Hari Pertama

1302 Words
Udara pagi itu terasa berbeda bagi Naya Almeera. Mungkin karena degup jantungnya sudah berpacu sejak semalam ketika ia menerima email resmi dari Wiradana Creative & Tech Group, yaitu perusahaan kreatif terbesar di kota yang menyatakan bahwa ia diterima sebagai asisten pribadi CEO. Asisten pribadi. CEO. Dua kata yang cukup membuatnya susah tidur. “Kenapa aku diterima ya? Harusnya posisi ini buat orang super sempurna,” gumam Naya pelan sambil berkaca di cermin kamarnya. Ia merapikan rambut hitamnya yang dipotong sebahu, lalu memilih blus satin warna ivory yang dipadukan rok hitam dan blazer lembut. Tidak berlebihan, tapi tetap terlihat elegan. Tak lupa ia semprotkan sedikit parfum beraroma vanilla floral yang lembut, jenis aroma yang membuatnya tenang. Setelah memastikan semua dokumen sudah berada di dalam tas, ia langsung berangkat dengan langkah yang lebih cepat dari biasanya. Pagi itu, ia merasa seperti akan menjalani babak baru dalam hidupnya. --- Gedung WCTG menjulang megah, kacanya memantulkan cahaya matahari pagi. Logo perusahaan berwarna biru navy terlihat kokoh di bagian depan dan terukir sebuah nama perusahaan, Wiradana Creative & Tech Group. Begitu memasuki lobby, Naya terpaku melihat isinya. Ruangan itu luas, bersih, modern dengan nuansa warna putih, abu, dan biru mendominasi interior. Banyak karyawan berjalan cepat dengan ID card di leher, membawa laptop, kopi, atau map presentasi. Semuanya terlihat sibuk dan profesional. Membuat Naya minder sampai menelan ludah. "Astaga… aku beneran kerja di sini sekarang?" batin Naya. Belum sempat ia mengatur napas, suara ramah menyapanya. “Selamat pagi. Bisa saya bantu?” Seorang wanita resepsionis tersenyum sopan. “Oh! P-pagi. Saya Naya Almeera, karyawan baru… asisten CEO. Katanya saya harus langsung ke lantai 20?” jelas Naya yang berusaha agar tidak terlihat gugup. Mata resepsionis itu berbinar. “Oh, Anda asisten barunya Pak Evan, ya? Baik, selamat bergabung di WCTG!” Ia memberikan kartu akses sementara. “Silakan naik ke lantai 20, ruang CEO ada di paling ujung.” Naya mengangguk, mengucap terima kasih, lalu berjalan menuju lift. Tangannya sedikit berkeringat. Perutnya terasa seperti ada kupu-kupu beterbangan. "Tenang, Na. Kamu cuma bakal ketemu bos yang katanya paling dingin, paling perfeksionis, dan paling menakutkan… ya Tuhan, itu nggak tenang sama sekali." --- TING! Pintu lift terbuka di lantai 20. Begitu melangkah keluar, suasana kantor berubah. Di sini lebih sepi, lebih mewah, lebih tertata. Lorongnya dipenuhi foto-foto penghargaan perusahaan dan hasil campaign besar yang pernah mereka kerjakan. Setiap detail terasa premium. Naya melihat meja kosong di dalam ruangan kaca besar bertuliskan Naya Almeera - Assistant Chief Executive Officer. "Itu pasti mejaku," batin Naya. Namun sebelum ia sempat duduk, suara lembut tapi tegas terdengar dari arah kiri. “Naya?” Ia menoleh. Seorang wanita cantik dengan potongan rambut bob rapi berdiri sambil membawa tablet. Wajahnya terlihat ramah. Naya sontak tersenyum. “Janelle?” Ya Tuhan. Itu benar-benar Janelle Wonara, sahabat kuliahnya yang sudah dua tahun tidak bertemu. Janelle langsung memeluknya. “Aku nggak nyangka banget kamu kerja di sini!” katanya antusias. “Lebih kaget lagi pas baca struktur karyawan dan lihat kamu jadi asisten Pak Evan. Kamu berani banget!” Naya terkekeh canggung. “Aku aja masih gemeteran, Nel.” “Aku temenin kamu sekalian briefing ya? Pak Evan belum datang. Dia jarang on time ke kantor pagi-pagi. Dia lebih sering meeting virtual dulu.” Naya mengangguk, sedikit lega. Mereka berjalan menuju meja Naya. “Jadi, di sini kamu bakal handle jadwal Pak Evan, email, urusan meeting, tamu, segala dokumen, bahkan kadang harus ikut dia ke luar kota.” Naya hampir tersedak udara. “Ke… luar kota?” “Kadang, tapi tenang, kamu bakal terbiasa kok nantinya.” Janelle terkekeh. “Evan itu orangnya ribet, tapi sebenarnya fair. Soalnya dia perfeksionis banget.” Naya menghela napas panjang. “Tapi dia baik kok,” lanjut Janelle. “Cuma kelihatannya aja galak.” Baru saja Naya ingin bertanya lebih jauh, suara pintu otomatis terbuka. Terlihat seseorang masuk dan suasana lantai 20 langsung berubah hening. Langkah itu tegas dan mantap. Tidak tergesa, tapi punya wibawa yang kuat. Aroma parfum woody yang dewasa menyebar lembut. Mantel kotak halus menggantung di bahunya. Pria itu tinggi, bahunya lebar, raut wajahnya tenang namun tajam. Tatapannya lurus dan fokus, seperti orang yang selalu tahu apa yang ia mau. Evan Wiradana, CEO WCTG, Bosnya. Hatinya langsung berdetak tidak karuan. Evan menghentikan langkah di depan meja Naya. Tatapannya turun perlahan, meneliti dari ujung kepala hingga kaki Naya, tidak kasar, tapi dingin dan profesional. Ia tampak sedang menilai. “Nama?” tanyanya singkat. Suara itu dalam, halus, tapi menusuk. Naya langsung berdiri tegak. “Naya Almeera, Pak. Asisten baru Anda.” Evan mengangguk kecil. “Jam masuk kantor di sini pukul delapan. Kamu datang pukul…” ia melirik jam tangannya, “delapan lewat lima belas.” Naya berkedip cepat. “A-aku terlambat?” “Lima belas menit,” jawab Evan datar. “Tapi anggap saja karena hari pertama, saya toleransi. Besok, datang lima menit lebih awal.” Naya mengangguk cepat. “Baik, Pak. Saya minta maaf.” Evan menatapnya sebentar, lalu berkata, “Ikut saya. Kita mulai sekarang.” Naya memegang buku catatan dan pena, mengikuti Evan masuk ke ruangannya. Janelle memberi isyarat semangat dari belakang. --- Ruang kerja Evan luas dan minimalis. Dengan warna hitam, abu, dan kayu membuat ruangan terasa dingin namun elegan. Jendela besar memperlihatkan pemandangan kota. Evan duduk di kursi kerjanya sedangkan Naya duduk di kursi seberang, langsung siap dengan pena. “Pertama,” kata Evan, membuka laptop, “jadwal saya minggu ini sangat padat. Kamu harus mempelajari ritme kerja saya.” “Baik, Pak.” “Kedua, saya tidak suka kesalahan kecil, tiap detail penting. Kalau saya bilang jam sembilan, itu berarti sembilan tepat. Kalau saya minta laporan, saya ingin lengkap, rapi, dan tidak perlu saya perbaiki.” Naya mengangguk lagi, dan menelan ludah. “Ketiga,” Evan menatapnya, “komunikasi harus cepat dan jelas. Jangan membuat saya mengulang instruksi dua kali.” “Baik, Pak.” Evan memperhatikan Naya sejenak. Tatapan itu terlalu tajam. Seolah ia bisa membaca pikiran Naya. “Kamu terlihat gugup.” “Sedikit, Pak,” jawab Naya jujur. Evan mengangguk pelan. “Wajar, tapi kamu tidak perlu takut. Saya hanya ingin pekerjaan berjalan lancar.” Naya tidak tahu kenapa, tapi ia merasa sedikit lega. Tidak lama kemudian terdengar pintu diketuk. Masuklah seorang pria dengan kemeja biru rapi dan senyum hangat. Wajahnya lebih lembut dibanding Evan. “Pagi, Van. Pagi, Naya,” sapanya ramah. “Oh… pagi…?” Naya sedikit bingung. Evan menjelaskan singkat, “Ini Jared dia COO. Tangan kanan saya.” Jared mengulurkan tangan. “Saya Jared. Selamat bergabung, Naya.” Sentuhan tangan Jared hangat, bertolak belakang dengan aura Evan yang dingin. Jared melirik Evan sambil tersenyum jahil. “Gimana? Sudah dimarahi di menit pertama?” “Tidak,” jawab Evan pendek. “Belum atau tidak?” goda Jared. Evan menghela napas panjang, menatap Jared tanpa ekspresi. “Ada yang ingin kamu sampaikan?” “Oh, iya.” Jared kembali serius. “Ada meeting besar dengan klien jam sepuluh. Kita harus berangkat setengah jam lagi.” Evan melihat ke arah Naya. “Catat.” Naya buru-buru menulis. Jared melirik Naya dengan senyum simpati. “Tenang, kamu akan terbiasa dengan bos satu ini.” Evan menatap Jared tajam. “Jared…” “Oke, oke. Aku pergi,” jawab Jared sambil tertawa kecil. Setelah Jared keluar, Evan kembali fokus pada laptopnya. Naya mengambil kesempatan untuk berbicara. “Pak… terima kasih sudah menjelaskan semuanya. Saya akan berusaha semaksimal mungkin agar tidak mengecewakan Anda.” Evan berhenti mengetik, ia mendongak. Tatapannya melembut sejenak, hanya satu detik, lalu kembali netral. “Kita lihat nanti,” katanya tenang. “Kamu bisa tunjukan lewat kerjaan, bukan kata-kata.” Naya meremas buku catatan di pangkuannya. Ia tahu hari pertama tidak akan mudah. Tapi di balik dinginnya Evan, ada sesuatu yang membuatnya ingin bertahan. Dan entah kenapa, ia merasa… hari ini adalah awal dari sesuatu yang besar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD