Selamat Membaca
Laras
----------------
Aku menatap nanar kearah beberapa tumpukan album foto dan juga beberapa bingkai kecil dan besar yang tergelatak di bawah lantai dan juga di atas ranjang kamar ku.
Beberapa foto diriku dan Mas Fahri, tumpukan foto - foto ini diambil dari masa kenal dulu sampai foto beberapa bulan yang lalu ketika aku dan Mas Fahri pergi liburan.
Honeymoon kedua katanya
Aku dan Mas Fahri memang rada narsis hobi foto dan memajang nya di setiap sudut rumah, hampir semua sudut rumah penuh dengan foto diriku dan Mas Fahri.
Dari foto berukuran kecil sampai foto yang berukuran besar semua ada di rumah ini, semua foto - foto ini di ambil dengan penuh tawa, tawa bahagia bukan tawa pura - pura.
Namun Itu semua dulu, dulu mungkin beberapa bulan yang lalu aku dan Mas Fahri masih bisa menambah koleksi foto bersama dan sekarang sejak kedatangan Fiya semua foto ini seolah berhenti pada titik kenangan dulu.
Aku ingin menambah kan nya lagi foto - foto kenangan antara aku dan Mas Fahri, ingin menambah memori keindahan hubungan kita dan membuat sebuah cerita tentang kebahagiaan, namun sayang itu hanya keinginan semata, nyatanya aku dan Mas Fahri tidak akan sama seperti setahun yang lalu atau seperti dulu - dulu.
Sekarang dia bukan hanya milikku seorang, sekarang hatinya bukan hanya untukku dan sekarang seluruh jiwa raganya juga bukan lagi untuk ku seutuh nya.
Dia milikku tapi dia juga milik Fiya istri keduanya, aku tidak bisa memaksa kan takdir apa lagi memprotes takdir karena bagaimana pun aku dan sekeras apa pun aku menolak semua ini tidak akan selesai hanya dengan menaruh harapan.
Seandai nya Dia tau betapa hancur nya Aku saat Ini.
Aku memahami satu hal, satu alasan yang keluar langsung dari mulut Mas Fahri yang sampai sekarang masih ku pahami dan masih sangat aku percaya.
"Aku menikahinya karena terpaksa dan aku tidak akan mencintai nya karena terpaksa pula."
Itu dan hanya itu yang selalu aku ingat dan aku tanam kan dalam hati bahwa Mas Fahri tidak akan mencintai nya.
Aku yakin apa yang Mas Fahri ucapakan itu akan benar, yakin bahwa rasa cinta tidak akan tumbuh di antara keduanya, namun itu hanya keyakinan dulu, dulu sebelum aku melihat tatapan nya, melihat senyuman nya dan melihat tubuh nya keluar masuk rumah bunda yang di tempati wanita itu.
Aku melihat nya langsung, aku melihat dengan d**a yang terasa nyeri, melihat Mas Fahri mengajak Fiya kencan dan melihat tatapan cemburu yang Mas Fahri berikan melihat ada pria lain yang mengajak Fiya berbicara.
Aku iri!
Aku sangat iri, aku sangat ingin tatapan kecemburuan itu Mas Fahri berikan pada ku bukan untuk wanita lain, wanita yang sudah dengan bebas nya memasuki hati suami ku dan menenggelam kan ku di sana.
Rasanya saat ini juga aku ingin berlari menerobos rumah bunda dan membunuh wanita sialan yang sudah berani memporak porandakan kehidupan ku, rasanya aku juga ingin menatap wajah Mas Fahri yang sangat aku rindukan selama satu minggu ini.
Kedua mata ku terpejam rapat dengan kedua tangan meremas satu foto dimana aku dan mas Fahri tengah berciuman di pinggir pantai, Meremas dengan kuat hingga lagi dan lagi setetes air mata jatuh membasahi wajah ku.
Aku memang wanita lemah yang hanya bisa menangis meratapi nasib ku yang seolah diantara hidup dan mati.
Aku Kalah!!
Aku menangis dalam diam menahan segala sesak yang aku rasa hanya seorang diri, tidak ada yang memahami diriku hingga Nona pun sama tidak mampu memahami ku.
Ada rasa aneh yang seolah menjadi magnet tersendiri, rasa bahagia yang benar - benar menarik semua rasa sedih yang tengah ku ratapi.
Wajah ku mendongak menatap mata pria yang sama menatap ku dengan tangan nya yang mengusap rambut ku lembut.
Aku ingin menangis lagi melihat nya ada di sini dan pulang ke rumah ini, namun segera ku hapus seluruh air mata yang sudah terlanjur jatuh dengan kedua telapak tangan.
Aku langsung berdiri berhadapan dengan nya, kedua tangan ku sengaja sedikit ku rentangkan berharap ada pelukan manis yang bisa menghapus semua luka yang saat ini tengah menggerogoti tubuh ku.
Kedua tangan ku jatuh meluruh ketempat nya semula melihat harapan ku harus terkubur dalam -dalam, dia menjauh, dia menghindar dan dia tidak perduli dengan ku.
Kedua tangan ku membekap mulut ku sendiri menahan isakan yang hampir saja lolos dan di dengar oleh nya.
"Hanya beberapa pakaian," Katanya tanpa menoleh.
Aku diam menatap nya dengan tatapan kecewa, melihat dia melipat beberapa pakaian membuat ku seolah di ambang Kematian.
Aku tidak bisa jauh darinya, Aku tidak bisa hidup tanpa diri nya dan Aku bisa gila bila dia bersama wanita liar itu.
"Mas"
"Apa?"
Aku diam lagi melihat Mas Fahri menatap ku dengan sorot mata penuh amarah, wajah nya terlihat tegang dan menatap ku seolah aku ini musuh nya.
"Katakan!" Bentak nya.
Rasanya saat ini juga aku ingin menangis sekencang mungkin melihat amarah nya muncul dan membuat ku merasa kehilangan Mas Fahri ku, Mas Fahri yang dulu, Mas Fahri yang kalem dan sangat Penyayang.
Aku menarik nafas dalam - dalam menahan teriakan dari mulut ku agar tidak keluar memaki nya saat ini.
Aku tau dan aku sadar bahwa aku salah, Aku mengkhianatinya dan aku memutuskan kepercayaan nya dan Semua itu memang salah ku.
"Mas."
Aku memanggil Mas Fahri yang sudah berjalan cepat keluar kamar tanpa pamit pada ku.
Aku berlari mengejar nya, berusaha meraih tubuh nya namun sama sekali tidak bisa.
"Aku selingkuh Mas." Teriak ku kencang.
Sedetik dia menghentikan langkah nya dan di detik itu pula aku menangis menyesali kebodohan ku yang luar biasa sangat bodoh.
Dia menatap ku dengan tatapan yang belum pernah aku lihat sebelum nya, kedua tangan nya saling mengepal satu sama lain dan wajah tampan nya benar - benar hilang.
"Ak - ku selingkuh Mas .... Cuma satu kali aku selingkuh"
Tangis ku semakin pecah membayangkan kemarahan Mas Fahri Yang siap menghancurkan ku detik ini juga.
Aku sama sekali tidak berani menatap nya, Tidak berani mendekati nya dan sangat takut untuk menjauh dari nya.
"Satu kali?"
Aku bisa mendengar suaranya yang sangat dingin dan menekan mengulang kejujuran ku beberapa saat yang lalu.
"Kau tau Laras? Aku hancur mendengar nya!"
Wajah ku meringis mendengar Perkataan Mas Fahri yang membuat seluruh napas ku terhenti seketika.
"Maaf Mas," Lirihku tidak tau lagi harus mengatakan apa.
"Aku selalu menjaga hubungan kita dan kamu yang menghancurkan nya."
Aku menatap wajah Mas Fahri yang saat ini berada di hadapan ku, menatap nya dengan tatapan penuh penderitaan.
"Aku juga hancur Mas! Hancur karena mu, hancur karena kamu lebih menyayangi Fiya wanita sialan yang sudah menghancurkan ku."
"Aku tidak pernah membedakan mu Laras dan kamu ....."
"Dan aku mencari kesenangan di luar sana!" Kata ku memotong.
Mas Fahri semakin menatap ku dengan penuh amarah yang seolah ingin meledak membuat wajah ku sedikit menunduk.
"Aku mencintai mu dan tidak mencintai Fiya." Tegas Mas Fahri.
"Aku tidak pernah bisa menghilangkan bayangan mu dari pikiran ku Laras, bahkan ketika aku dengan Fiya sama sekali bayangan mu tidak pernah hilang."
"Dan kamu dengan mudah nya bercinta dengan pria lain dengan membuang bayangan ku!"
Aku hanya bisa diam membisu mendengar sebegitu tulus nya perasaan Mas Fahri untukku dan aku dengan bodoh nya mengkhianati Mas Fahri.
Aku malu, aku sangat malu dan aku sangat jijik melihat diriku sendiri yang dengan mudah nya membuka seluruh pakaian hanya untuk pria lain.
Aku Bertelanjang di depan pria yang bukan suami ku dan aku melayani nya layak nya suami ku, sementara suami ku menahan semua nya hanya demi aku.
"Aku akan menceraikan Fiya dan kamu menggoyah kan semua niatan Ku."
Aku mundur beberapa langkah, mundur mendengar rasa percaya mas Fahri pada ku hilang. Bukan salah Mas Fahri tapi ini murni kesalahan ku.
"Pilih antara aku dan Fiya Mas .... Yang terbaik untuk Mu"
Aku berkata lirih padanya menahan semua rasa yang semakin membuat tubuh ku seolah kehilangan nyawa.
___
Honahon