06 Terlalu Cuek

2045 Words
Evan tidak mau menghabiskan banyak waktu untuk menyeleksi sekretaris eksekutif yang baru. Setelah kedua kandidat tersisa melewati ujian terakhir, ia memilih yang laki-laki karena terbukti lebih unggul. Hal ini jelas menutup kesempatan bagi Grace sama sekali untuk menggagalkannya. Namun Grace yakin bahwa ia tetap punya akses untuk terhubung dengan sahabatnya, baik menjadi sekretarisnya atau tidak. Lagi pula ia adalah seorang asisten manajer HRD yang akan senantiasa berurusan dengan GM. Hari itu berjalan seperti biasanya. Hampir tidak ada yang berbeda. Grace selesai mengerjakan semua tugasnya hari itu dan bersiap untuk pulang. "Grace, lo beneran nggak ikut hangout malam ini? Friday night loh ini." Nita berusaha membujuk koleganya yang selalu menolak jika diajak untuk bersenang-senang ini. "Bukannya aku nggak mau ikut, tapi kan aku punya Bunda yang kerja di rumah. Kiosnya Bunda tuh buka jam empat sore. Tutup jam tujuh. Seenggaknya aku bisa bantu Bunda di satu setengah jam terakhir. Kamu kan tahu," ujar Grace menjelaskan alasannya untuk kesekian kalinya. Sebenarnya hal ini juga dijadikannya sebuah alibi untuk tidak menghabiskan uang yang bisa dipakainya untuk membantu sang Bunda. Nita tidak akan bisa membantah Grace jika berkaitan dengan Bundanya. "Ya, one day lah semoga kita bisa hangout. Ya kali udah tahunan kerja bareng, cuma setahun sekali atau dua kali kumpul bareng. Udah kaya mau jalan sama selebriti aja," tukasnya sedikit kecewa. Grace terkekeh. "Sepenting itu ya hangout sama aku? Kan masih ada banyak temen yang kamu ajak jalan biasanya," sahutnya. Matanya menyapu seluruh bagian mejanya, memastikan tidak ada yang ketinggalan atau belum dibereskan. "Ya penting lah! Lo tuh butuh istirahat. Butuh have fun. Jangan kerja mulu. Ubanan nanti." Nita menunjuk ke arah kepala Grace. Grace pun memiringkan kepalanya lalu membuka bagian kanan rambutnya sembarangan. "Udah ubanan ini. Dan ini bukan karena banyak kerja. Ini genetik," katanya. "Nah kan. Itu sih udah stress lo-nya." Nita merasa perkataannya terbukti benar, tidak mempedulikan pendapat Grace tentang faktor genetik. "Belum lagi lo ribet amat sih ngurus cowok itu? Ya kalo dia emang sahabat lo yang dulu baiknya sampai ke ubun-ubun, sampai lo nungguin bertahun-tahun, pasti suatu kali kembali. Tapi kalo dia bukan sahabat yang baik, mau lo kejar dan perjuangin juga jatuhnya bikin lo sakit hati nantinya." Ucapannya itu sudah seperti ocehan nenek-nenek yang tak mau berhenti bicara. Dengan senyuman tenang Grace menatap kawannya dan menjawab, "Udah selesai khotbahnya?" "'Serah lo dah. Yuk pulang." Nita berdiri dari tempatnya diikuti oleh Grace. Keduanya meninggalkan ruangan kantor. Beberapa orang lainnya juga bersama-sama berjalan dengan mereka. Beriringan mereka menuju ke lift. Baru saja masuk ke dalam lift, Grace menahan pintunya agar tidak tertutup. "Eh, tunggu-tunggu. Ada yang ketinggalan!" ucapnya. Ia melangkah keluar dari lift. "Duluan aja, Nit. Nggak papa. Sampai besok ya." Nita mengangkat kedua alisnya tanpa bicara, lalu mengangguk. Grace pun berjalan kembali ke ruangannya. Beruntung ia teringat akan HP-nya yang sedang diisi ulang di bawah meja. Jika tidak, kemungkinan besar ia harus menerima risiko kerusakan HP dan terpaksa membeli yang baru. Pada saat melangkah keluar dari kantornya, tanpa sengaja ia bertabrakan dengan sekretaris eksekutif yang baru itu. Beberapa pun folder jatuh berserakan di lantai. "Maaf, maaf, saya nggak lihat." Pria itu