Bab 2 — Wanita Liar

591 Words
## Bab Dua "Hei. Siapa yang kirim pesan?" Kaeel menyesap Bluegail-nya perlahan. Matanya tak lepas dari layar yang telah gelap itu. "Tidak penting." Henry berhenti menatapnya dan kembali meneguk botol alkoholnya. Di bawah meja, Kaeel mengetik singkat. *Kenapa kau mengirimnya padaku?* "Hen, kenapa kau masih mempertahankan hubungan kalian?" tanyanya, dibuat sehalus mungkin. Henry merebahkan kepalanya ke meja. Botol kedua sudah kosong, dan ia benar-benar mabuk. "Entahlah. Aku sendiri nggak ngerti." Suaranya lirih, entah karena alkohol atau karena memang itu jawabannya. Kaeel mendengus pendek. *Bukankah dua bulan lalu kau yang pamer soal Angelin yang tergila-gila padamu di ranjang?* Ia menelan kalimat itu, tak membiarkannya keluar. Ponselnya bergetar lagi. Angelin sudah membalas. *Aku lagi sama cowok tadi, di jalan ke hotel. Kamu udah kasih lihat fotonya ke dia belum?* Sudut bibir Kaeel terangkat tipis. *Tak berniat menjawab pertanyaanku? Seharusnya kau provokasi pacarmu itu, bukan aku.* *Kamu selalu punya ide menarik, Tuan Arcelis. Sekarang kamu yang putusin, haruskah aku ke hotel atau...* Kalimat itu berhenti begitu saja. Kaeel menatap Henry yang sudah tak bergerak, sebelah alisnya naik sedikit. Diam-diam ia mengangkat ponsel, memotret, lalu mengirimkannya pada Angelin. Balasan datang nyaris seketika. *Lihat si payah itu! LOL! Baru dua botol udah tumbang? Payah banget😌* Kaeel tak bereaksi. Ia menyangga dagu dengan sebelah tangan dan mengetik. *Sudahlah, aku muak dengan drama kalian. Jangan libatkan aku.* Senyum di wajahnya tidak ikut berubah. Ia memasukkan ponsel ke saku dalam jasnya dan berdiri dengan gerakan tenang. "Hen, aku pulang. Sebaiknya kau berhenti minum, atau..." Ia menahan sisa kalimatnya. *Kekasih tercintamu akan segera dilahap orang lain.* Henry hanya bergumam tak jelas, kepalanya masih terkulai di meja. Kaeel melangkah menembus kerumunan. Di saku jasnya, ponselnya terus bergetar, sekali, dua kali, tiga kali, tanpa jeda. Ia membiarkannya. Saat hampir mencapai pintu keluar, sebuah tangan tiba-tiba melingkar di lengannya. "Hei, tampan. Mau ke mana? Malam masih panjang." Seorang wanita menempel di sisinya. Sejak tadi wanita ini terus menatapnya, dan Kaeel tahu itu. Ia tidak langsung menepis. "Malam memang masih panjang. Tapi..." Kaeel mendekatkan wajah ke telinga wanita itu, berbisik halus sampai senyum kemenangan terbit di bibirnya, sebelum kalimat berikutnya masuk. "Parfum murahmu bikin kepalaku pusing. Dan cara matamu memohon dari tadi... jujur saja, agak mengenaskan." Kaeel menarik diri. Mata wanita itu melotot, kehabisan kata. Kaeel memasukkan kedua tangan ke saku celana dan berjalan santai keluar bar. "Parfumku nggak murah! Sialan!" Wanita itu menghentakkan kakinya ke lantai. Teriakan itu tertinggal di belakangnya. Kaeel terus berjalan lurus, tak menoleh sekali pun. Di samping mobil, ia mengeluarkan sebungkus rokok, mengambil sebatang, dan menyalakannya. Asap naik pelan ke langit malam yang kosong, tanpa satu bintang pun. "Si bocah puber dan si payah. Konyol," gumamnya, lalu kembali menghisap rokoknya. Setelah selesai merokok, Kaeel masuk ke mobilnya dan berkendara menembus udara malam, kembali ke apartemennya. --- Pukul delapan pagi, Kaeel membuka mata perlahan. Cahaya matahari menerobos celah tirai apartemennya. Ponsel di meja nakas bergetar, menampilkan pesan dari Angelin yang masuk beberapa jam lalu dan tiga panggilan tak terjawab, disusul pesan yang lebih baru. Dengan mata masih berat, Kaeel membukanya. *Kenapa kamu nggak bales pesanku? Bikin bete aja😕* Kaeel memutar bola matanya sedikit, entah karena terganggu atau karena sesuatu yang lain. Ia tetap mengetik balasan. *Bagaimana lelaki semalam?* Tak butuh waktu lama untuk balasan itu tiba. *Well, aku nggak jadi ke hotel sama dia. Cowok itu sama aja kayak si payah, tangannya aja gemetar pas nyentuh aku:v* *Kalau begitu berhentilah mengganggu. Kau sudah mengirimiku pesan puluhan kali semalam.* Di sebuah kamar hotel mewah, Angelin berbaring sendirian di atas kasur, tersenyum miring menatap layar ponselnya. *Semua gara-gara kamu, Tuan Arcelis,* batinnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD