Di sebuah rumah yang sederhana namun tetap terlihat indah, berkumpul beberapa wanita cantik yang tengah asik mengobrol ria di ruang utama—ruang tamu—mereka terlihat sangat akrab, bahkan sangat dekat layaknya dengan keluarga sendiri. Padahal mereka bukanlah keluarga, melainkan sahabat-sahabat seperjuangan dimasa kuliah.
Wisma Khalisah Akhawat.
Itulah nama sebuah rumah yang sederhana nan indah yang mereka tempati. Wisma itu ditempati oleh sekitar delapan orang wanita cantik dan shalihah yang semuanya alhamdulillaah sudah memakai cadar. Wisma ini terletak di kota Bandung. Di daerah dekat Universitas ternama yang banyak digencari oleh kebanyakkan orang. Lokasi wisma ini tepat di jalan Siliwangi, Bandung. Wisma sendiri adalah sebuah rumah kontrakkan yang sengaja disewa oleh ke delapan wanita shalihah tersebut untuk menetap bersama.
Wisma itu bukan hanya sekedar rumah biasa atau kosan mahasiswa pada umumnya, melainkan wisma itu adalah sebuah tempat tinggal dimana sering dilakukannya kajian sunnah khusus akhwat di sana. Walaupun tidak begitu besar, tapi rumah ini cukup bisa menampung beberapa orang akhwat yang ingin menuntut ilmu agama yang haq.
"Dek, kamu masak apa hari ini?" tanya Hanifah.
"Masak ayam goreng teh, hehe," jawab Alysa sebari tersenyum dan sedang memasak ayam goreng.
Benar, gadis yang tengah memasak itu adalah Alysa Nazila Rahma. Gadis yang beberapa tahun lalu tinggal di Jakarta dan kini ia sudah kembali ke daerah asalnya—Bandung. Ditahun yang sudah berganti dengan begitu cepat, tidak terasa kini Alysa sudah duduk di bangku kuliah, ia sudah memasuki semester 6. Setelah lulus dari SMA beberapa tahun lalu di Jakarta, alhamdulillaah karena kepintarannya dan atas izin Allaah tentunya. Alysa diterima di sebuah Universitas ternama di Bandung, Alysa diterima di jurusan Farmasi.
Dan karena hal itu juga, dirinya dan keluarganya harus meninggalkan kota Jakarta dan berpindah ke Bandung. Namun pada saat di Bandung Alysa tidak tinggal bersama dengan kedua orangtuanya, melainkan selama kuliah Alysa tinggal di wisma Khalisah Akhawat bersama sahabat-sahabat shalihahnya. Selain untuk memudahkannya dalam belajar agama, tujuan lain Alysa tinggal di wisma tersebut juga karena ia ingin belajar mandiri.
Hanifah, Rida, Tia, Rani, Caca, Nesha dan Resa-lah yang menjadi sahabat dekat Alysa saat duduk di bangku kuliah dan tinggal di wisma bersama-sama. Alysa sendiri adalah adik tingkat yang paling muda di antara semuanya. Sedangkan Nesha dan Hanifah adalah kakak tingkat yang paling tua saat itu.
"Wiii.. masak apa nih wangi banget," heboh Rida yang datang memasuki dapur dan mendapati aroma masakan yang enak.
"Masak ayam goreng teh," jawab Alysa yang masih sibuk dengan aktivitas memasaknya.
"Mantap dong." Hanifah mencuil sedikit ayam goreng yang sudah siap saji di piring.
Melihat itu Alysa hanya terkekeh pelan.
"Eh iya dek, katanya Nesha beberapa bulan lagi mau nikah loh," ucap Hanifah.
Mendengar itu, Alysa dan Rida terkejut. Hanifah memang biasa memanggil adik tingkatnya dengan sebutan "adek" atau "dedek". Begitu juga dengan adik tingkatnya, mereka biasa memanggil kakak tingkatnya dengan sebutan "teteh". Panggilan itu dibuat untuk saling menghormati dan menghargai terhadap sesama muslim, baik kepada adik atau kakak tingkatnya.
"Seriusan teh?" tanya Alysa dengan matanya yang berbinar.
"Iya dek, gak percaya?" tanya Hanifah balik.
"Bukan gak percaya, tapi gak nyangka aja gitu. Seneng ih maa syaa Allaah." Jawab Alysa yang terlihat sangat senang dan saat ini ia sudah selesai dengan aktivitas memasaknya.
"Wajar kali dek, teh Nesha sama teh Hanifah 'kan bentar lagi lulus. Jadi ngga aneh kalau mereka cepet nikahnya," Rida terkekeh geli melihat reaksi Alysa.
"Iya sih, tapi..." Alysa menggantung ucapannya dan dengan tiba-tiba ekspresi wajah yang berubah murung.
Melihat gelagat Alysa, senyum Hanifah dan Rida pun memudar, bahkan kekehan keduanya terhenti.
"Tapi apa, dek?" tanya Hanifah lembut.
"Tapi.. nanti wisma jadi sepi," jawab Alysa lirih.
Mendengar itu Hanifah dan Rida terdiam untuk sesaat.
"Gak akan sepi dek, insyaa Allaah walaupun nanti teteh sama teh Nesha udah nikah, kita bakalan sering main ke wisma ko," ujar Hanifah lembut.
"Emang teteh juga mau nikah dalam waktu dekat ini? Sama kayak teh Nesha?" tanya Rida dengan raut wajah sedikit terkejut.
"Ya ngga dalam waktu dekat ini juga sih, maksudnya ya kalau teteh udah nikah aja gitu," jawab Hanifah kalem.
Rida dan Alysa tak bergeming.
"Jangan sedih gitu ah dek, jelek mukanya, tuh liat." Goda Hanifah sambil mencubit gemas pipi mulus Alysa.
Alysa pun hanya bisa tersenyum tipis mendengar itu.
▪▪▪▪▪▪
Di tempat yang berbeda, yakni di kota Jakarta. Terdapat seorang lelaki yang tengah sibuk bergelut dengan beberapa buku di ruang belajar rumahnya. Lelaki yang berbadan tinggi dan berdada bidang itu nampak kebingungan dan terlihat lelah.
"Astaghfirullah." Lelaki itu beristigfar.
Sesekali lelaki itu juga menjambak rambutnya pelan karena saking pusingnya dengan semua tugas kuliah yang ada di depannya.
Tokk..tokk..tokk...
Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari luar ruangannya.
Ceklek..
Pintu terbuka, tanpa dibukakan dan dipersilahkan masuk oleh lelaki itu dari dalam nampak seorang wanita paruh baya berdiri di ambang pintu masuk sebari tersenyum kepada lelaki itu yang kini masih duduk di bangku belajarnya. Wanita paruh baya ini pun berjalan mendekatinya dan duduk di dekatnya dengan meraih kursi lain yang terdapat di ruangan tersebut.
"Anak bunda masih sibuk ya?" tanya Rita—bunda Ikfan.
Ya benar, lelaki dan wanita paruh baya itu adalah Ikfan dan bundanya—Rita. Saat itu Ikfan sedang sibuk-sibuknya dengan tugas kuliah—wajar semester 6.
"Iya bun." Jawab Ikfan seadanya.
Melihat kondisi Ikfan, Rita pun mengusap lembut rambut anaknya tersebut. "Kasian anak bunda."
Mendengar itu Ikfan hanya tersenyum.
Setelah lulus SMA, Ikfan diterima di sebuah Universitas negeri di Jakarta. Ikfan diterima di jurusan Ilmu Komunikasi.
"Fan, bunda boleh ngomong gak?" tanya Rita terdengar serius.
Ikfan menatap bundanya heran, "iya, bun. Boleh, mau ngomong apa?" tanya Ikfan balik dengan nada lembut dan saat itu juga ia berhenti dari aktivitas mengerjakan tugasnya—beralih untuk fokus bicara dengan bundanya.
"Apa kamu gak bermaksud untuk nyusulin Alysa dan mengejar dia lagi?" tanya Rita yang tiba-tiba membahas perempuan yang tak lain adalah Alysa.
Mendengar nama Alysa disebut, tanpa Rita ketahui hati Ikfan seketika berdenyut sakit.
Sejak kejadian dimana Ikfan ingin mengenal Alysa dan bicara dengan gadis itu, sejak saat itu juga Ikfan dan Alysa menjadi sangat menjaga jarak. Bukan Alysa yang membuat jarak itu, tapi Ikfan-lah yang membuatnya. Setelah mendapat kata tegas dari Alysa, Ikfan memutuskan untuk menjauhinya dan berusaha memantapkan hatinya terlebih dahulu sebelum bertindak. Bahkan sejak hari itu, Ikfan menjadi terkesan cuek dan acuh terhadap perempuan. Juga saat ia tahu bahwa Alysa pindah ke Bandung, Ikfan merasa sudah pasrah dengan nasibnya dan perasaannya terhadap gadis itu.
"Ngga bun," jawab Ikfan seadanya.
"Fan, bunda tau kamu masih menyimpan hati sama dia. Kejarlah nak, lagian umur kamu 'kan udah 21 tahun, udah wajar jika kamu ingin menikah," ujar Rita lembut. "Sejak kepindahan Alysa ke Bandung, bunda liat sikap acuh dan cuek kamu terhadap perempuan semakin menjadi. Bunda khawatir sayang."
Mendengar itu Ikfan tersenyum tipis, "insyaa Allaah bun, jika Ikfan dan Alysa berjodoh suatu saat juga pasti ada jalannya. Ikfan gak cuek atau acuh bun terhadap perempuan, Ikfan juga lelaki yang normal. Tapi saat ini Ikfan hanya sedang berusaha untuk menjaga diri Ikfan dari dasyatnya fitnah wanita."
"Bunda tau, tapi kalau kamu terus diem aja, gak usaha buat nyari Alysa ke Bandung, gimana bisa ada jalannya?" seloroh Rita yang memang sudah menyukai Alysa sejak diberitahu soal sosoknya oleh anaknya itu.
Ikfan menghela nafasnya. "Insyaa Allaah, biar Ikfan pikirkan ya bun."
Tanpa permisi Rita pun seketika tersenyum. "Menikah lebih cepat itu lebih baik nak, apalagi dizaman ini yang penuh dengan fitnah wanita. Seorang lelaki diharapkan dapat untuk segera menikah jika ia mampu."
Ikfan hanya bisa terdiam mendengar ucapan bundanya. Dirinya sendiri masih ragu apakah ia sudah mampu untuk menikah atau belum.
Apa kamu juga sedang merasakan yang aku rasakan, Alysa?