membungkukkan badan sekali ke arah Grace dan kemudian berjongkok untuk membereskan barang-barangnya. Grace turut berjongkok. "Nggak papa," katanya sambil membantu. Diberikannya sebuah folder yang diambilnya kepada pria itu. "Kenapa kamu belum pulang, um, Vino ya?" Ia bangkit berdiri lagi bersamaan dengan sang sekretaris yang namanya masih ia ingat. Vino menatap dengan ekspresi lelah. "Iya, Bu. Saya cukup kewalahan dengan tugas-tugas dari Pak Evan. Beliau bilang besok harus sudah selesaikan tugas ini. Jadi saya stay lebih lama aja di kantor supaya nggak ada tanggungan besok. Takut dimarahi juga saya," jelasnya dengan napas yang jelas sekali menandakan energinya terkuras banyak. Melihatnya dalam keadaan yang seperti ini membuat Grace tidak tega meninggalkannya. "Coba saya bantu. Tapi saya cuma bisa setengah jam di sini. Kita pakai meja di kantor ini saja, karena kamu bawa laptop juga," katanya menawarkan. Barangkali ada kesempatan baik yang ia dapatkan nantinya melalui hal ini. "Beneran nggak papa, Bu? Saya jadi merepotkan banget." Vino menjadi tak enak hati, tapi tidak mau menolak juga. Grace mengangguk. "Silakan ke meja yang di kanan itu. Saya perlu menelepon dulu," pintanya. Sementara Vino menuju ke tempat yang ditunjuk, Grace menelepon bundanya. Ia meminta izin untuk pulang terlambat, tapi sang Bunda justru berkata bahwa dagangannya sudah habis terjual. Alhasil ia tidak harus terburu-buru saat membantu. Dengan kemampuan dan pengetahuannya, Grace mengajari Vino untuk melakukan banyak hal secara efektif. Mulai dari penyusunan data, formula yang bisa dipakai di program spreadsheet serta sistem mailing yang cepat dan efektif. Beruntung sekretaris baru itu cepat menangkap apa yang diajarkan. Semuanya dicatat dengan baik. "Wah udah gelap. Hampir jam setengah tujuh," kata Vino ketika melihat jam di laptopnya. "Jadi selama ini, Bu. Padahal ibu bisanya cuma setengah jam." Grace menggeleng. "Nggak papa. Keperluan saya juga sudah beres tadi. Jadi bisa lebih lama," katanya. "Kenapa ibu mau bantu saya? Padahal ini bukan tugas ibu. Eh iya, ibu namanya siapa? Maaf saya nggak ngerti." Vino baru menyadarinya setelah cukup lama bersama dengan Grace. "Grace," jawab sang pemilik nama. Namun ia tidak bisa menjawab dengan jujur pertanyaan Vino yang lain. Tidak mungkin ia menyatakan secara gamblang bahwa ia sedang berusaha mengambil kesempatan sekecil apapun untuk mendekati Evan. "Saya pernah ada di posisi kamu. Bahkan berjuang sendiri. Jadi saya mau bantu aja sedikit di depan, supaya kamu bisa teruskan perjuangan ini dengan baik nantinya." Itulah yang pada akhirnya menjadi pilihan jawabannya. Mendengarnya Vino langsung merasa hormat pada wanita yang baru dikenalnya ini. "Terima kasih banyak, Bu Grace. Saya nggak akan pernah melupakan kebaikan ibu, kalau suatu kali saya sukses," ucapnya berjanji. Grace tersenyum, sedikit merasa bangga bisa membantu. "Sama-sama. Kalau gitu saya duluan ya. Kamu hati-hati," katanya lalu bangkit dari kursi. "Sampai bertemu lagi." Vino melambai singkat sebelum Grace berbalik pergi. Di luar sudah gelap. Ditambah lagi lampu di koridor kantor hanya menyala sebagian. Alhasil ia harus berjalan hati-hati agar tidak jatuh, mengingat betapa ia bisa menjadi sangat ceroboh. Grace berdiri di depan lift, menunggu pintunya terbuka. Ia berada di lantai teratas, maka dibutuhkan beberapa waktu untuk lift naik dari lantai dasar. Saat pintu lift terbuka, bukan hanya dia yang melangkah masuk. Sosok tinggi dan tegap yang tak lain dan tak bukan adalah sahabatnya sendiri menyusul tanpa kata terucap. Situasi yang hening itu terasa aneh bagi Grace. Ia pun berinisiatif untuk angkat bicara lebih dulu. "Kamu setiap hari pulang jam segini?" Sebuah pertanyaan basa-basi menjadi pilihannya. Namun yang ditanya tidak menjawab. Grace menoleh pada Evan yang tatapannya datar, seakan barusan tidak mendengar apapun. Dilihatnya telinga kanan dan kiri pria itu, tapi tidak ada earpiece yang menyumpal di sana. "Oh iya. Lupa. Ngomong sama boss harus hormat," celetuk Grace sarkastik. Ia pun merubah raut wajahnya sama sekali dengan memasang senyuman lebar. "Halo, Bapak Evan Williams. Baru selesai bekerja ya? Apa Bapak biasa pulang jam segini?" Bola mata Evan sedikit bergerak, hampir-hampir akan menatap Grace melalui ekor matanya. Tetapi ia mengalihkannya dengan cepat ke depan lagi. "Hmm." Sesingkat itulah tanggapan yang ia berikan diiringi anggukan kecil. Dengusan sinis diperdengarkan oleh Grace. "Asli. Pulang dari UK jadi sakit dia," ucapnya tanpa peduli akan menyinggung sahabatnya. "Kamu nih ... Apa sih yang terjadi, Van? Apa kamu nggak bisa cerita ke aku?" Evan bergeming. Ia enggan membahas topik ini. Grace memutar badannya hingga sekarang ia sepenuhnya menghadap Evan. "Seriusan deh. Ada sesuatu yang terjadi tapi kamu sembunyiin 'kan? Aku kenal kamu banget." "Kalau kamu kenal sama aku, seharusnya kamu nggak ikut campur dengan bantuin sekretaris baru itu," sahut Evan cepat. Pandangannya masih tetap lurus ke depan. "Hah? Apa hubungannya coba?" Grace menyilangkan kedua lengannya di depan d**a. Kali ini Evan menoleh. Tatapannya tajam sekali. "Aku lagi train dia untuk kenal aku sebagai boss-nya. Untuk kerja cepat dan efektif. Untuk bisa menyelesaikan masalah sendiri. Untuk menilai kekuatannya sendiri. Yang kamu lakukan itu cuma bikin dia bergantung sama kamu nantinya," jelasnya tegas. Perkataan Evan terdengar masuk akal di telinga Grace. Tetapi niatnya tadi bukan seperti itu sehingga ia pun menyahut membela diri. "Siapa bilang? Aku bukannya kasih dia ikan, tapi alat pancing. Lihat aja nanti dia justru jadi bisa kerja lebih cepet," katanya yakin. "Kalau kamu cuma kasih alat pancing, kamu nggak perlu sampai habisin satu setengah jam." Evan mengembalikan pandangannya ke depan. "Eh? Kok kamu—" Pintu lift terbuka. Lima orang masuk, membuat lift penuh. Grace terdesak ke kanan, menjauh dari Evan. "Oh? Grace? Kamu ingat aku kan? Abhi." Seorang pria menyapa dengan senyuman semringah. Grace hanya membalasnya dengan senyuman kecil. "Kenapa kamu baru pulang? Lembur? Eh, ikut hangout sama kita berlima yuk. Aku yang traktir kok." Abhi bersikap seolah kenal dekat dengan Grace. Padahal ia baru bertemu sekali dengan Grace setelah dikenalkan oleh Nita pada acara gathering staf tahun lalu. Sedari awal Grace tidak terlalu menyukai laki-laki itu, padahal ia cukup bisa bergaul dengan kebanyakan orang. Entah bagaimana ia menangkap sesuatu yang aneh dari Abhi. Melihat situasi ini tidak nyaman bagi Grace, Evan merasa ingin menengahi. Tetapi ia menahan diri karena tidak ingin lengah. Ia tak mau gadis itu menganggapnya masih peduli terhadapnya. Pikirnya situasi ini masih terkendali. "Makasih untuk ajakannya, tapi enggak dulu." Grace berusaha menolak dengan halus. Abhi memanyunkan bibirnya. "Capek ya? Aku juga sih yang ajak terlalu mendadak," katanya. "Kalau gitu Jumat depan kita hangout ya. Inget loh, aku ajak satu minggu sebelumnya. Jadi, please, ikut ya. Nita bakalan aku ajak juga kok." Dasar tukang paksa. Grace membatin kesal dalam hatinya, tapi harus tetap tampak tenang. Ia tidak ingin reputasinya yang sudah dibangun bertahun-tahun menjadi buruk karena hal sepele ini. "Kita lihat ya next week," ucapnya. "Kok kita lihat sih? Atur agenda dong," tukas Abhi sedikit lebih memaksa. Grace pun merasa tidak bisa membiarkan hal ini lagi. Ini berarti ia harus tegas menyampaikan penolakannya. "Abhi, dengan tidak mengurangi rasa hormat, saya harus memberitahu bahwa saya masih harus bekerja setelah pulang. Saya tidak punya waktu untuk hangout. Bahkan ajakan Nita saja tolak, terlebih kamu yang baru saya kenal. Mohon pengertiannya," ujarnya. Abhi dan teman-temannya tertegun seketika setelah mendengar jawaban Grace. Sudah jelas bahwa pria itu tidak memiliki kesempatan sedikitpun. Situasi di dalam lift langsung menjadi hening dan canggung. Beruntung bagi Abhi karena lift sampai di lantai dasar dalam satu menit. Jika tidak, ia akan merasa sangat dipermalukan, terlebih dengan keberadaan sang GM di sana. Kelima orang tersebut melangkah keluar, dengan Abhi yang berjalan paling depan secepat kijang berlari. Setelah itu Evan menyusul tanpa berniat mempersilakan Grace keluar lebih dulu. "Kamu boleh pura-pura nggak peduli. Tapi cepat atau lambat, kamu nggak akan tahan perlakukan aku kaya gini, Evan." Grace sedikit mengeraskan suaranya saat menyampaikan unek-uneknya. Evan tetap berjalan tanpa terpengaruh akan perkataan Grace. Grace tidak berniat mengejar Evan. Badannya terasa sedikit lemas. Pasalnya sudah setengah jam lebih ia melewatkan waktu makan malamnya; pukul enam di rumah. "Tahan perut, tahan. Tinggal pesen taksi online, dua puluh menit sampai." Grace berkata-kata pada dirinya sendiri sambil membuka aplikasi taksi online di HP-nya. Pada waktu hendak menekan tombol 'pesan', suara familiar memanggil namanya terdengar. "Grace!" Anthony melambai dari atas motornya. Mata Grace langsung terang saat melihat teman sekampungnya. Ia bergegas mendekati Anthony. "Kok kamu di sini?" tanyanya. Anthony menyerahkan sebuah helm ke tangan Grace. "Bunda kamu telepon, katanya kamu masih di kantor. Kebetulan aku nggak jauh dari sini. Terus aku tanya tadi sama satpam, kamu udah keluar belum. Ternyata belum. Jadi aku tunggu sebentar aja di sini," jelasnya. Sambil memasang helm, Grace bertanya, "Sebentar kamu tuh berapa lama? Satu jam?" "Enggak. Ogah nungguin kamu selama itu. Lima belas menitan lah," sahut Anthony yang kemudian disambut dengan kekehan Grace. "Ayo pulang. Laper banget nih aku." Grace dengan mudah menempatkan diri di belakang Anthony. Beruntung ia memakai celana panjang hari ini, bukannya rok seperti biasanya. "Ngebut ya, Bli." Ia mengeluarkan candaan, seakan memperlakukan Anthony seperti seorang pengendara ojek online. Anthony pun memiringkan motornya sedikit ke kiri dan membuat Grace agak berteriak kaget. "Nah, gek harusnya pegangan erat. Ini baru simulasi. Kalau udah di jalan beneran, bisa terpental nanti," tukasnya senang sekali mengerjai temannya itu. Karena tidak terima, tangan Grace langsung mengayun memukul punggung Anthony. "Eh! Sadis banget sih?" Anthony mengerang sambil menggeliat karena kesakitan. "Makanya jangan suka ngerjain gitu dong!" Grace tidak peduli telah menyakiti lelaki itu. Ia benar-benar sudah lapar sekarang. "Ayo pulang!" Ia memaksa. Meskipun masih merasa sedikit nyeri, Anthony tertawa. Ia kemudian menyalakan motornya dan membawanya meninggalkan area hotel. [ABY]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD