Ratih pov
Hari ini aku menjalani rutinitasku seperti biasanya, yah apalagi kalo bukan pergi sekolah dan mengurus adik-adik yang ada di panti. Jujur aku bersyukur banget bisa tinggal di panti ini, rasanya aku menemukan sebuah keluarga sendiri .
Ratih.
Itu namaku, lebih sering di panggil cewek bisu di sekolah.
Nama yang terdengar biasa di telinga tapi sangat berarti untuk gadis bisu sepertiku ini. Sejak kecil aku tidak pernah merasakan kasih sayang dari orang tuaku, hanya ibu pengasuh di panti yang merawatku. Aku gak pernah tau seperti apa rupa orangtuaku, sejak kecil aku sudah di buang. Kadang aku bertanya sendiri, apa salahku ya?
Rambut panjang sepunggung, kulit putih pucat serta tinggi badan yang minimalis, itulah aku. Ratih.
Aku hanya seorang gadis berumur tujuh tahun belas tahun yang sangat biasa baik dalam berpakaian atau pun dalam hal cinta, tak ada yang istimewa.
Dengan segala keterbatasan yang aku miliki sejak lahir, aku tak mau menyalahkan siapapun pun, karena aku tau tiap orang terlahir dengan keistimewaannya masing-masing.
Jika Tuhan memberiku mulut yang tak dapat menyampaikan lisanku, itu artinya Tuhan menyukai diriku yang seperti ini. Ia membuat ku seistimewa ini.
Pun, karena bisuku ini, aku tidak harus menyakiti orang lain dengan tutur kataku, seperti kata pepatah diam itu emas.
Okey lupakan itu, sampai di mana kita tadi?
Ah ya! Aku sangat bersyukur bisa sekolah di sekolah yang bisa di bilang cukup keren. Aku tau banyak yang memandangku rendah karena hanya berasal dari panti asuhan dan tentunya karena bisu begini.
Sekolahku sendiri sangat terkenal dengan anak-anaknya yang high class dan di penuhi anak-anak dari orang tersohor serta memiliki jabatan yang mumpuni.
Apalah aku yang hanya sekolah mengandalkan beasiswa, tak jarang mereka memandangku jijik hanya karena aku bersekolah berkat bantuan uang spp atau donasi yang mereka berikan pada sekolah.
Tapi tak apa, aku mencoba tegar. Toh sebentar lagi aku lulus, tak ada gunanya aku menyerah dan sedih begini. Itu tak merubah apapun.
Saat matahari belum muncul, aku sudah berangkat menuju sekolah sepagi mungkin.
Kalian tau kenapa aku harus berangkat sepagi ini? Ya alasannya tak lain dan tak bukan untuk menghindari pandangan hina yang di tujukan kepadaku oleh teman-teman di sekolahku yang semuanya di antar menggunakan mobil mewah.
Mana sekarang gerimis lagi. Aku menutupi kepala dengan tangan sambil menunggu angkot yang lewat.
Untunglah saat aku sampai di sekolah, bel baru saja berbunyi. Jadi aku tidak telat.
Namun baru saja aku masuk ke kelas untuk membuka buku, seorang teman sudah datang menghampiriku.
"Rat, liat pr lu dong, gue belum nih."
Pintanya.
Ia segera menarik buku ku sebelum aku sempat menolaknya. Tanpa basa basi lebih dulu menanyakan apakah aku mengizinkan atau tidak.
"Gue foto aja deh, nih buku lu, thanks ya."
Aku hanya bisa mengangguk pelan. Aku teringat betapa susahnya mengerjakan tugas ini, ditambah lagi aku harus kerja jaga toko kue untuk nambah uang jajan lalu mencuri-curi waktu untuk mengerjakan tugas ini, tapi dia dengan gampangnya tinggal nyalin pekerjaanku.
"Guys, PR yang fisika udah gua share di grup ya, yang belum ngerjain cek grup aja."
Parahnya lagi dia malah membagikan jawabanku untuk satu kelas.
Aku hanya bisa terrunduk sedih. Andai saja aku bisa bicara lalu berani untuk melawan mereka, namun semuanya hanya pengandaianku saja.
D
i sini dunia yang kejam, yang punya duitlah yang berkuasa.
Pelajaran pertama di mulai, namun di tengah-tengah pelajaran muncul sosok siswa berpakaian urakan dari balik pintu kelas, kalau tidak salah namanya Shakir. Siapa yang tak kenal dengan anak cowok itu?
Semua yang di sekolah mengenalnya, selain karena dia itu anak orang terkemuka, tapi dia juga terkenal dengan visualnya yang mirip-mirip aktor korea, badan yang tinggi dan tubuh yang terbentuk atletis. Jangan lupakan rambut depannya yang di biarkan sedikit panjang ala-ala boyband korea.
Setauku juga, walau tanpa dia katakan terang-terangan, aku tau dia termasuk orang yang sangat tidak menyukai kehadiranku, seringkali dia mengajak anak-anak lain untuk membullyku, pernah juga loh dia dengan sengaja menumpahkan minuman panasnya di rokku lalu dengan mudahnya bilang begini, 'Maaf, tangan gue licin.'
Tanpa bilang kata maaf sama sekali coba. Jahat banget, muka sama hatinya gak selaras.
"Maaf, Bu saya telat, tadi di jalan macet." Ucap Shakir tanpa basa basi yang langsung to the point banget. Coba aja aku yang telat, pasti langsung gak di bolehkan masuk ke kelas, tapi dia? Lihat saja.
Dia langsung duduk di tempatnya, betapa menyedihkannya dunia ini, dengan uang sepertinya segalanya menjadi mudah, dengan santai nya dia masuk kelas, sedangkan aku harus hujan-hujanan, jalan kaki, bahkan ngo-ngosan untuk sampai di sini.
Diam-diam mataku mengekornya sampai tiba di tempatnya duduk.
Ahh, tapi sialnya lagi, dia berhasil mempergokiku yang sedang memperhatikannya.
Astaga! Teriakku dalam hati. Rasanya menatap matanya yang berwarna hitam pekat itu benar-benar mampu mengintimidasiku.
Kalau boleh jujur, aku sangat takut akan tatapan itu, dari kelas X aku sekelas dengannya dan tak pernah sedikit pun berkomunikasi. Ya maklum aja aku kan bisu. Apalagi dia dari kalangan atas, ya sudah pastilah dia ogah ngajak aku ngomong. Paling kalau kami di pertemukan dalam satu kelompok, dia hanya duduk main handphonenya.
Tapi siapa yang sangka kalau dia adalah seseorang yang kemudian datang untuk menikahiku di kemudian hari.
Ku sebut ini kemalanganku atau justru malapetakaku?
Aku tidak dekat dengannya, mengobrol saja tidak pernah, bahkan kalau kami terpaksa bertemu di jalan atau di kelas, dia akan menatapku sinis seperti benci sekali denganku.
Lalu delapan tahun setelah kami tak pernah bertemu lagi, tiba-tiba saja aku mendengar kabar kalau ada pria yang datang melamarku langsung di panti asuhan.
Kenal juga tidak, kok main lamar-lamar aja. Meskipun aku sudah umur dua puluh lima tahun dan harusnya sudah menikah, tapi aku gak pernah berpikir akan ada pria yang datang melamar gadis bisu sepertiku.
Lebih mengejutkannya lagi saat aku melihat siapa yang datang bersama ayahnya.
SHAKIR ADRIAN SYAH.
Woah, apa aku baru saja mimpi tertimpa durian berduri tajam? Kok gak ada angin gak ada badai tiba-tiba dia datang melamar.
Berbagai pertanyaan muncul di benakku, seperti untuk apa dia mau menikahi gadis bisu sepertiku?
Atau dia sakit parah dan sebentar lagi mau mati? Ah tidak-tidak, tubuhnya justru terlihat makin gagah dan sehat.
Awalnya aku menolak keras menikah dengannya, namun dia mengancam akan menarik donasi besar yang biasa di berikan ke panti kami.
Tentu saja aku juga di buat berpikir berulang kali, kalau aku menolak sama saja aku egois. Tapi kalau aku terima, itu artinya aku siap masuk kandang macan.
Mau tak mau karena desakan keadaan, aku mengiyakan lamarannya, serius aku masih penasaran apa alasannya menikahiku.
Sampai sesaat setelah acara ijab qobul barulah aku tau, tepatnya malam di mana kami telah sah sebagai pasangan suami istri.
"Gue nikahin lu karena kalah taruhan pas SMA dulu, jadi gak usah berpikir kita bakal menjalin hubungan rumah tangga layaknya pasangan suami istri pada umumnya. Jangan pernah mimpiin itu, cewek bisu."
Jadi begitulah kisah rumah tangga kami di mulai, aku sudah berfirasat bahwa aku akan lebih banyak terluka di pernikahan ini. Tapi sudahlah, katanya dia tak sungguh menganggapku istri.
Itu bagus, aku tak harus melayaninya sebagai seorang istri, aku aman. Dia tidak harus meniduriku.