"Kamu dicariin Fahri sampai neleponin aku berkali-kali, Nay. Aku capek balesin dia." "Udah berapa kali aku bilang, gak usah diladenin. Susah dibilangin, sih." Aku meletakkan kotak makanan yang tadi diberikan Angga. Katanya, ini makanan lumayan enak. Kebetulan aku sedang lapar. "Kamu yang susah dibilangin. Gak ngerti lagi sama kamu, Nay." Pandanganku beralih ke Putri. Kenapa dia yang repot, sih? Lagian, Mas Fahri juga pakai reseh menghalangiku untuk membongkar semuanya. Dia seperti takut sesuatu. "Kamu juga kenapa ngeladenin Mas Fahri, Putri? Kan, nomor dia udah aku hapus, bahkan kartu kamu aku potong. Apa lagi biar ketenangan kamu terjaga?" tanyaku kesal. "Cukup soal Zifa, Nay. Kamu gak bakalan berhenti kalau terus kayak gini." "Apaan, sih? Kok jadi kamu ikutan ngelarang aku ba

