Dirusuhin Aysar dan Zayn

1525 Words
Ardan diam-diam tersenyum melihat betapa antusiasnya Rumaysha yang seolah tak mengenal lelah. Perempuan itu tampak bersemangat saat diberi kebebasan untuk menata kamar Ardan yang didominasi warna putih. Dia menutup pintu kamarnya, membiarkan Rumaysha terbiasa dengan kamar Ardan yang kini jadi kamar mereka. “Mana si Umay?” tanya Zayn yang tengah memotong buah melon. Sejak kedatangan mereka 30 menit lalu, Zayn sudah lebih dulu memakai dapur ketimbang sang pemilik rumah. Ardan sendiri jarang menggunakan dapur karena terbiasa membeli. Sangat berbanding terbalik dengan Zayn yang bisa dibilang familiar dengan dapur dan segala bahan yang ada di dalamnya. “Lagi rapihin baju dia,” jawab Ardan lalu mencomot potongan buah melon. “Cuci tangan heula atuh sia teh,” omel Zayn membuat Ardan meringis lalu mencuci tangannya meski sudah telat. “Gue gak bisa bayangin adik gue tinggal berdua sama lo,” sungut Zayn yang sensi sendiri.. “Ya ngapain dibayangin Samsul?!” kesal Ardan. “Pokoknya gue gak mau tau, ya, jangan ada kabar keponakan sebelum adik aing 20 tahun,” kekeh Zayn membuat Ardan berdecak. “Heh Umay istri siapa?” “Ya istri lo!” “Ya terserah gue dong! Lagian aing gak sejahat itu, gue memang pernah jadi cowok blangsak but now and future I try to be better than my past. Tujuan gue nikahin Umay itu murni karena gue pengin jaga kehormatan dia, lindungin dia. Bukan buat yang aneh-aneh. Lo gak usah khawatir, hidup aing jaminannya,” balas Ardan telak. Zayn terdiam. Ya semoga saja Ardan benar-benar menepati ucapannya. Dia ingin melepas Rumaysha dengan perasaan tenang. “Gak usah kebanyakan mikirin gue sama Umay, pikirin aja gimana caranya supaya bisa cepet lulus kuliah,” ejek Ardan membuat Zayn menatapnya sinis.Mentang-mentang sudah ambil start lebih dulu, Ardan jadi songong sekali. Meski sangat hobi berdebat sampai baku hantam ala-ala anak Lion, tapi kedekatan mereka tidak perlu diragukan lagi. Nyatanya sekarang mereka sudah larut dalam pembahasan mereka yang memang satu frekuensi. Sampai sesekali terdengar gelak tawa dari Ardan maupun Zayn. “Lo gimana ngatur waktunya?” tanya Zayn pada Ardan yang kuliah sambil kerja. “Ya gitu aja, pagi sampe siang kuliah. Biasanya hari Kamis gak ada matkul kan, nah aing jadi tenang tuh. Ahad kantor sama kuliah libur. Biasanya kalau hari selain Ahad, aing kerja dari siang sampe malam. Tapi kayaknya kalau udah nikah gini, aing mau izin ke papa supaya kerjaannya bisa dibawa pulang. Kasihan bini gue sendirian.” Zayn mengangguk-nganggukkan kepalanya. Dia jadi ingin kerja juga. Tapi kerja apa, ya? “Gue kerja freelancer aja apa, ya?” “Hm? Boleh tuh, eh bentar deh, gue ada kenalan di Bandung. Deket ITB juga, dia usaha distro gitu. Kalau gak salah kemarin dia nanyain ada temen gue yang bisa dipercaya gak. Nah lo aja gimana?” “Serius? Mau lah aing. Malu weh, minta duit ke papa terus. Padahal umur aing udah 20, harusnya, sih, udah bisa cari makan sendiri,” kata Zayn sambil memotong semangka. “Ntar gue tanyain lagi, baru banget dia nanyainnya. “ Zayn mengangguk mendengar perkataan Ardan lalu tersenyum senang. “Alhamdulillah. Makasih, Brother,” ucap Zayn. “Iya santuy weh. Btw Aysar katanya mau ke sini?” “Jangan eh, kalau dia ke sini jangan diterima.” Oke, Zayn selalu sensi jika menyangkut Aysar, begitu juga sebaliknya. Namun, giliran Zayn tidak ada Aysar selalu menanyakan ‘Umma, Abang jole kapan pulang ta Bogol?’ Nanti semisal Zayn video call dengan umma atau papa pasti dia akan bertanya ‘Si bocil lagi apa?’ aneh memang. “Parah banget lo,” kata Ardan. Semalam dia menyaksikan sendiri duel maut antara Zayn juga Aysar. Tawanya terus berderai saat melihat Maika mengomeli keduanya. Hanya perkara paha ayam saja Zayn dan Aysar ribut. “Abang mau nginep bukan?” tanya Rumaysha yang sudah berganti pakaian dengan piyama dan kerudung instan. “Enggaklah, gue malem juga balik ke Bandung.” Rumaysha mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban Ardan. “Sebentar amat ke Bogornya,” protes Rumaysha. “Kan ada aku,” timpal Ardan merasa tidak terima. “Geuleuh, Dan!” ejek Zayn. “Ih ribut terus. Awas aku mau rapiin belajaan,” usir Rumaysha pada Ardan yang menghalangi jalannya. Dia mulai memasukkan sayuran ke dalam kulkas. Melihat istrinya yang kesulitan, Ardan berinisiatif membantunya. “Besok mau bawa bekal gak, Kak?” tanya Rumaysha. “Boleh, kamu mau buatin aku bekal apa?” “Kakak suka ayam?” “Gak terlalu, sih, rada kurang suka daging-dagingan. Tapi kalau kamu buatin itu, pasti aku makan.” “Aku buatin chicken katsu sama tumis pokcoy aja, ya?” tawar Rumaysha yang mendapat anggukan semangat dari Ardan. Asal Rumaysha yang masak pasti dia makan. “Oke, sip. Buat makan malam mau sama apa? Tadi aku beli spageti, sih.” Kalau masak yang berbumbu, Rumaysha butuh waktu lama. Sedangkan bumbu di dapur mereka masih belum lengkap. Dia baru akan belanja besok. “Apa aja, Sayang. Asal dimasakin kamu, pasti aku makan,” kata Ardan mulai memberikan rayuannya. “Masakin racun aja, May,” sambar Zayn di antara interaksi Ardan dan Rumaysha. Selama ini saat di Bandung Zayn selalu masak sendiri jika ingin makan, bahkan memasakkan Sargan juga mengingat mereka berdua tinggal bersama. Zayn kan juga ingin dimasakkan. “Iri bilang, Bos!” ejek Ardan dengan ucapan andalannya. “Dih, aing gak iri tuh, bisa masak sendiri,” balas Zayn. “Kalian ribut terus mendingan pindah deh, aku mau masak,” omel Rumaysha untuk yang kedua kalinya. “Eh main PS aja deh yuk!” ajak Ardan. Rumaysha menggelengkan kepalanya. Tidak Zayn, tidak Ardan, dua-duanya benar-benar tidak bisa lepas dari benda satu itu. Rumaysha mengambil panci yang ukurannya besar, lalu mengisi air sebanyak 800ml ke dalam panci tersebut. Selanjutnya, gadis itu menyalakan kompor. Sambil menunggu air mendidih, dia mencincang bawang bombay, lalu menumisnya dengan margarin untuk dicampur dengan saus pasta. Aroma masakan menguar di dapur hingga sampai ke ruang keluarga. Ketika airnya dirasa sudah agak mendidih, Rumaysha memasukkan spagetinya ke dalam rebusan air. Kurang dari 10 menit pastanya sudah jadi. Rumaysha sengaja memisahkan pasta dan sausnya, biar diambil sendiri-sendiri saja. Gadis itu menata spageti dan es buah buatan Zayn di meja makan. Tidak lupa menyediakan tiga gelas air minum. “Kak Ardan, Abang, makanannya udah siap,” panggilnya. Ardan dan Zayn yang memang lapar, bergegas datang ke dapur mengabaikan keinginan untuk bermain PS. “Wihhh mantep nih,” kata Ardan. “Cuci tangan dulu!” tegur Rumaysha membuat Ardan tertawa hingga matanya menyipit. Zayn turut tertawa, lucu juga ternyata melihat interaksi Ardan dan Rumaysha. Mungkin dia akan mulai mengikhlaskan Ardan jadi suami Rumaysha. Ardan menyadari satu hal, sepertinya Rumaysha dan Zayn sama sensitifnya dengan makan tanpa cuci tangan. Ardan tidak tahu saja, kakak beradik itu pernah makan tanpa cuci tangan dan langsung kena ceramah umma. Kalau kata Umma sih, Hygine. Kebersihan diri itu penting. Oleh karena itu, mereka terbiasa mencuci tangan sebelum makan sampai sekarang. Setelah mencuci tangan, tanpa mau membuat Zayn iri, Rumaysha tidak hanya mengambilkan untuk suaminya. Dia mengambilkan makan untuk sang kakak juga. “Aysar gak jadi ke sini?” tanya Rumaysha. “Biarin aja, biarin,” jawab Zayn asal. Bruk bruk “Salah Baim apa Ya Allah!” kata Zayn dramatis saat mendengar suara rusuh dari depan. “Biar aku yang buka,” ucap Rumaysha. “Dia baru opening aja kepala aing udah pusing,” gerutu Zayn pada Ardan. Ketika pintu dibuka, ntmpaklah Rafan, Maika, dan Aysar. Seperti biasa, warna pakaian Rafan dan Maika selalu disamakan. Aysar sendiri, mengenakan style andalannya ala-ala hip-hop dengan kacamata hitam dan topi yang dimiringkan. “Assalamu’alaikum!” “Wa’alaikumussalam.” Rumaysha mengecup punggung tangan kedua orang tuanya dan mengambil alih Aysar. “Astaghfirullaah, cobaan apa ini?” kata Zayn. “Ko Abang jole da di sini?” protes Aysar tidak suka. “Ada yang ngomong,” ujar Zayn. “Umma, abangna buang aja. Bilisik!” Maika menggekengkan kepalanya. Baru saja setengah harian ini kepalanya terasa santai, tapi sepertinya akan dibuat pusing oleh tingkah kedua putranya. “Diem, Bang!” peringat Rafan. Gue lagi yang kena, dumel Zayn dalam hati. “Umma!” panggil Aysar. “Dede mu mi goleng duga!” Dengan cekatan Rumaysha mengambilkannya untuk Aysar. “Mi goreng ceunah,” sindir Zayn menyinyiri Aysar. “Abang jole diam!” sentak Aysar kesal. “Udah jangan berteman, berantem aja,” sahut Maika santai membuat Rafan menatap istrinya. “Apa? Typo, maksudnya jangan berantem.” Oke, keluarga Nedrian sepertinya punya DNA humor semua. Ardan sampai dibuat bengek karena tidak bisa berhenti tertawa. “Dan, kalau mau kasih Umma cucu, mending dari sekarang aja, jangan pas udah tua malah minta nambah lagi,” ujar Maika membuat Rafan yang minum tersedak. Maika langsung menepuk-nepuk punggung suaminya. “I-iya Umma,” jawab Ardan mendadak malu sendiri saat melihat wajah Rumaysha memerah. “Lah kenapa? Umma bener dong, kalian kenapa pada salting?” Tolong beri tahu Rumaysha sebuah mantra yang bisa membuatnya hilang sekejap. Malu sekali rasanya. “Jadi, kapan kalian ada rencana bulan madu?” Ardan menelan ludahnya susah payah. Sedangkan Rumaysha hanya mampu menundukkan kepalanya. “Umma, pipi Tata melah-melah!” Dan untuk yang pertama kalinya, Rumaysha ingin sekali membungkam mulut adik kecilnya itu. Ya Allah, boleh tidak, sih, Aysar dijadikan hadiah give away saja?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD