“Jadi, apakah secara teknis ini bisa disebut sebagai m********i?” “Mungkin.” “Pintu kamar sudah dikunci?” “Sudah.” “Haruskah aku menyalakan lampu?” “Ide bagus, meski sebenarnya aku agak merasa malu.” “Kenapa aku harus malu pada diriku sendiri?” Beragam jenis monolog di kepalaku terucap dari mulut dua orang berbeda. Rasanya aneh sekali. Lebih aneh ketika sakelar lampu dinyalakan, dan aku bisa melihat diriku sendiri dari dua sudut pandang berbeda. Kami berdiri saling berhadapan, terlihat polos setelah masing-masing menanggalkan seluruh pakaian. Rasanya seperti melihat cermin dengan pantulan berbeda dari bayangan. Pandangan mata kami saling memeriksa dan mengagumi. Dari kacamata Ardi, lekuk tubuhku terlihat seksi sekali. Pinggul perempuan jelas lebih lebar dari pada lelaki. Perut

