Dipagi hari, di sebuah villa yang indah nan asri terlihat sosok lelaki berkaos hitam dengan celana sirwalnya tengah berdiri menghadap hamparan kebun teh yang indah. Villa yang sederhana itu bertempat sangat dekat dengan kebun-kebun yang hijau serta menyejukkan mata bila melihatnya.
Lembang.
Itulah nama daerah dimana villa itu berada. Bertempat di Lembang—Bandung—terdapat villa yang kini ditempati oleh beberapa mahasiswa laki-laki yang salah satunya adalah Ikfan. Ya, saat ini Ikfan sudah berada di Bandung dan kini ia tengah berdiri menghadap kebun teh untuk menghirup udara segar dipagi hari.
"Huh..." Ikfan membuang nafasnya. "Alhamdulillaah, sungguh indah ciptaan-Mu ya Rabb."
Allah Ta'ala berfirman:
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" (QS. Ar-Rahman 55: Ayat 30).
"Sudah sepantasnya umat manusia selalu mensyukuri atas segala nikmat-Mu," gumam Ikfan.
Syukur akan terus menambah nikmat dan membuat nikmat itu terus ada. Hakikat syukur adalah melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Ibnu Abid Dunya menyebutkan hadits dari ‘Abdullah bin Shalih, ia berkata bahwa telah menceritakan padanya Abu Zuhair Yahya bin ‘Athorid Al Qurosyiy, dari bapaknya, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لا يرزق الله عبدا الشكر فيحرمه الزيادة
“Allah tidak mengaruniakan syukur pada hamba dan sulit sekali ia mendapatkan tambahan nikmat setelah itu."
Karena Allah Ta’ala berfirman,
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Jika kalian mau bersyukur, maka Aku sungguh akan menambah nikmat bagi kalian.” (QS. Ibrahim: 7) (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 4: 124).
Al Hasan Al Bashri berkata,
“Sesungguhnya Allah memberi nikmat kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Jika seseorang tidak mensyukurinya, maka nikmat tersebut berbalik jadi siksa.”
Ibnul Qayyim berkata,
“Oleh karenanya orang yang bersyukur disebut hafizh (orang yang menjaga nikmat). Karena ia benar-benar nikmat itu terus ada dan menjaganya tidak sampai hilang.” (‘Iddatush Shobirin, hal. 148).
Dalam hadits disebutkan,
وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ
“Sesungguhnya seseorang terhalang mendapatkan rezeki karena dosa yang ia perbuat.” (HR. Ibnu Majah no. 4022. Hadits ini adalah hadits dho’if kata Syaikh Al Albani).
"Fan," suara Andre tiba-tiba terdengar ketika Ikfan tengah menikmati indahnya alam.
"Lagi ngapain lo di sini?" tanya Andre yang kini berdiri di samping Ikfan.
"Nafas," jawab Ikfan sekenanya.
"Yaelah Fan, gua juga tau lo lagi nafas."
"Kalau tau, terus ngapain lo nanya?" tanya Ikfan jengah.
"Santai kali Fan, sensi amat lo jadi cowo. Kayak cewe aje." Jawab Andre sebari terkekeh.
Mendengar itu, Ikfan tak bergeming. Dirinya lebih memilih fokus untuk menikmati alam daripada mendengarkan celotehan temannya yang aneh itu.
"Jam sepuluh nanti kita cabut," ucap Andre terdengar serius.
"Hmm." Ikfan hanya bergumam menanggapinya.
"Tapi sebelum itu kita main dulu yuk, mumpung masih jam tujuh pagi nih." Ajak Andre tiba-tiba.
Ikfan menatap Andre aneh. "Main? Kemana?"
"PVJ, Paris Van Java yang ada di kota kembang ini. Nanti habis dari PVJ kita langsung caw buat seminar, lagian deket ko SMA itu sama PVJ. Biar sekalian aja gitu," seloroh Andre sambil menaik turunkan alisnya.
"Males ah." Tolak Ikfan.
"Ah lo mah Fan, ayo, rame tau gak!" decak Andre sambil menepuk punggung Ikfan—cukup keras.
Ikfan pun nampak bersungut kesal kepada Andre yang seenaknya menepuk punggungnya. "Apaan si lo! Sakit tau gak!"
"Udah ayo, kita ke PVJ," ajak Andre lagi tanpa mempedulikan Ikfan yang sedang meringis akibat ulahnya.
"Pergi aja lo sama si Dicky, gak usah ajak-ajak gue." Tolak Ikfan ketus.
"Gue maunya sama lo," pinta Andre so memelas.
"Idih, dasar jomblo!" Ejek Ikfan seraya pergi meninggalkan Andre begitu saja dan beralih masuk ke dalam villa.
"s****n lo Fan, lo malah ngejek gue. Nyadar woy, lo juga jomblo." Teriak Andre tak terima yang melihat Ikfan meninggalkannya, sementara Ikfan tak menghiraukannya, ia hanya bisa tersenyum penuh kemenangan.
So tau lo Dre, siapa tau gue ke Bandung, malah ketemu jodoh gue.
▪▪▪▪▪▪
"Udah siap, dek?" tanya Nesha pada Alysa yang tengah bercermin.
"Bentar lagi teh, ini lagi ngiket tali niqob-nya," jawab Alysa.
Saat itu mereka berencana untuk pergi membeli bahan makanan ke supermarket, mungkin alih-alih sambil pergi ke mall juga untuk belanja.
"Jangan lama-lama ya di luar rumahnya," ucap Hanifah memperingati.
"Iya teh." Alysa yang nampak sudah siap.
"Yaudah, kita pamit ya Nif," pamit Nesha sebelum pergi bersama Alysa. "Yang lain belum pada pulang, 'kan?"
"Belum. Tia, Rida, Resa lagi di kampus, mereka ada kelas. Caca sama Rani lagi ke kajian yang di Cisitu." Jawab Hanifah.
"Berarti teteh sendirian ya di wisma?" tanya Alysa.
"Iya, sama siapa lagi. Makannya habis belanja makanan plus beli gamisnya, kalian langsung pulang ya," jawab Hanifah sambil berwajah cemberut.
Melihat itu, Nesha dan Alysa tersenyum.
"Iya Nif, kita bakalan langsung pulang ko," ujar Nesha. "Yaudah, kita pergi dulu ya. Assalamu'alaikum." Pamitnya kemudian yang diikuti Alysa.
"Wa'alaikumussalam."
▪▪▪▪▪▪
"Mau beli apaan sih lo Dre?" tanya Ikfan untuk ke sekian kalinya. Saat ini waktu sudah menunjukan pukul 08.15 WIB dan ia kini sudah berada di PVJ sesuai permintaan Andre tadi. Walaupun bersungut kesal, Ikfan tetap memenuhi keinginan Andre.
"Gue bingung, di sini banyak makanan enak soalnya." Jawab Andre sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Parah lo, jauh-jauh dari Lembang ke PVJ, lo nya malah bingung mulu setiap mau beli sesuatu." Gerutu Ikfan.
Tak menjawab, Andre hanya tersenyum nyengir sebagai jawaban.
Karena merasa lelah, akhirnya Ikfan memutuskan untuk duduk di bangku yang tersedia di sebelah stand cuanki. Ada yang tahu apa itu cuanki?
Itu sejenis makanan temannya bakso, hehe.
"Gue beli cuanki aja ya." Kata Andre seketika.
"Serah lo." Ikfan kini sedang duduk dan mulai sibuk dengan ponselnya.
Saat itu juga Andre pun beranjak pergi ke stand cuanki untuk memesan makanan yang akan ia santap bersama dengan Ikfan nanti.
▪▪▪▪▪▪
"Dek, jajan dulu yuk!" Ajak Nesha disaat masih berada di mall—setelah usai membeli gamis dan bahan persediaan makanan untuk di wisma.
"Tapi teh Hanif kasian nungguin di wisma." Alysa ragu.
"Insyaa Allaah gak papa, teteh laper soalnya. Lagian di wisma gak ada persediaan makanan juga, bahkan kita beli persediaan makanan ini harus cukup untuk bersama selama beberapa hari ke depan. Jadi untuk makan siang sekarang kita beli dulu di sini yang siap saji, terus bawa deh ke wisma untuk makan siang. Kita makan bareng-bareng," ujar Nesha panjang lebar.
Sesaat terdiam, akhirnya Alysa menyetujui saran Nesha. "Yaudah, ayo."
Mendapat persetujuan Alysa, Nesha pun tersenyum di balik cadarnya. Saat itu Nesha memakai gamis berwarna hitam dengan jilbab syar'i berwarna abu dan cadarnya yang berwarna hitam. Sedangkan Alysa, saat itu ia memakai gamis berwarna hitam dengan jilbab syar'i berwarna merah maroon dan cadarnya yang berwarna hitam pula—sama seperti Nesha.
"Beli apa ya?" tanya Nesha saat mengitari mall bersama Alysa.
"Itu ada cuanki teh, beli itu aja yuk." Saran Alysa bersemangat.
Nesha pun mengikuti arah mata Alysa yang mengarah kepada stand cuanki.
"Eumm... boleh, enak tuh, menjelang siang gini makan cuanki," ucap Nesha senang.
Dengan langkah yang pasti, Nesha dan Alysa pun berjalan menuju stand cuanki tersebut.
"Pak, mau pesen cuankinya tiga porsi." Pesan Nesha saat berdiri tepat di depan stand cuanki.
"Ohiya, sebentar ya," ucap tukang cuanki ramah.
"Dek, kamu duduk aja. Tungguinnya sambil duduk, biar pesenannya sama teh Nesha aja." bisik Nesha pada Alysa yang berdiri di sampingnya.
Seketika mata Alysa terarah kepada bangku yang ada di belakang stand cuanki—tempat makan cuankinya cukup luas dan besar.
"Gak papa, teh?" Alysa ragu.
Nesha tersenyum di balik cadarnya, "iya gak papa."
"Yaudah, Alysa tunggu di sana ya teh." ujar Alysa.
"Iya."
Tanpa sepengetahuan Nesha dan Alysa, saat itu terdapat sepasang mata yang terus tertuju pada keduanya. Ya, orang itu adalah Andre. Saat itu dalam diamnya, Andre memperhatikan kedua sosok gadis bercadar yang ada dijarak yang tak jauh dengannya—ingat Andre saat itu masih memesan cuanki pesanannya dan Ikfan.
Sambil berjalan dengan kepala yang sedikit menunduk, akhirnya Alysa berhasil duduk disalah satu bangku dimana itu adalah meja tempat makan cuanki. Karena merasa canggung seorang diri, untuk mengalihkan kebosanannya, Alysa mulai membuka ponselnya dan membuka aplikasi whatsappnya.
Hanifah
Bismillaah, kapan kamu pulang dek?
Terdapat pesan teratas di room w******p Alysa yang tertera nama Hanifah. Lantas ia mulai membuka room chat tersebut.
Alysa
Sebentar lagi teh, ini lagi mesen makanan untuk makan siang dulu. Teteh juga dibeliin ko, tenang aja.
Semenit kemudian, Hanifah membalas pesan Alysa.
Hanifah
Wii.. maasyaa Allaah, jazaakumallahu khayran sayang.
Alysa
Wa jazaakillahu khayraa.
Setelah sibuk chatting dengan Hanifah, Alysa kembali mematikan ponselnya dan beralih melihat ke sekitar lingkungannya. Bahkan sesekali ia melihat ke arah Nesha yang masih berdiri di depan stand cuanki—memesan makanan. Beberapa menit setelah sibuk melihat di sekitarnya, tiba-tiba mata Alysa mulai tertuju ke arah sosok lelaki yang berdada bidang dan tengah duduk dari jarak yang tak terlalu jauh darinya. Lelaki itu memakai jaket berwarna hijau tua dengan celana sirwalnya yang berwarna hitam. Tak lupa lelaki itu juga terlihat tengah sibuk dengan ponselnya.
Sambil memicingkan kedua matanya, Alysa terus menatap sosok lelaki itu dari jarak jauh. Ia merasa tidak asing dengan lelaki itu. Lalu setelah lama memperhatikan, seketika jantung Alysa mulai berdetak cepat saat menyadari siapa lelaki yang ada di hadapannya.
Ya Allaah, dia... benarkah?
"Ik.. Ikfan," lirih Alysa kemudian sambil menutup mulutnya yang di baluti kain cadar—ia merasa tak percaya dengan apa yang sedang ia lihat sekarang.