“Ali Rahman?” Pria di hadapannya mengangguk. Hana mengedipkan matanya yang terasa berat. “T-tapi...” dia berpikir, rasa-rasanya pernah mendengar nama itu namun entah di mana. “Ikutlah denganku, Hana. Ali sudah lama ingin bertemu denganmu. Katanya, dia tidak akan tenang jika belum bertemu denganmu. Bahkan Ali menunda pengobatannya karena itu.” Kedua alis Hana hampir menyatu. Kernyitan di dahinya kian dalam. Saat ini Hana duduk di samping seorang pria yang mengaku sebagai rekan dekat Justin, namanya Adam Rahman. Pria itulah yang tadi mengejutkannya di koridor. Hana tentu saja langsung menolak ketika Adam, pria paruh baya yang sebagian rambutnya berwarna putih itu, mengajaknya untuk berbicara. Tapi dia menyinggung sebuah nama, nama yang pernah Justin sebutkan dan juga terdengar begitu fami

