Wajah Rendi terlihat letih, menyiratkan lelah berkepanjangan. Entah apa yang terjadi padanya setelah membantu kukabur dari tempat ini. Di belakang pemuda itu, aku bisa melihat wajah penuh kekhawatiran dari kedua orang tuaku. Aku sempat menahan tawa kala melihat Rendi melengos begitu saja duduk di sampingku. Pemuda itu terlihat tak acuh padaku. Pandangannya lurus menatap pintu dari ruang tindakan. Dia mungkin mengira aku ada di sana. Kalau saja ibuku tidak memanggil nama Dian, tentu dia tak akan sadar siapa pemuda di sampingnya ini. “Hah? Bang Dian?” ucapnya tak percaya, kaget luar biasa. “Telat, b**o,” gerutuku dalam hati.Aku bahkan terlampau malas untuk mengukir ekspresi. “Salam kenal,” ucapku agak sarkastik. “A—aku gak tahu,” jawabnya kikuk. “Maaf, habisnya baru sekarang lagi aku lih

