Nala masih berusaha mengabaikan, namun Tania tidak pernah tahu kapan harus berhenti. Merasa diabaikan, wajah wanita itu menegang, rahangnya mengatup dalam amarah yang memuncak. "Jangan sok anggun, Nala. Aku sedang berbicara denganmu!" Tanpa peringatan, Tania menyambar rambut panjang Nala, menjambaknya dengan kasar. "Argh!" Nala terpekik tertahan, kepalanya tersentak ke belakang karena tarikan kuat itu. Matanya membulat, tubuhnya sedikit goyah, tapi ia tetap berusaha mempertahankan keseimbangan. Tangan kecilnya refleks mencengkeram pergelangan tangan Tania, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman kejam itu. "Apa yang kau lakukan?!" suaranya bergetar, bukan karena takut—tapi karena terkejut dengan aksi mendadak wanita jalang ini. Namun, sebelum Nala sempat melawan lebih jauh, suara l

