Bab 4 # Serigala Wanita

971 Words
"Pak, mohon tenang!" hardik perawat yang menerima kedatangan tamu tak diundang itu. Derap langkah kaki Seno, seiring dengan hebohnya tindak-tanduk pria itu dalam mencari keberadaan sang istri. Seno baru mengetahui bahwa istrinya itu dilarikan ke rumah sakit dan bahkan menjalani prosedur operasi. Asistennya baru saja meneleponnya setelah rapat malam ini. Seno merasa menyesal karena tidak mengetahui hal ini sejak awal. "Lara! Istriku! Di mana kau!" panggilnya pada sang istri, namun Lara tak kunjung menampakkan diri. Tiba-tiba, seorang wanita paruh baya yang dikenalnya, menyongsong kedatangan majikan dengan mimik wajah yang lega. "Tuan!" Alih-alih merasa senang, bertemu dengan si pelayan, Seno justru naik pitam. Plak! Sebuah tamparan mendarat di pipi wanita itu secara mendadak. "Berani-beraninya pelayan rendahan sepertimu tidak mengabariku! Sialan!" Pelayan Lara terjatuh dalam hempasan tangan sang majikan. Ia memang merasa telah melakukan kesalahan fatal. Nasib pekerjaan kini tergantung pada kebaikan hati pasangan itu yang mungkin dapat memberinya sedikit kesempatan. "Ma—af," rintihnya dalam keputus-asaan. Namun, pelayan itu tidak lagi meributkan hal lain dan memilih untuk diam saja, jika tidak sedang ditanya. "Ada apa ini? Kenapa ribut sekali?" hardik dokter Andre yang baru saja keluar dari ruang operasi. Dokter tinggi gagah dan bermata jernih itu tampak tidak suka dengan kehadiran pengunjung yang tiba-tiba membuat keributan di wilayahnya. "Dokter! Di mana istri saya?" tanya Seno dengan tergesa-gesa. Napasnya tersengal, dan tata bicaranya bahkan seperti orang yang dikejar setan. "Tenanglah, Pak. Nyonya sedang berada dalam masa pemulihan. Situasi kritis telah dilewati. Anda tidak perlu khawatir," jelas sang dokter sambil menatap lurus ke arah Seno. Pandangannya seakan mempertanyakan hubungan antara suami istri itu yang tampaknya tidak harmonis itu. Bagaimana bisa seorang istri yang sedang mengandung dibiarkan begitu saja tanpa penjagaan suami? Apakah hubungan mereka memang tidak memiliki arti? "Syukurlah…" ucap Seno penuh kelegaan. Namun, detik kemudian, ekspresinya kembali berubah, ketika sang pelayan mulai mendekat ke arahnya. "Maafkan saya, Tuan." "Diam kau! Besok kau harus berhenti bekerja! Aku sudah menduganya. Pasti tidak becus kerjaan kalau tidak diurus oleh asisten kepercayaanku!" "Tuan… saya mohon," pelayan itu memelas, memohon pengertian sang majikan. "Nyonya melarang saya untuk menghubungi Anda. Setelah, seorang nona muda datang tadi ke kediaman Anda berdua," lanjutnya. "A—apa?" Seno menelan ludah, ia tidak menyangka akan ada insiden seperti itu sebelumnya. Beberapa waktu yang lalu, Seno benar-benar sedang dalam proses rapat penting di luar kota. Seno memiliki agenda untuk merencanakan akuisisi perusahaan konstruksi yang sedang tumbang. Ia memang sangat sibuk dibuatnya sehingga tidak sempat bermain gila dengan sekretarisnya. Setelah Lara memergoki mereka berdua, Seno bahkan menjauh untuk sementara dari Olivia, agar Lara tidak semakin murka. Memang benar, Seno menggilai tubuh perempuan muda itu, namun kasih sayangnya terhadap janin yang ada dalam kandungan Lara, meruntuhkan egonya. Seno tidak ingin kehilangan putera yang belum sempat dilahirkan oleh istrinya itu. Ia begitu mencintai keluarganya, meski dalam porsi yang berbeda. "Katakan! Seperti apa penampilan gadis itu?!" Seno bertanya menyelidik. Semoga saja, gadis yang bertamu itu bukan Olivia. Namun, harapannya sirna. Tamu itu memang benar selingkuhannya. "No—na muda itu berbadan langsing dengan riasan tebal. Rambutnya pirang sebahu, dan memakai kacamata hitam. Pakaiannya seksi berwarna merah menyala. Nyo—nya naik pitam ketika ia datang," sahut pelayan itu sambil ketakutan. Lutut pelayan itu bahkan terlihat gemetar, dan suaranya parau akibat tekanan batin yang mendalam. Ia takut salah menyampaikan, padahal faktanya memang seperti itu. "Si—al." Dokter Andre masih berada di sekitar mereka. Sebenarnya, ia tidak berniat menguping, namun suara Seno yang menggelegar, tentu saja terdengar olehnya. "Astaga!" Seno merutuk dan menggigit bibirnya. "Olivia! Jalang itu! Argh!" Sekali lagi, ia mengumpati selingkuhannya. "Aku akan kembali!" ucap Seno, kemudian segera mengeluarkan ponselnya. Ia lalu menghubungi sebuah nomor yang tersambung pada pemilik bersuara seksi di ujung sana. "Halo?" sapanya. "Olivia! Apa yang kau lakukan?! Lihatlah! Lara hampir keguguran!" Seno memarahinya dengan suara yang sangat kencang, ketika sedang menuju ke tempat parkir. "Sayang… aku tidak melakukan apapun. A—aku hanya ingin meminta maaf," rengek Olivia berdusta. Meski Seno tak bisa melihatnya, gadis itu menyunggingkan senyuman bak serigala. Ia benar-benar bahagia dapat membuat Lara menderita. "Hhh… Olivia. Tolong jangan lakukan hal yang tidak kau bicarakan denganku. Mengerti? Aku sedang meminta pengampunan dari Lara, mengapa kau malah membuat nyawa putraku dalam bahaya?" "Sayang… jika kau ingin anak. Aku bisa memberikanmu anak. Ayolah! Ceraikan saja dia!" "Kau? Hah! Jangan bercanda!" Seno dan Olivia tahu, bahwa mereka tidak bisa memiliki anak bersama. Hal itulah yang membuat Seno girang, karena Olivia tidak mungkin hamil dan malah membuat masalah. Berbeda dengan pemikiran Seno, Olivia merasa dirinya tidak berguna. Ia tidak mengira bahwa Seno begitu menggilai keturunan dari seorang wanita. Jika saja, Olivia mengetahui hal itu, tentu ia tidak akan melakukan prosedur kecantikan gila-gilaan, yang bahkan membuatnya mandul dan tidak bisa memberi keturunan. Olivia benar-benar salah menduga. Ia mengira, para pria hanya senang dengan tubuh wanita, dan tidak bahagia jika ada anak yang mengganggu kisah cinta panas mereka. "Sial!" rutuk Olivia pelan. Namun, ia tidak ingin menampakkan topeng kejamnya pada Seno. Ia harus berpura-pura menjadi wanita rapuh yang haus kasih sayang. Dengan begitu, para pria akan berlomba untuk memberikan perlindungan. "Kita bisa kan, pakai metode bayi tabung? Ayolah. Ceraikan istrimu itu!" desak Olivia tetap pada pendiriannya. Namun, Seno hanya tertawa dan mencemooh pemikiran Olivia. "Aku sudah memiliki anak dari Lara. Untuk apa repot lagi? Sudahlah, Olivia. Puaslah dengan apa yang kau miliki. Okay? Cintaku padamu, berbeda dengan cinta untuk Lara dan puteraku." Seno mengakhiri panggilan, dan menyisakan bara api dendam dalam diri Olivia. "b******n!" Olivia membanting ponselnya, dan menangis meraung-raung karena gagal memperdaya Seno. Ia bahkan gagal menghasut Lara untuk menceraikan pria itu. Bagaimana lagi Olivia harus bertindak untuk memisahkan keduanya? "Aha! Aku punya ide!" Gurat kelicikan segera terbit di antara senyumnya. Olivia—wanita licik itu—akan menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan hidupnya. Ia tidak akan menyerah dengan keadaan, dan akan terus berjuang demi mendapatkan hasil yang diharapkan. "Lara, tunggulah. Kehancuranmu akan segera tiba."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD