Bab 4 — Memprovokasi Tuan Arcelis

619 Words
## Bab Empat Kaeel membiarkan ponselnya tergeletak di atas nakas, lalu pergi ke ruang tengah untuk menikmati kopi dan televisi. Dua puluh menit kemudian, seseorang mengetuk pintu apartemennya. Sekali, Kaeel membiarkannya. Dua kali, tiga kali. Ketukan itu terus datang, teratur dan sengaja, sampai akhirnya ia berdiri dari sofa. Hanya ada satu orang yang tahu kode pintunya tapi tetap memilih mengetuk, semata-mata karena itu lebih mengganggu. Ia membuka pintu dengan langkah malas. Angelin berdiri di baliknya, masih memakai gaun hitam ketat semalam, tas selempang menyangkut di bahu. Rambutnya yang biasa diikat tinggi kini terurai berantakan, seperti baru bangun tidur dan tak peduli. Ia menyeringai lebar. "Mau apa kau? Sudah kubilang aku selesai dengan drama konyol kalian." Kaeel mengembuskan napas pendek lewat hidung. Bibir Angelin mengerucut mendengar nada datar itu. *Dari dulu cuma dia yang memperlakukanku seperti manusia yang bisa melakukan kesalahan bodoh.* Ia memainkan ujung rambutnya pelan, seolah pikiran itu tidak pernah lewat. "Nggak usah dingin gitu, Tuan Arcelis. Aku udah datang jauh-jauh, loh." Kaeel menyilangkan lengan. "Sudah kubilang ribuan kali, margaku Arce. Pulanglah, aku sedang sibuk." Angelin bergerak cepat dan tak terduga. Ujung sepatunya menyelip di celah pintu sebelum Kaeel sempat menutupnya, dan ia menahannya dengan seluruh tenaga, memaksa pria itu tetap berhadapan dengannya. "Kamu nggak bisa ngusir aku, sayang." Ia mengedip. "Aku tak peduli kakimu putus." Angelin terkekeh kecil, tangannya menutupi mulut. "Kalau putus, kamu harus jadi kakiku selamanya." Kaeel menghela napas panjang dan melepas gagang pintu. "Sejak SMP kau tidak pernah berubah." Angelin masuk begitu saja tanpa menunggu dipersilakan. Sepatu haknya terlepas dengan sekali tendang, tasnya mendarat di lengan kursi, dan ia mengambil bantal sofa paling empuk seperti miliknya sendiri. Di dapur, ia membuka kabinet kedua tanpa mencari, lalu mengeluarkan cangkir bergambar kucing yang tak pernah dipakai Kaeel. "Jadi kesibukanmu itu minum kopi sama nonton acara aneh?" Ia menunjuk televisi dengan dagu. Kaeel tak menjawab. Ia kembali ke sofa, menjatuhkan diri, dan melanjutkan menonton acara itu. Angelin menyusul. Alih-alih duduk, ia membungkuk ke arah Kaeel sampai wajahnya hanya berjarak beberapa inci. Aroma tembakau menyergapnya, dan anehnya, ia tak pernah benci bau itu. Kaeel memiringkan kepala, tetap berusaha melihat layar. Angelin mengikuti ke mana pun kepala itu bergerak, terus menghalangi pandangannya. Kaeel mendecak. "Apa yang kau lakukan, bodoh?" "Wajahku nggak lebih menarik dari acara aneh itu?" rengeknya, dibuat-buat. Kaeel akhirnya mencengkeram kedua bahu Angelin dan mengarahkannya duduk di sebelahnya, menyisakan sedikit jarak. "Duduk diam. Jangan macam-macam lagi." Angelin sama sekali tak menurut. Ia bergeser sampai pahanya menempel di paha Kaeel. Pria itu tak menoleh. Ia meraih sebatang rokok dari atas meja, menyalakannya cepat, dan menghisapnya santai. Asbak ia geser ke sisi yang jauh dari Angelin, lalu asapnya ia embuskan ke arah sebaliknya. Angelin menyangga pipi dengan satu tangan, menontonnya dalam diam. Senyum di sudut bibirnya tak hilang. "Berhenti menatapku seperti itu," kata Kaeel, matanya tak lepas dari layar televisi. Angelin tak mendengarkan sama sekali. Ia malah memeluk lengan Kaeel erat-erat seperti biasa. Gelangnya tergeser sedikit, memperlihatkan sebuah lebam yang tertangkap sudut mata Kaeel. Ia menghela napas pendek. "Henry berlaku kasar lagi?" Angelin tak menutupi lebam itu dan tetap tersenyum nakal. "Ini permainan ranjang." Ia mengatakannya seolah itu kebenaran. "Oh." Respons Kaeel singkat. Angelin menusuk-nusuk pipi pria itu beberapa kali sambil terkekeh geli. "Cemburu?" --- Beberapa saat kemudian, ketukan di pintu terdengar kembali. Kali ini hanya sekali. Pelan, sopan, jenis ketukan yang menunggu dipersilakan. Senyum Angelin menipis. Ia melirik Kaeel, yang masih menatap televisi dengan rokok terselip di bibir. "Kau yang buka," kata Kaeel. "Kamu nyuruh aku? Apa bayarannya?" Ia merapatkan tubuhnya sampai dadanya menyentuh lengan pria itu. "Ini apartemenku. Setidaknya itu bayaran bagi orang yang masuk seenaknya." "Tuan rumah yang membukakan pintu." Ketukan kedua datang, sama pelannya. Lalu suara dari balik pintu, serak dan hati-hati. "Kae? Ini aku."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD