Sunset

1478 Words
Keduanya berjalan memasuki coffe shop dan mendapati Mia dan Nabilla sudah datang lebih dulu dan menunggu di meja tempat mereka biasa berkumpul. “Hai, kalian udah lama datang?” Tanya Aluna sembari meletakkan tasnya diatas meja dan duduk di kursi kosong dihadapan Mia. “Belum kok baru sekitar 10 menit yang lalu ya Bill kayanya.” Yang ditanggapi dengan anggukan Nabilla. “Yaudah kalau gitu pesannya sekalian aja, jadi siapa yang mau pesan nih?” Tanya Bianca kepada ketiga sahabatnya yang pura-pura sibuk sendiri. “Iyaya aku yang pesanin deh, Al kamu temenin aku ya.” Ucapnya sembari mengeluarkan senyum ancaman kepada Aluna yang ditanggapi dengan anggukan pasrah Aluna. “Kalian catet aja pesanannya terus kirim lewat chat ya males hafalin pesanan kalian berdua, dan mana sini uangnya aku sama Aluna lagi bokek, ya gak Al?” Yang lagi-lagi ditanggapi dengan anggukan oleh Aluna. Kemudian mereka berdua menghampiri kasir untuk memesan dan menyebutkan semua pesanan mereka. Saat mereka sudah selesai melakukan transaksi dan menunggu pesanan mereka disiapkan Bianca menjahili Aluna dengan bertanya kepada kasir. “Eummm Mba ngomong-ngomong Pak Alvaro kemana kok gak keliatan?” Membuat Aluna melotot kearahnya dan menginjak kakinya. “Aduh apaan sih Al sakit tau gak.” Bianca mencebikkan bibirnya dan mengaduh kesakitan tapi tetap menjalankan aksinya menjahili Aluna. “Pak Alva jam segini belum datang, biasanya sih dia datang habis maghrib.” Sahut kasir yang ber nametag Anjani sembari tersenyum dan menyerahkan pesanan kepada Bianca. “Oh gitu yaudah makasih ya Mba nanti kalau dia datang bilang dicari Aluna.” Ucap Bianca sembari tertawa dan menerima pesanannya. Aluna hanya diam dan menunduk merasa malu. “Bi kamu tuh rese banget sih padahal udah aku traktir dasar ngeselin.” Gerutu Aluna sambil berjalan lebih dulu meninggalkan Bianca yang membawa nampan isi pesanan mereka. “Kenapa Al? Kok mukanya ditekuk gitu?” Tanya Nabilla yang melihat raut kesal Aluna yang hanya ditanggapi dengan gelengan kepala Aluna. “Bukannya bantu bawa pesanan malah kabur dasar.” Bianca datang dan meletakkan pesanan mereka sembari bergumam. Keempat orang sahabat itu tengah asyik bercerita dan membicarakan apa saja bahkan sampai gossip terbaru dari hiburan tanah air Indonesia sampai tidak menyadari ada seorang lelaki yan tengah berjalan kearah meja mereka dengan satu cup ice Americano ditangannya. “Hallo semua kita ketemu lagi,” sapa Alvaro kepada keempat orang itu yang nampak kaget karena kehadirannya. “Ah maaf ganggu ya kayanya?” Tanya Alvaro dengan tidak enak. “Sama sekali tidak Al, kita cuma kaget saja tiba-tiba kamu ada disini.” Sahut Bianca dengan terkekeh kecil sembari mempersilahkan Alvaro duduk disamping Aluna. “Terimakasih Bi,” Alvaro tersenyum kearah Bianca kemudian mendudukan dirinya. “Oh iya Al, kata Jani kamu cari aku ada apa Al?” Netra Alvaro fokus terhadap Aluna.  “Ahh itu bukan aku, tadi Bianca yang sengaja isengin aku. Maaf ya Varo” Aluna menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Santai Al, gak apa-apa kok tapi ngomong-ngomong kenapa Bianca isengin kamu?” Tanya Alvaro seolah menggoda Aluna. Nabilla dan Mia yang mendengar percakpaan mereka hanya menunjukkan raut kebingungan, sementara Bianca diam menahan tawanya mendapati respon Aluna yang benar-benar salah tingkah karena pertanyaan Alvaro. “Haha gatau Bianca tuh biasa dia begitu,” Aluna tertawa paksa. “Eumm aku ke toilet dulu ya.” Buru-buru meninggalkan meja dan berlari kecil menuju toilet. Sesampainya di toilet wanita Aluna berusaha menetralkan degup jantungnya yang tidak karuan sembari mengkibas-kibaskan tangannya didepan wajahnya yang terasa panas. “Ah sial, aku kenapa sih kok deg-degan gini.” Gumam Aluna menghadap ke cermin. Setelah Aluna merasa baik-baik saja dia kembali ke mejanya dan mendapati Alvaro yang sudah tidak ada disana membuat Aluna mendesah lega. “Udah jam 11 nih. Pulang yuk ngantuk mau bobok.” Ucap Aluna sembari menampakkan wajah sok imutnya yang ditanggapi kerlingan malas dari teman-temannya. “Bentar Al, Alvaro minta ditunggu sebentar dia lagi urus kerjaannya dulu.” Sahut Bianca tanpa mengalihkan netranya dari ponsel yang ia mainkan. “Loh kenapa harus tunggu Varo emangnya?” Tanya Aluna bingung, tetapi teman-temannya memilih diam dan tidak menjawab membuat Aluna mengerucutkan bibirnya kesal. Aluna memilih untuk memejamkan mata menikmati musi yang sedang diputar di coffe shop. “Yuk Al kita pulang, kerjaan aku udah beres.” Ajak Alvaro kepada Aluna yang membuat gadis itu kebingungan. “Eumm kita? Maksudnya aku dan kamu Varo?” Tanya Aluna dengan jarinnya yang menunjuk kearahnya sendiri dan kemudian menunjuk Varo. “Iya Al. Katanya Bianca gak bisa anter kamu pulang.” Sahut Alvaro memberi isyarat pada gadis itu untuk segera berdiri dan mengikutinya. “Kalau gitu kita pulang dulu ya. Kalian hati-hati dijalan.” Pamit Aluna kepada teman-temannya yang diangguki oleh mereka bertiga. “Langsung pulang ya Alva, jangan diculik Aluna nya!” Bianca berteriak kearah Alvaro dan Aluna yang ditanggapi dengan pelototan tajam Aluna dan kekehan kecil Alvaro seraya mengacungkan jarinnya membentuk kata “Oke” kearah Bianca. Kemudian keduanya berjalan beriringan menuju mobil Alvaro dengan tangan Alvaro yang menggandeng pergelangan tangan Aluna. Alvaro mempersilahkan Aluna masuk ke dalam mobilnnya lalu disusul dirinya yang duduk dibalik kemudi dan mulai mengeluarkan mobilnya dari parkiran. “Al besok kamu punya waktu luang pas jam makan siang?” Alvaro bertanya sembari sesekali melihat kearah Aluna. “Kenapa emang?” Aluna merubah posisi duduknya menghadap Alvaro yang sedang menyetir. “Kamu mau ajak aku makan siang ya?” Tebaknya. “Kalau kamu gak keberatan Al.” Sahut Alvaro. “Oke Varo,” Aluna menyetujui ajakan Varo. “Nanti aku kabari ya setengah jam sebelum jam makan siang.” Suasana kembali hening diantara mereka berdua, hingga tidak berselang lama keduanya sampai di area apartement Aluna. “Kalau gitu makasih ya Varo, kamu hati-hati dijalan. See you tomorrow Varo and good night” ucap Aluna dengan senyum menghiasi bibirnya. “Okay Al, masuk gih udah malam, aku jalan dulu ya see you too.” Alavaro perlahan melajukan mobilnya dan meninggalkan area apartement Aluna. Sepeninggalan Alvaro, Aluna berjalan kearah lobi apartementnya lalu tangannya merogoh tas untuk mengambil hp yang sempat berbunyi menandakan ada satu pesan masuk. Bibirnya otomatis tersenyum saat membaca pesan yang datang dari Alvaro, katanya “Good night too princess.” Keesokan harinya mereka kembali bertemu untuk makan siang bersama sesuai ajakan Alvaro semalam. Keduanya semakin dekat hingga tanpa terasa sudah sekitar sebulan mereka kenal dan cukup sering pergi berdua lebih mirip dengan sepasang kekasih yang tengah berkencan tepatnya. Hari ini tepatnya di minggu awal bulan Oktober Alvaro kembali mengajak Aluna untuk pergi dengannya. Kebetulan ini hari Sabtu dan Aluna libur, jadi Alvaro berniat mengajak Aluna jalan-jalan seharin sekalian malam mingguan. Siangnya mereka mengunjungi Dufan dan menaiki beberapa wahana, hingga dirasa cukup saat keduanya merasa lelah dan memutuskan untuk istirahat sejenak. Rencananya setelah ini Alvaro ingin mengajak Aluna ke restoran tepi laut yang ada di Ancol, ingin melihat sunset mumpung cuaca hari ini sedang bagus, saat sudah mulai sore Alvaro mengajak Aluna untuk keluar dari Dufan. Sepanjang mereka berjalan bersama lengan Aluna selalu digandeng oleh Alvaro seolah-olah Aluna adalah anak kecil yang akan tersesat jika tidak digandeng. “Varo aku lapar dan sangat haus.” Ucap Aluna sembari mengerucutkan bibirnya yang membuat Alvaro gemas sehingga mencubit kedua pipi Aluna. “Aw… Kok dicubit sih Varo, sakit tahu.” Protesnya dengan mengusap-usap pipinya yang sedikit terasa sakit. “Haha abis kamu lucu, gemesin banget Al.” Alvaro justru tertawa menunjukkan wajah tidak bersalahnya. “Ih bukannya minta maaf malah tertawa.” Aluna kesal dan menyilangkan kedua lengannya didepan tubuh menunjukkan gesture tubuh seolah sedang ngambek. Alvaro menangkup wajah Aluna dan mengarahkan wajah gadis itu untuk menghadapnya, hingga kemudian sepasang manik mata itu bertemu. Alvaro tersenyum menatap Aluna yang masih nampak cemberut. “Iya maaf ya Al tadi kamu gemesin soalnya jadi aku cubit deh.” Ucap Alvaro diiringi senyum tulus dari bibirnya yang malah membuat Aluna merona. “Eum iya gak apa-apa Varo eumm tadi aku juga Cuma bohongan ngambeknya,” Aluna memundurkan wajahnya takut kalau Alvaro melihat pipinya yang mungkin bersemu karna perlakuan Alvaro. “Ayo Varo jalan, aku sudah sangat lapar dan haus.” Aluna melanjutkan ucapnya tanpa memandang Alvaro yang masih menatapnya dari samping. Alvaro tersenyum melihat tingkah Aluna yang salah tingkah, kemudian tangannya bergerak untuk mengacak rambut Aluna dengan sayang, kemudian dirinya memasang seatbelt dan mulai melajukan mobilnya. Sementara itu disisi kiri Aluna berusaha bersikap biasa saja atas perbuatan Varo barusan. “Yang diacak rambut, kok yang berantakan hati ya.” Dewi batin Aluna berbicara. Tidak membutuhkan waktu lama bagi keduanya untuk sampai di sebuah restoran tepi laut dengan pemandangan yang menyegarkan mata. Mereka duduk berhadapan disebuah meja yang tepat menghadap ke arah laut dimana mereka bisa melihat perlahan-lahan warna langit sore itu berubah menjadi keemasaan. Saat tengah asik mengagumi keindahan sunset sore itu tiba-tiba Aluna merasa tangannya digenggam, oleh siapa lagi kalau bukan lelaki yang duduk dihadapannya saat ini. “Hangat” ucap Aluna dalam hati sembari menatap tangannya yang digenggam oleh Alvaro. “Aluna.” Panggilan itu membuat Aluna memfokuskan netranya menatap lelaki dihadapannya. “Al, aku rasa aku suka kamu, mungkin terbilang cepat untuk aku dan kamu yang baru mengenal satu bulan belakangan ini, tapi aku gak bisa bohong Al, aku nyaman setiap ada didekat kamu.” Nampak kesungguhan dari mata Alvaro saat mengatakan itu, membuat jantung Aluna rasanya berkerja dua kali lipat. “Will you be my girlfriend Al?” Netra Alvaro menatap lekat kearah netra Aluna, tangannya menggemgam tangan Aluna seolah meyakinkan. “Varo… aku… eum aku,” Aluna menjeda kalimatnya sebentar berusaha menghilangkan kegugupan dari dirinya. “Ya Varo aku mau.” Sahut Aluna penuh keyakinan disertai senyuman yang menghiasi bibirnya. Hari itu tepatnya 5 Oktober 2019, dibawah langit sore keemasan, dengan terpaan angin laut yang menyejukkan, keduanya memutuskan mengubah status mereka menjadi lebih dari seorang teman. Dua insan yang tengah kasmaran itu hanya terfokus satu sama lain menatap jauh kedalam netra masing-masing, dengan bibir yang melengkung membentuk bulan sabit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD