Bab 7 # Dua Singa

873 Words
Aku menatap tajam dokter yang sedang berada di hadapanku saat ini. Seorang dokter tinggi gagah dengan bola mata kecokelatan khas pria blasteran pada umumnya. Rambutnya hitam bergelombang yang disisir rapi seperti penampakan jas putih yang membalut badannya. Andre. Temanku ketika kecil yang kini menjadi musuhku. "K—kau!" Bara amarahku tiba-tiba membuncah—seolah dapat mencabik raga sang dokter saat itu juga. Kenangan tentang hubungan dokter Andre dan aku di masa lalu, tiba-tiba mencuat kembali dan kini melukaiku. Andre dan aku bukanlah musuh pada awalnya, namun sebuah insiden mengerikan begitu membekas dalam benakku. Insiden itulah yang kemudian menjadikan kami musuh bebuyutan, hingga sekarang. Aku bahkan mencoba untuk memutuskan kontak, meski Andre dan kakaknya sering mencari-cariku, katanya. Aku juga tidak pernah mengkonfirmasi hal itu. Aku memang gadis yang penuh dengan luka di masa lalu. Aku bahkan belum merasa bahagia seutuhnya, hingga suatu ketika, seorang janin tiba-tiba muncul dari dalam rahimku. Janin itu, anakku yang belum lahir ke dunia, adalah kekuatan bagiku. Aku akan berjuang untuk sembuh dari sakit mental yang kuderita. Aku harus kuat, demi anakku. ** "Bu Lara. Maaf, saya akan memeriksa kondisi Anda," ucap Andre mencoba bersikap profesional, mungkin? Aku tahu bahwa saat ini bukanlah momen tepat untuk membahas perseteruan di masa lalu. Aku juga akan mencoba bersikap normal, sebagai seorang pasien biasa. "Silakan," sahutku acuh tak acuh. Dalam sebuah kunjungan rutin, Dokter Andre terlihat memeriksaku dengan cermat sambil memastikan tidak ada komplikasi lanjutan dari tindakan medis yang telah dilakukannya. Di ruang perawatan tersebut, sang dokter mulai meninjau kesehatanku secara keseluruhan, dibantu oleh para asisten dan perawat yang mencatat setiap perubahan dari kondisiku. Cahaya dari lampu ruangan yang menerangi ranjangku tampak begitu terang dengan suhu menghangat yang mengindikasikan matahari yang mulai datang. Pukul 9 pagi. Sinar matahari mulai menyelusup dari balik tirai, menghadirkan nuansa hangat yang ditepis oleh angin buatan dari pendingin ruangan, agar orang-orang yang berada di dalam sana senantiasa merasa segar. Proses pemulihanku berjalan sesuai harapan sang dokter. Ia tidak menemukan adanya efek samping tertentu yang patut diwaspadai dari pola penyembuhan diri pasca operasi. Hal ini memberikan kabar baik bahwa aku sedang pulih dengan baik dan tanpa komplikasi. "Semua terlihat bagus," ucapnya sambil tersenyum. Namun, aku tak menanggapi apa pun. Dokter Andre memeriksa catatan medis dan hasil tes terbaru, memastikan bahwa pemulihanku berjalan sesuai yang diharapkannya. Seorang perawat tampak memeriksa tekanan darah dan denyut nadiku, kemudian mencatatnya dalam lembar khusus untuk memantau perkembangan terbaru kesehatanku. "Bagaimana perasaan Anda hari ini, Bu?" tanya dokter itu dengan suara lembut, mencoba memecah keheningan yang menyiksanya. Aku hanya menjawab lemah, setengah terpaksa. "Saya merasa lelah, tapi syukurlah, bayi saya aman. Terima kasih, Dokter. Saya berhutang nyawa kepada Anda." Dokter Andre hanya tersenyum kecut sambil mengangguk. Ia mencoba tidak menunjukkan sikap berlebihan atas hubungan rumit kami. Aku juga mencoba hal yang sama namun terasa sulit sekali. Dokter itu lalu memeriksa luka sayatan—bekas operasi—yang kemarin ia lakukan selama prosedur penyelamatan. Aku baru menyadari bahwa ada bekas sayatan di tubuhku ini ketika sang dokter memeriksa luka tersebut. "Akh." Aku mengernyit menahan sakit ketika tangannya menyentuh bekas luka itu. Dokter tampak terkejut namun kemudian ia mengulas senyum karena tidak ada yang perlu diwaspadai. Luka itu semakin pulih dan semuanya dalam keadaan bersih dan steril. Tidak ada yang tampak mengkhawatirkan. "Semuanya tampak baik," kata dokter dengan senyum. "Anda sedang dalam perjalanan pemulihan yang baik, Bu. Kami akan terus memantau kondisi Anda dan sang janin dengan cermat." "Terima kasih, Dokter," ucapku penuh syukur. Terutama saat mendengar kabar tentang calon anakku. Aku yang semula cemberut kini ikut tersenyum ketika mendengar kondisi anakku. Aku benar-benar berharap ia baik-baik saja. Aku merasa bersalah karena telah membawanya ke dalam bahaya. "Terima kasih, Dok." Seno tampak maju mendekat ke arah kami. Raut wajah dokter Andre yang semula biasa, kini tiba-tiba berubah tegang. Aku bisa merasakan perubahan sikapnya. Aura intimidatif terpancar kuat darinya, seolah, Andre sedang melindungi wilayah teritorialnya seperti seekor singa. Seno tentu tidak menyadarinya, namun aku menyadarinya. Andre memang seperti itu sejak dulu. Ia akan bersikap waspada kepada seseorang yang tidak dikenalnya. Entah mengapa, aku merasa ada tusukan aura yang tidak biasa dari sang dokter yang seakan terganggu dengan kehadiran Seno. "Anda suaminya?" tanya dokter Andre, mencoba memastikan identitas pria yang mengaku sebagai pasanganku itu. Apakah ia belum mengetahui rupa suamiku? "Ya. Benar. Ada apa, dokter?" "Ah, tidak." Dokter Andre tampak berkelit. Atmosfer di ruangan ini terasa mencekat. Mengapa kedua pria di hadapanku ini seakan sedang bersaing? Rahang Dokter Andre tampak mengeras, otot-otot wajahnya menonjol keluar. Seharusnya, ia tidak boleh bersikap seperti itu. Meski hubungan masa lalu kami tidak baik tetapi ia tidak boleh ikut membenci suamiku. Bukankah, hanya aku saja yang seharusnya ia benci? "Pastikan memberi dukungan moral untuk kesembuhan optimal pasien, Pak. Jangan membuatnya bersedih atau pun terluka!" ucap dokter Andre memberi saran—namun entah mengapa terasa sebagai ancaman. "Ba—baik, Dokter." Seno agak terkejut dengan nada bicara aneh sang dokter. Ia tidak merasa bahwa pria di hadapannya ini sedang bersikap selayaknya tim medis yang membantu pemulihanku. Aku juga terkejut dengan respon Dokter Andre itu. Sungguh aneh. Seno menautkan alisnya, sepertinya ia juga tidak paham dengan gelagat sang dokter yang tampak janggal. Namun, ia tidak merasa harus mengetahui lebih banyak. Seno memang tidak tertarik urusan orang lain yang tidak menguntungkannya. *** "Lara, aku minta maaf padamu…"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD