya langsung pergi menuju ke rumah Alysa yang berada di Bandung. Dengan Ikfan pergi menggunakan mobilnya sendiri, lalu disusul oleh mobil Hata dan Arkan di belakangnya. Selama diperjalanan, Ikfan tak henti-hentinya beristighfar. Selain untuk menetralkan rasa gugupnya, ia juga merasa cukup gelisah untuk melewati hari ini di rumah Alysa nanti. "Relaks Fan, relaks.." Ikfan menarik nafasnya dalam-dalam sebari memegang kemudi mobil. ▪▪▪▪▪▪ "Adek," panggil Raka seraya menghampiri Alysa yang tengah duduk di gazebo halaman belakang rumahnya. Alysa menoleh Raka, "iya a?" Raka tersenyum dan mengambil tempat duduk di sebelah Alysa. "Ikfan sama keluarganya lagi di jalan menuju ke sini. Kamu siap-siap gih, rapihin jilbabnya dan pakai cadarnya," titah Raka lembut sebari mengelus puncak kepala Alysa yang terbalut jilbab dengan penuh kasih sayang. Alysa tersenyum tipis menatap Raka. "Iya a," lirihnya. Raka mengercitkan keningnya menatap wajah Alysa yang terlihat sedikit sendu. "Adek kenapa?" Alysa mengurungkan niatnya yang hendak beranjak dari duduknya dan beralih menatap Raka heran, "kenapa? Kenapa maksudnya?" "Adek.. aa tahu kamu pasti lagi nyimpen sesuatu di hati kamu. Ada apa? Apa kamu gak senang dengan ta'aruf ini?" tanya Raka. "Aa ini ngomong apa, ngga ko a, adek justru senang dengan ini," jawab Alysa. Raka menatap Alysa penuh selidik. "Yakin?" Tanpa menjawab, Alysa malah langsung menghambur kepelukan Raka dan menenggelamkan wajahnya di d**a bidang lelaki itu. "Adek cuma sedih a," ucap Alysa nyaris tak terdengar. Raka membalas pelukan Alysa dengan lembut. "Jangan sedih, harusnya kamu senang. Bukankah ini yang kamu tunggu selama ini?" Alysa melerai pelukannya dan beralih menatap wajah kakaknya itu. "Iya sih.. tapi gak tau kenapa adek ngerasa belum siap ninggalin ibu, ayah, sama aa kalau iya nanti adek berjodoh dengan Ikfan," Raka tersenyum mendengar itu. "Adek.. dengerin aa ya, nikah itu bukan perkara siap tak siap. Tapi nikah itu adalah penyempurna agama dan melaksanakan sunnahnya Rasulullaah shallallahu 'alihi wa sallam," Alysa terdiam mendengar perkataan Raka. "Jangan merasa seperti itu, lagipula adek juga gak pisah selamanya sama ibu, ayah, dan aa. Sesudah menikah adek masih bisa ko ketemu ibu, ayah, dan aa." Raka menggenggam telapak tangan Alysa, "udah mending sekarang adek siap-siap, kalau kelamaan melow begini, ntar keburu Ikfan dateng lagi, udah sana siap-siap!" Alysa mengangguk. "Yaudah.. adek siap-siap dulu ya a," ucapnya seraya beranjak dari duduknya dan pergi menuju ke dalam rumah. Sementara itu setelah Alysa benar-benar pergi ke dalam rumah, Raka hanya bisa terdiam. Jujur, di balik wajah tenangnya, sebenarnya Raka juga merasa sedih. Namun baginya menunjukkan kesedihan saat ini di depan Alysa bukanlah hal yang tepat, ia tidak ingin membuat adiknya itu malah semakin bersedih. Semoga ini jalan yang terbaik dek. Batin Raka. ▪▪▪▪▪▪ "Bismillaah.. alhamdulillaah sekarang semua sudah pada berkumpul di sini, kecuali Alysa. Di sini saya sebagai ayahnya, saya sangat menghargai kedatangan pak Hata, pak Rusdi, dan yang lainnya," ucap Haris membuka obrolan proses ta'aruf. Benar, saat ini tepat di jam dua siang, keluarga Ikfan dan Alysa tengah berkumpul di ruang tamu di kediaman Alysa. Namun disaat semua sedang berkumpul, Haris lebih memilih agar Alysa tetap berdiam diri di dalam kamarnya. Selain untuk menundukkan pandangan, Haris juga sangat yakin jika ada Alysa di ruang tamu pun, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain duduk dan menunduk. Jadi Haris memutuskan acara ta'aruf itu dilakukan tanpa kehadiran Alysa di ruang tamu. "Ayo Fan, utarakan niatmu," kata Hata sarat memerintah pada Ikfan yang saat ini duduk di sampingnya. Sambil terus menetralkan degup jantungnya, Ikfan menarik nafasnya sejenak sebelum angkat bicara. "Ayo nak," ujar Rita lembut pada Ikfan. Rita seolah paham kegugupan yang saat ini sedang dirasakan oleh anaknya itu. Sedangkan Arkan dan Raka yang sejak tadi duduk bersebelahan, keduanya juga nampak menunggu Ikfan untuk angkat bicara. "Bismillaah," Ikfan kembali menarik nafasnya. "Begini om, saya.. sebenarnya kedatangan saya ke sini, saya ingin mengenal Alysa lebih dekat. Insyaa Allaah jika cocok, saya akan melanjutkannya dengan menikahi anak om.. Alysa," ucap Ikfan dengan mantap walaupun masih jelas terlihat raut gugup di wajahnya. Mendengar itu, semua yang ada di ruang tamu tersenyum. "Maa syaa Allaah, jujur saya cukup merasa bangga sama kamu Ikfan. Walaupun awal pertemuan kita itu sedikit agak lucu jika saya ingat-ingat, tapi saya tetap bangga sama kamu, karena tanpa banyak basa basi kamu akhirnya mengutarakan niatmu yang sebenarnya terhadap anak saya," ucap Haris. Ikfan tersenyum malu mendengar perkataan Haris. Ingatannya kembali pada kejadian pertama kali dimana ia berkunjung ke rumah Alysa dengan alasan berpamitan. "Saya sendiri juga merasa cukup kaget loh pak, karena Ikfan itu tiba-tiba meminta kepada kami ingin menikah. Padahal setahu saya, Ikfan ini sangat cuek terhadap perempuan," kata Hata. Haris tersenyum. "Saya dengar, Ikfan dan Alysa ini sudah saling mengenal sejak SMA. Jadi saya rasa itu hal yang wajar pak, mungkin keduanya telah lama sama-sama saling suka," candanya yang mengundang kekehan ringan dari semua yang ada di sana. Sementara Ikfan, saat itu ia hanya bisa tersenyum malu. "Iya juga," sambung Hata seraya tersenyum hangat. "Baik Fan, sebelumnya saya ingin bertanya beberapa hal kepada kamu," ucap Haris terlihat mulai serius. Melihat perubahan ekspresi Haris, semua yang ada di sana pun mulai terbawa suasana. Termasuk Ikfan yang kini mulai kembali gugup. "Iya om, silahkan," kata Ikfan. Rusdi yang sejak tadi duduk di sebelah Hata, ia terlihat serius memperhatikan cucunya itu. Dalam hati, ia harap-harap cemas karena melihat ekspresi cucunya yang kini terlihat gugup. "Begini," Haris menghela nafasnya. "Saya ingin bertanya kepada kamu tentang agama," Ikfan menatap Haris serius. Sejak dulu Ikfan memang sangat sensitif jika ditanya soal agama. Maka dari itu, saat ini ia merasa penasaran, apa yang akan ditanyakan oleh calon mertuanya ini padanya tentang agama? "Iya, silahkan," ucap Ikfan tanpa ragu. "Ini berkaitan dengan aqidah dan manhaj," kata Haris. Mendengar itu, Rita yang duduk di sebelah Nayla, ia melirik Hata dan Rusdi sejenak. "Allaah berada dimana?" tanya Haris to the point. Ikfan yang mendapat pertanyaan secara to the point itu, ia terkesiap untuk sesaat. "Ayo Fan jawab." Gemas Arkan dalam hati karena melihat Ikfan terdiam. Sedangkan Raka yang melihat semua itu, ia hanya bisa terdiam namun tetap menunggu jawaban Ikfan dengan seksama. Ikfan menghela nafasnya sebelum menjawab, "Allaah.. Allaah berada di atas Arsy. Di atas langit," jawabnya mantap. Haris tersenyum mendengar jawaban Ikfan. "Dalilnya?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD