Enam Belas

2932 Words
"Alysa, tolong siramin tanaman di halaman depan ya. Ibu lupa tadi pagi belum nyiram tanaman," titah Frida saat sedang bersama Alysa di dapur. Alysa tersenyum, "iya, bu." "Jangan lupa siramnya yang bener, itu tanaman kesayangan ibu loh." Alysa terkekeh kecil, "ih ibu, iya-iya. Nanti Alysa siram yang bener." Frida mengangguk sambil tersenyum dan masih mencuci beberapa piring. "Mm.. bagus." ▪▪▪▪▪▪ Di tempat lain, nampak Ikfan masih setia duduk di bangku yang berada di pinggir halaman masjid komplek. Ikfan masih berpikir keras apa yang akan ia lakukan sebelum kembali pulang ke Jakarta. Jujur, dalam hatinya ingin sekali ia menemui Alysa saat ini juga. "Sampai kapan gue kayak gini," gumamnya sambil duduk bersandar dan menatap langit yang nampak cerah. Line! Suara notifikasi dari line itu membuyarkan lamunan Ikfan, lantas ia pun mengambil ponselnya yang berada di saku jaketnya. Andre Fan, lo dimana? Si Aris udah pengen balik ke Jakarta nih. Katanya nunggu sejam terlalu lama. Membaca pesan itu, Ikfan membuang nafasnya berat. Ikfan Tungguin aja dulu, nanti gue kabarin lagi. Urusan gue di sini belum selesai. Andre Ailah! Urusan ape si lo Fan!! Ikfan Urusan negara. Andre Gue serius curut, ada urusan apa sih lo di Bandung? Lo juga lagi ada dimana sekarang? Ikfan Nanti gue kabarin lagi. Andre Lo tuh yah jadi orang napa sihh!!! Ikfan tidak membalas lagi pesan Andre, ia hanya membacanya saja. Namun ia beralih dengan membuka room chat-nya dengan Aris. Ikfan Bismillaah, Ris lo masih di villa 'kan sama anak-anak? Tanpa ragu, Ikfan memulai chat dengan Aris untuk negosiasi waktu kepulangannya ke Jakarta. Ikfan memang sudah biasa memulai chat dengan mengucapkan basmalah terlebih dahulu-bukan salam. Sebab mengucapkan kalimat basmalah sebelum memulai obrolan, chat atau surat menyurat, itu adalah sunnah. Mengikuti baginda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang senantiasa mengawali suratnya kepada para raja dengan menyebut nama Allah, misalkan surat beliau berikut ini : بسم الله الرحمن الرحيم من محمد رسول الله الى كسري عظيم فارس "Bismillahirahmaanirrahim dari Muhammad Rasulullah untuk pembesar Persia", dalam surat ini Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengawalinya dengan بسم الله الرحمن الرحيم , Imam Al-Qurthubi rahimahullah dalam kitabnya Al-jami' li Ahkamil Quran atau yang lebih dikenal dengan tafsir Al-Qurthubi, beliau berkata : اتفقوا على كتب بسم الله الرحمن الرحيم في أول الكتب والرسائل "Para ulama bersepakat, untuk menuliskan بسم الله الرحمن الرحيم diawal kitab dan surat-suratnya." Dan makna Basmalah adalah memohon pertolongan kepada Allah seraya bertawasul dengan seluruh nama dan sifat Allah. Itulah makna secara singkat dari kalimat Basmalah. Kemudian Syaikh Shalih Al-Fauzan Hafidzhahullah dalam kitab Syarh Tsalatsatil Ushul, beliau pun berkata : "Oleh karena itu orang yang tidak mengawali tulisan dan surat-suratnya dengan Basmalah mereka meninggalkan Sunnah Nabi dan tidak mengikuti gaya Al-Quran, dengan sebab itu bisa jadi tulisan dan surat mereka tidak mengandung keberkahan dan faidah." Penjelasan di atas tentunya memberikan faidah penting tentang keutamaan menulis Basmalah diawal surat atau risalah. Tak lama kemudian setelah Ikfan berhasil mengirim pesan kepada Aris melalu line, Aris pun membalasnya. Aris Iya Fan, gue masih di villa sama yang lain. Lo kemana sih? Lagi ngapain? Buruan, kita harus balik nih ke Jakarta. Ikfan Sorry, gue udah bikin lo nunggu. Tapi gue mohon sama lo, tunggu satu jam lagi. Gue masih ada perlu di Bandung. Aris Urusan apa, Fan? Apa lo lagi ada masalah? Ikfan Bukan, gue gak ada masalah. Tapi gue ada urusan sama temen gue di Bandung. Aris Jangan bilang lo lagi main di rumah temen lo?-_- Membaca pesan Aris itu, Ikfan menghela nafasnya berat. Ikfan Ngga, santai aja. Pokoknya tunggu sejam lagi ok. Tanpa menunggu balasan Aris lagi, segera Ikfan menutup dan menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku jaketnya. Ia tak mau banyak bicara tentang alasannya mengapa ia masih ingin berada di Bandung. Baginya, urusan tentang Alysa hanya akan menjadi rahasia dulu untuk saat ini. ▪▪▪▪▪▪ Siang hari dengan sinar matahari yang begitu terik, nampak Alysa tengah berdiri di teras depan rumahnya sambil menyiram tanaman—sesuai perintah ibunya tadi. Hingga, tanpa ia sadari ternyata sejak tadi sudah ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya dari jarak yang tidak begitu jauh. Tepatnya di depan pagar rumahnya. Ya, saat itu setelah berpikir keras akhirnya Ikfan memutuskan dan memberanikan diri untuk datang menemui Alysa. Entah apa alasan yang akan ia jawab nanti tatkala Alysa bertanya padanya mengapa ia ada datang ke rumahnya. Ikfan akan pikirkan itu nanti, yang penting saat ini adalah berani menemui Alysa terlebih dahulu. Hampir lima menit berlalu, Alysa masih asik menyiram tanaman dan tak menyadari kehadiran Ikfan yang berdiri di belakangnya—di depan pintu pagar rumahnya. Alysa berdiri membelakangi Ikfan, hingga suara deheman seseorang menyadarkannya akan sesuatu.. "Ehem," Ikfan berdehem kaku. Nampak ekspresi wajahnya pun mulai gugup dan tegang menjadi satu. Menyadari ada yang berdehem di belakangnya, lantas Alysa menolehnya ragu. Deg. Seketika jantung Alysa berdetak cepat tatkala melihat siapa yang kini ada di hadapannya. Sambil menatapnya tak percaya, memberanikan diri Alysa mulai bersuara, "Ik.. Ikfan?" Merasakan hal yang sama dengan Alysa—malu dan gugup—Ikfan berusaha tersenyum. "Iya, ini aku." Nampak sorok mata keterkejutan Alysa terlihat walaupun wajahnya tertutup oleh cadar. "Ko?" Mengetahui keterkejutan dan keheranan Alysa akan kehadirannya yang tiba-tiba, Ikfan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Mm.. gini... maksud kedatangan aku ke.. ke sini.. aku.. aku mau.. pa.. mitan," ucap Ikfan ragu. Tak bergeming, kini Alysa hanya diam mematung sambil menundukkan pandangannya dari Ikfan. Jangan ditanya soal detak jantungnya, sudah pasti jantung itu sedang berolah raga cepat. Di sisi lain, Ikfan sedang merutuki dirinya sendiri di dalam hati karena ucapannya tadi. Aduh, alasan yang konyol gak ya? Pamitan? Batin Ikfan malu. "Eh.. ada tamu rupanya. Ko gak disuruh masuk sih?" suara wanita paruh baya itu kini tiba-tiba menggema di antara Alysa dan Ikfan. Lantas Alysa dan Ikfan menolehnya. "Dek, itu ada tamu, ko dianggurin. Suruh masuk. Siapa tau penting," desis Frida pelan pada Alysa yang kini berdiri di sampingnya. "Sini nak, masuk," ujar Frida seraya membukakan pintu pagar rumahnya dan mempersilahkan Ikfan masuk. Merasa canggung, Ikfan pun tersenyum kaku. "Iya, tante." "Kamu siapa ya?" tanya Frida tatkala Ikfan sudah maju dua langkah memasuki halaman rumahnya. Sedangkan Alysa, saat itu ia masih setia berdiri di tempatnya tadi. "Mm.. saya.. saya Ikfan, tante. Temannya Alysa," jawab Ikfan sedikit ragu. Mendengar kalimat "temannya Alysa" lantas Frida menoleh ke arah Alysa sejenak yang berdiri di belakangnya. Frida merasa aneh, sejak kapan Alysa memiliki teman dekat lelaki sampai-sampai datang ke rumah seperti ini? Pasalnya dirinya memang tahu betul bahwa anaknya ini sangat membatasi bergaul dengan lawan jenis. "Temannya Alysa?" tanya Frida memastikan. Ikfan mengangguk, "iya, dari Jakarta." Seketika Frida membulatkan matanya sempurna tatkala mendengar bahwa Ikfan dari Jakarta. "Jakarta? Teman SMA?" tebak Frida. Sambil masih tersenyum kaku Ikfan mengangguk, "iya." "Maa Syaa Allaah, temen SMA-nya rupanya. Dek, kamu ini gimana, ada temen datang dari jauh ko malah di diemin, suruh masuk. Sini nak, masuk," ucap Frida yang awalnya mengomeli Alysa, kini beralih mempersilahkan Ikfan masuk ke dalam rumahnya. Seolah mengabaikan Alysa, Ikfan pun berjalan mengikuti Frida menuju ke dalam rumahnya—ruang tamu—sedangkan Alysa yang masih setia berdiri di tempatnya, kini ia sedang mengerjap-ngerjapkan matanya seolah tak percaya dengan apa yang saat ini sedang terjadi. "Adek, sini masuk," teriak Frida dari dalam rumah yang menyadarkan Alysa dari keterdiamannya dan beralih berjalan memasuki rumahnya. Ya Allaah, apa ini? ▪▪▪▪▪▪ "Jadi kamu temannya Alysa dari Jakarta?" tanya Haris yang kini sudah di ruang tamu bersama keluarga kecilnya dan Ikfan. Ikfan mengangguk, "iya, om." Jujur sebenarnya saat itu Ikfan tegang bukan main, tapi sebagai jiwa lelaki ia berusaha untuk tetap rileks di hadapan keluarga Alysa. Latihan berhadapan sama calon mertua. "Ko bisa sampai ke Bandung? Sedang liburan?" tanya Haris. "Bukan om, Saya bukan lagi liburan datang ke Bandung, tapi lagi ngejalanin tanggung jawab sebagai anggota BEM di kampus," jawab Ikfan tenang. "Anggota BEM?" Frida membeo. Ikfan kembali tersenyum, "iya tante, BEM kampus. Saya dari UI lagi sosialisasi tentang kampus ke salah satu SMA yang ada di Bandung." "Ohhh, jadi kamu anak UI?" Raka mulai bersuara. Ikfan mengangguk, "iya." Di sisi lain, sambil duduk di sebelah ibunya. Alysa nampak terus menundukkan pandangannya. Ia merasa sangat gugup dan malu. Tak disangka, sosok Ikfan saat ini bisa berkunjung ke rumahnya, bahkan mengobrol dengan keluarganya. "Terus apa maksud kedatangan kamu kesini? Ada perlu apa dengan anak saya?" tanya Haris terkesan tegas. Jujur sejak awal ia merasa ada sesuatu yang aneh di antara Ikfan dan Alysa. Melihat gelagat anaknya yang terlihat terus menundukkan pandangan, Haris merasa curiga. Mendapat pertanyaan seperti itu, jantung Ikfan mulai berdetak cepat. Bukan jatuh cinta, tapi tegang. "Mm.. itu, sebenarnya saya datang ke sini ingin berpamitan, om," jawab Ikfan yang berusaha setenang mungkin. Mendengar itu, Haris, Frida, Raka menatap Ikfan aneh. Sedangkan Alysa, ia sama sekali tak bergeming. "Pamitan?" "Iya om, beberapa waktu lalu saya tidak sengaja bertemu dengan Alysa disalah satu toko buku yang ada di Bandung dan saya sempat bertanya soal tempat tinggalnya. Jadi saya tahu dan datang kesini. Sekarang saya juga sekalian mampir saya mau berpamitan, om. Hari ini saya akan kembali ke Jakarta," jelas Ikfan panjang lebar. Mendengar itu, seketika Alysa menatap ke arah Ikfan. Namun sedetik kemudian ia kembali menundukan pandangannya. Dan tanpa Alysa sadari, bibirnya melengkung ke bawah. "Pulang lagi ke Jakarta? Ko cepat sekali, nak. Memang dari kapan kamu ada di Bandung?" tanya Frida lembut. Ikfan tersenyum, "dari dua hari yang lalu tante." "Ohiya, tadi kita sempet ketemu bukan?" tanya Raka tiba-tiba yang memang sejak tadi memperhatikan wajah Ikfan. Ia merasa wajah Ikfan tidak asing dimatanya. Merasa terciduk, Ikfan mulai gelagapan. Tapi sekuat mungkin, ia berusaha untuk tetap tenang. Tidak gugup, apalagi tegang. "Iya, tadi kita ketemu di tempat tukang bubur," jawab Ikfan. "Tukang bubur?" Haris membeo bingung. "Iya yah, tadi waktu Raka beli bubur, sempet ketemu sama Ikfan di sana. Ya 'kan Fan?" kali ini Raka nampak sudah tak kaku lagi dengan Ikfan. Ikfan kembali tersenyum, "iya." "Kamu makan bubur mang Edo?" tanya Frida pada Ikfan dengan raut wajah seolah tak percaya. "Iya," jawab Ikfan lagi walaupun ia tidak tahu bahwa tukang bubur itu bernama Edo. "Jadi... kamu udah sejak pagi ada di daerah komplek ini?" tanya Frida lagi penuh selidik. Deg. Kini detak jantung Ikfan semakin berdetak cepat. Bagaimana tidak, saat ini ia sudah tertangkap basah karena telah mengintai rumah Alysa sejak pagi tadi. Berusaha menormalkan ekspresi wajahnya, Ikfan mulai beralasan, "Mm.. sebenarnya tadi gak sengaja jalan-jalan pagi, keliling-keliling daerah Bandung gitu. Terus keinget sama tempat tinggal Alysa, yaudah jadi tadi sekalian mampir ke daerah komplek ini, terus gak sengaja lewat tukang bubur, ya jadi sarapan dulu aja sekalian di sana." Mendengar penuturan Ikfan demikian, Haris, Frida, Raka semakin menatap Ikfan aneh. Sedangkan Alysa, sambil menundukkan pandangannya, ia menggigit bibir bawahnya di balik cadar yang ia kenakan. Sebenernya Ikfan ini kenapa? Batin Alysa. "Niat sekali kamu datang ke komplek ini? Kenapa tidak langsung mampir saja ke rumah kami kalau gitu, 'kan bisa sarapan bersama nantinya," kata Haris. Ikfan tersenyum kaku. "Mm.. ngga om." Ikfan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, "gimana ya.." "Kamu itu harusnya jangan sungkan kalau mau mampir ke rumah kami, tidak akan kami usir juga ko," ujar Frida ramah. Ikfan tersenyum, "iya, tante. Maaf." "Kalau bukan tinggal untuk liburan kamu ke sini, terus sekarang kamu menginap dimana selama tinggal di Bandung?" tanya Haris penasaran. "Saya tinggal di villa om, yang ada di daerah Lembang." Mendengar kata "Lembang", Haris, Frida, Raka, dan Alysa menatap Ikfan tak percaya. "Lembang?" tanpa Alysa sadari ia mulai bersuara. Mendenger Alysa bersuara, Ikfan tersenyum, "iya." Menyadari apa yang baru ia lakukan, lantas Alysa kembali menundukan pandangannya. Ya Allaah, apa-apaan mulutku ini. Batin Alysa merutuki mulutnya sendiri. "Ya Allaah, nak. Jarak Lembang dengan rumah kami 'kan jauh, kamu gak salah?" tanya Frida tak percaya. Sambil tersenyum malu, Ikfan menjawab, "ngga tante, lagian habis dari sini Saya langsung dijemput sama temen dan langsung pulang ke Jakarta naik mobil." "Dijemput temen?" Raka terheran. "Iya." Tanpa diketahui oleh siapapun—kecuali Allah—dalam hatinya, entah mengapa Alysa merasa sedih tatkala tahu bahwa Ikfan akan segera kembali ke Jakarta. Perasaan apa ini? Karena merasa sudah cukup bertemu dengan Alysa dan keluarganya, Ikfan pun memutuskan untuk segera berpamitan. "Mm.. yaudah om, tante, bang. Saya mau pamit aja sekarang," kata Ikfan berpamitan sambil mengganti panggilan Raka dengan sebutan "bang", sebab sudah menjadi kebiasaan Ikfan memanggil panggilan seperti itu kepada lelaki yang lebih tua darinya. "Loh, langsung?" Haris terheran. Ikfan tersenyum, "iya, om." "Loh, nak. Kenapa gak minum dulu atuh." Frida menoleh Alysa yang sedang duduk di sampingnya. "Dek, ambilin minum dulu buat Ikfan, kasian dia. Jauh-jauh kesini cuma mau pamitan aja," desisnya memerintah tak enak pada Alysa. Tanpa menjawab, Alysa hanya mengangguk kemudian melangkah pergi menuju dapur mengambil air minum untuk Ikfan. "Ya ampun tante, gak usah padahal. Saya cuma sebentar ko. Gak usah repot-repot," ucap Ikfan tak enak. "Sstt.. sudah tidak apa-apa. Justru kami yang tidak enak, ada tamu malah langsung kami tanya-tanya, bukannya dijamu," timpa Haris ramah. Ikfan tersenyum, "gak papa, om. Saya ke sini juga 'kan tadinya ingin berpamitan saja, ya.. sekalian silaturahim juga." Silaturahim sama calon mertua ha ha ha. lanjut Ikfan dalam hati. Frida tersenyum, "ibu seneng loh ada temennya Alysa dari Jakarta. Jarang-jarang 'kan yah ada temen Alysa yang datang ke rumah," ucapnya kemudian sambil menatap suaminya—Haris. Haris tersenyum menanggapi ucapan istrinya, sedangkan Ikfan yang mendengar itu, keningnya mulai mengercit heran. "Jarang datang ke rumah?" Ikfan membeo bingung. "Iya, nak. Alysa itu jarang bawa temen ke rumah. Soalnya dia 'kan gak tinggal sini," jelas Frida yang mengerti kebingungan Ikfan. Mendengar ucapan Frida, Ikfan malah semakin bingung. Jadi Alysa tinggal dimana? "Ini, bu." Alysa kembali bergabung di ruang tamu sambil menyimpan gelas yang berisikan air putih di atas meja. "Maaf, cuma ada air putih. Stock tehnya habis ternyata," ucapnya lirih. "Iya nak, maaf ya di rumah kami gak ada apa-apa. Belum belanja soalnya," sambung Frida tak enak. Ikfan tersenyum tulus, "tidak apa-apa, tante." Line! Suara notifikasi line dari ponsel Ikfan berbunyi, dan mau tak mau ia harus mengambil ponselnya yang berada di saku jaketnya. "Sebentar om, tante, Ikfan ada pesan," ucap Ikfan tak enak tatkala hendak membalas pesan yang masuk melalui ponselnya. "Tidak masalah, balas saja," kata Haris sambil terduduk santai di depan Ikfan. Setelah itu Ikfan menatap ponselnya serius ketika membaca isi pesan yang masuk. Andre Fan, gak ada penolakan. Sekarang lo dimana? gue sama anak-anak jemput. Kita harus balik ke Jakarta sekarang juga. Ikfan Di perumahan komplek jalan natuna yang deket stasiun KA. Andre Oke, gue sama anak-anak otw ke sana. Lo jangan kemana-mana!! Ikfan Andre Sebetulnya Ikfan ingin tertawa melihat pesan terakhir yang Andre kirimkan, ia sudah membayangkan ekspresi wajah Andre saat ini. Pasti ia sedang kesal padanya karena sejak tadi pergi dan membuat yang lain harus menunggunya untuk kembali ke Jakarta. Namun, tertawa saat ini bukanlah waktu yang tepat. Mengingat saat ini ia sedang berada dimana. "Siapa nak yang menghubungi?" tanya Frida ketika melihat Ikfan kembali memasukan ponselnya ke dalam saku jaketnya. Ikfan tersenyum, "teman, tante. Mereka sedang ada diperjalanan menuju ke sini untuk menjemput saya." "Jadi benar dari sini kamu langsung kembali ke Jakarta?" tanya Haris seolah tak percaya. Ikfan mengangguk, "iya, om." "Di BEM kamu menjabat jadi apa?" tanya Raka. "Ketua divisi sosialisasi," jawab Ikfan. "Wah, ribet deh kayaknya." Ikfan tersenyum, "ya lumayan." "Di UI ngambil jurusan apa kamu?" tanya Haris. "Ilmu komusikasi, om," jawab Ikfan. "Jadi kamu di Jakarta tinggal bersama orangtua atau..." Frida berucap ragu. "Iya tante, bersama orang tua," jawab Ikfan mantap. Frida mengangguk paham, "Alysa itu dulu tinggal di Jakarta karena ikut lokasi pekerjaan ayahnya, setelah lokasi pekerjaan ayahnya pindah ke Bandung. Kami jadi ikut pindah juga ke Bandung. Kebetulan saat itu Alysa juga ke terima di ITB." "Kita 'kan memang aslinya juga orang Bandung, bu," sambung Raka. Frida tersenyum, "iya juga sih." "Ayah lihat-lihat ada temennya dateng, tapi yang dikunjunginya malah diam terus. Gak ada niatan untuk bertanya Alysa?" tanya Haris yang gemas melihat anak bungsunya itu tak bersuara sama sekali sejak tadi, dan mendengar ucapan ayahnya itu Alysa pun terkejut. "Hah?" Alysa membeo kaget dengan ekspresi mata yang sulit untuk diartikan. Frida tersenyum geli. "Ih ayah kayak yang gak tau aja anak kita gimana," timpa Frida cepat sambil tersenyum. Saat itu juga, lagi-lagi Alysa menundukkan pandangannya sebab semua yang ada diruang tamu melihat ke arahnya—termasuk Ikfan. "Maaf ya, Fan. Alysa emang gitu orangnya," kata Raka yang berniat menggoda adiknya. "Pemalu," bisiknya kemudian di telinga Ikfan, namun masih bisa terdengar oleh yang lain. Mendengar kakaknya berbicara demikian, lantas Alysa memanyunkan bibirnya di balik cadar yang ia kenakan. "Gak papa, bang. Saya mengerti ko." Ikfan tersenyum. "Sok atuh diminum air putihnya, atau mau ibu beliin cemilan juga?" tawar Frida. "Eh gak usah, tante. Ikfan minum aja, lagian sebentar lagi juga Ikfan pergi," jawab Ikfan cepat karena merasa tak enak—merepotkan. "Mm.. yaudah atuh, sok diminum," titah Frida lembut. Ikfan mengangguk lalu meminum setengah air putih digelasnya, "Bismillaah." Ikfan kembali menaruh gelas itu di meja. "Makasih om, tante." Haris dan Frida mengangguk sambil tersenyum. Walaupun Raka terlihat biasa saja saat melihat kedatangan Ikfan ke rumahnya, tapi di dalam hatinya ia merasa curiga. Sepertinya ada sesuatu yang Ikfan sembunyikan. Sebagai sesama lelaki Raka paham betul isi hati Ikfan dari gelagatnya. "Fan, gimana kalau kita ke teras sebentar," ucap Raka seketika yang membuat semua menatapnya aneh. "Te.. teras?" Ikfan membeo bingung. Raka mengangguk, "iya." Menatap Frida, Haris dan Alysa secara bergantian, lalu Ikfan beranjak dari duduknya. "Boleh." "Yah, bu, Raka ke teras sebentar ya sama Ikfan," izin Raka. "Emang mau ngapain kamu teh Raka?" Frida terheran. "Iya nih kamu, kayak yang udah kenal deket aja sama Ikfan," sambung Haris sambil terkekeh. Raka tersenyum, "Biarin dong yah, lagian Ikfan 'kan temennya Alysa, yang berarti temennya Raka juga dong," balas Raka santai. "Yuk, Fan," ajaknya kemudian yang melegang pergi ke teras rumah bersama Ikfan Melihat itu, Alysa memicingkan matanya menatap Raka. Ia tidak mengerti, apa yang akan dilakukan oleh kakaknya itu bersama Ikfan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD