Alessa menggeliat, kepalanya terasa berat. Ia ingat betul rencananya semalam, berpura-pura tidur agar bisa memata-matai Dominic, tapi rasa lelah dan aroma maskulin pria itu justru membuatnya terlelap nyenyak hingga pagi. Ia berbalik, ingin memaki dirinya sendiri karena kelalaian itu. Namun, napasnya tertahan di tenggorokan. Dominic terbaring di sampingnya, hanya mengenakan celana pendek hitam. Kemeja putihnya sudah entah ke mana. Tubuh pria itu terlihat seperti pahatan seni yang berbahaya. Namun, yang membuat napas Alessa tercekat bukan hanya otot d**a yang bidang itu, melainkan sesuatu yang sangat jelas menonjol di balik kain celananya. Ereksi pagi yang sangat nyata dan membuat Alessa mematung. Mata Alessa membelalak. Ia terpaku, otaknya mendadak buntu saat melihat betapa besar d

