Tiba-tiba aja Bos Tae Haa langsung menarik tanganku dan menatapku dengan tajam.
"Saya menginginkan dia!" Tae Haa mengatakan itu dengan sangat tegas membuat aku gemetar tidak karuan.
Dengan cepat aku langsung menepis tangan Tae Haa dan langsung pergi begitu aja. Aku benar-benar takut dan sangat gemetar.
"HEI!" Tae Haa benar-benar teriak seperti orang kesetanan membuat beberapa orang yang berada di depan ruang VVIP menatap ke dalam ruangannya.
Klara langsung berlari mengejar diriku namun suaminya Seo Ji masih berdiam di dalam ruangan itu.
"HEH! KEJAR WANITA ITU!" titah Tae Haa sambil menatap Nam Joo dan Seo Ji dengan bergantian, ia juga menatap dengan tatapan amarah yang meluap-luap.
"Tu---tuan," gugup Seo Ji yang mencoba menghampiri Tae Haa.
"Bos, kita cari di tempat lain aja." Nam Joo benar-benar seperti enggak tega melihat wanita yang tiba-tiba pergi tadi.
"Tuan, nanti saya bicarakan dulu dengan istri saya," ucap Seo Ji yang mencoba menenangkan Tae Haa.
Tae Haa menghela nafas panjang lalu melangkah menuju sofa dan kembali duduk. Nam Joo mengikuti langkah Bosnya dan berdiri tegak di sampingnya.
Beberapa menit kemudian.
"BAWA JALANG LAIN SEKARANG!" titah Tae Haa setelah meneguk wine di gelas.
"Baik Tuan!"
Dengan cepat Seo Ji langsung berlari keluar ruangan untuk mencari jalang yang di perintahkan Tae Haa.
"Bos---"
Nam Joo belum selesai berbicara namun Tae Haa langsung menarik lengannya dan duduk di sampingnya.
"Minum!" Tae Haa memberikan gelas yang berisi wine.
"Terimakasih Bos!" Nam Joo langsung mengambil gelas itu dan meneguk wine.
Setelah itu. Nam Joo langsung menyimpan gelasnya di atas meja, ia sebenarnya enggan minum dengan Bosnya namun karena suasana sedang tidak baik. Nam Joo langsung menuruti apa yang di perintahkan Bosnya.
"Bos, kenapa Bos menginginkan wanita tadi?" Tiba-tiba Nam Joo memberanikan diri untuk menanyakan ini karena ia benar-benar penasaran kenapa Bosnya langsung menginginkan wanita itu.
Setau Nam Joo, Bosnya itu benar-benar tidak bisa memilih orang sembarangan untuk bekerja dengannya. Apa lagi situasi seperti ini ia harus mencari wanita yang benar-benar bisa melahirkan keturunannya.
"Dia wanita baik," jawab Tae Haa dengan wajah datar.
Aku baru aja sampai di sebuah ruang ganti yang tadi aku sedang di make-up oleh Klara. Aku duduk di sebuah sofa dengan tubuh yang benar-benar gemetar.
"Cha," panggil seseorang yang baru aja masuk ke dalam ruang ganti.
Aku hanya menoleh dengan sekilas setelah itu kembali menundukkan kepalaku.
"Minum," titah seseorang itu dan memberikan sebotol air putih padaku.
Aku langsung mengambil botol itu dan meminum air itu, setelah meminum air aku langsung mengatakan. "Kla---Klara, siapa lelaki?" tanya aku sambil menatap seseorang yang baru aja memberikan minum padaku.
Seseorang yang baru aja memberikan aku air minum adalah Klara, ia sekarang sedang duduk di sampingku lalu menyentuh tanganku.
"Dia tamu VVIP di Klub ini dan dia juga berencana akan menginvestasikan beberapa uang di Klub aku, dia juga akan membayar semua hutang-hutang suamiku," jawab Klara seperti menjelaskan semuanya padaku.
"Tapi, kenapa dia menginginkan aku? Maksudnya dia menginginkan aku apa?" tanya aku pada Klara karena aku benar-benar tidak mengerti kenapa lelaki tadi menginginkan aku.
Klara mengambil botol air yang ada di tanganku lalu menyimpan botol itu di atas meja. Tiba-tiba aja Klara menggenggam tanganku dan menatapku dengan serius.
"Cha, apa kamu benar-benar ingin melunasi seluruh hutang adikmu?" Tiba-tiba Klara memberikan pertanyaan lainnya padaku dan tidak menjawab pertanyaan aku yang barusan.
"Tentu aku ingin melunasi seluruh hutang-hutang adikku," jawab aku dengan anggukkan kepala.
"Jadi, Tuan Tae Haa atau lelaki yang tadi kamu tanyakan itu dia sedang mencari seorang wanita untuk melahirkan keturunannya," ucap Klara.
"Melahirkan keturunannya? Maksudnya?"
Aku benar-benar enggak mengerti dengan apa yang di katakan Klara, lalu Klara sedikit tersenyum tipis padaku.
"Dia sedang mencari wanita untuk di nikah kontrak," jelas Klara yang membuatku membulatkan mata.
Aku benar-benar tidak percaya dengan penjelasan Klara karena mana ada wanita yang hanya di cari untuk di nikah kontrak dan melahirkan keturunan lelaki yang sama sekali enggak ia kenal.
"Kenapa lelaki itu enggak menikah aja?" tanya aku yang akhirnya penasaran dengan kehidupan pribadi lelaki tadi.
Karena logikanya, masa tidak ada seorang wanita yang mau menikah dengannya? Lelaki yang udah pasti tajir melintir tidak mungkin tidak ada yang menginginkannya untuk di jadikan pasangan suami-istri.
"Dia udah menikah dengan wanita yang sangat ia cintai," jawab Klara.
"Ya udah minta anak aja sama istrinya kenapa juga dia harus nikah kontrak dengan wanita lain?"
Aku mengerutkan keningku lalu melepaskan genggaman tangan Klara. Aku benar-benar enggak mengerti dengan lelaki itu, ia udah menikah tapi menginginkan nikah kontrak dengan wanita lain.
"Karena---"
Klara belum selesai berbicara namun aku langsung mengatakan. "Oh, apa istrinya mandul makanya ia menikah kontrak dengan wanita lain?" tanya aku dengan asal bicara.
"Kalau masalah itu, aku enggak tau dan aku hanya di berikan selembar perjanjian tentang nikah kontrak itu," jawab Klara dengan raut wajah yang benar-benar tidak tau tentang pribadi lelaki itu dan istrinya.
"Emang perjanjiannya apa?" Tiba-tiba aku penasaran dengan perjanjian nikah kontrak yang di berikan lelaki itu.
"Dia akan memberikan apapun keinginan istri kontraknya dan dia juga akan membiayai kebutuhan istri kontraknya dari awal menikah sampai melahirkan anaknya," jawab Klara dengan menjelaskan isi perjanjian yang udah ia baca di dalam ruangan tadi.
"Lalu apa lagi?"
"Tapi setelah wanita kontraknya melahirkan anaknya, ia tidak pernah boleh menampakkan wajahnya di hadapannya dan di hadapan anaknya nanti," jelas Klara lagi.
Penjelasan Klara yang terakhir membuat aku mikir berkali-kali jika menginginkan nikah kontrak dengannya. Sebenarnya aku sangat menginginkan uang untuk melunasi semua hutang adikku. Karena penjelasan awal nikah kontrak itu membuat aku terhipnotis menginginkannya tapi saat mendengar penjelasan akhirnya membuat aku mikir berkali-kali.
"Cha, kenapa bengong?" tanya Klara sambil menepuk pelan pundakku.
"Oh, ya?"
Aku baru tersadar lalu menatap Klara dengan bingung, tiba-tiba Klara mengusap-usap kepalaku.
"Apa kamu mau---"
Klara belum selesai berbicara tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan.
"Sayang," panggil seseorang itu sambil menatap Klara.
"Oh, kenapa sayang?" Klara langsung menatap seseorang itu yang ternyata suaminya.
"Aku mau mencari wanita lain untuk menemani Tuan Tae Haa," jawab Seo Ji.
"Menemani?" Klara memberikan wajah bingung.
"Ya dia butuh wanita malam ini, entah untuk apa," ucap Seo Ji dengan geleng-geleng kepala.
Dengan cepat Klara langsung menatapku dan berkata. "Cha, apa kamu mau nikah kontrak dengan Tuan Tae Haa?"