Aku menggeram pelan saat mendengar bunyi bel apartemenku terus berbunyi. Aku baru pulang jam tiga pagi, kemarin menemani Dokter Arya operasi berpuluh-puluh jam. Aku harus mendampingi, katanya. Padahal aku tidak tau fungsiku apa disana. Disaat koas dan internship aku tau, tapi sekarang aku tidak ada urusan lagi dengan ruangan OK. Aku lelah sekali. Namun bunyi bel itu terus-terusan mengganggu acara tidurku. AH! Aku menggertakkan gigi. Udah tau gue mau tidur, siapa lagi yang pagi-pagi datang ke apartemen gue? Aku tidak bisa tidak menggerutu. Aku jarang menerima tamu. Memang karena tidak ada keluarga terdekatku di Ibukota ini, semuanya di luar kota. Teman-temanku juga sudah sangat jarang mengunjungiku. Paling kalau malam, jarang sekali ada yang datang pagi. Bel tersebut berbunyi lagi. Seka

