"Jadi bagaimana?" tanya Dylan pada laki-laki yang sedang duduk di hadapannya. Saat ini Dylan sedang duduk di salah satu caffe di dekat rumah sakit bersama seorang laki-laki yang memiliki perawakan tidak sesempurna Dylan. Dia memiliki tubuh tinggi, dengan perawakan sedikit kurus, hidung pesek, dan mata tambahan. Dia adalah Wisnu, seoramg psikiater yang juga teman Dylan saat sekolah dulu. Tidak ada sepatah katapun keluar dari bibir Wisnu, dia hanya diam dan menatap lekat kedua bola mata temannya yang menurutnya baru kali ini dia melihat sorot mata Dylan seperti saat ini--penuh kebingungan dan kekhawatiran serta cinta kasih-- sesuatu yang tidak pernah dia lihat dari temannya yang satu ini. "Nu...," kata Dylan lagi yang tidak sabaran dengan jawaban yang akan di berikan oleh Wisnu ke

