Diam yang Pertama

1428 Words
Katanya Tuhan selalu ada. Lucu sekali. Malam itu Gang Kelam Pasar Karanganyar basah oleh hujan yang tak kunjung reda, seolah langit sendiri sedang menangisi sesuatu yang tak pernah bisa ia perbaiki. Air menggenang di antara retakan aspal yang sudah retak sejak bertahun-tahun lalu, memantulkan cahaya neon rusak yang berkedip-kedip seperti mata orang sekarat yang menolak mati. Setiap tetes hujan jatuh dengan bunyi pelan, seperti jarum yang menusuk pelan ke kulit jiwa. Bau got yang busuk bercampur dengan getah plastik dan asap rokok kretek menyelimuti udara, tebal, lembab, dan tak bisa dilepas — seperti selimut dosa yang sudah menjadi bagian dari tubuh Damar sendiri. Ia duduk di atas kardus yang sudah setengah hancur, punggungnya menempel pada tembok bata berlumut yang terasa seperti kulit orang mati yang masih bernapas. Jaketnya basah kuyup, tapi ia tak peduli. Dingin itu sudah menjadi teman lama, sama seperti keheningan yang kini ia benci sekaligus butuhkan. Di tangan kirinya, plastik kecil itu masih hangat — racun yang ia jual setiap malam, racun yang memberi orang lain pelarian sesaat sambil perlahan menghancurkan mereka dari dalam. Di saku jaketnya, besi dingin terasa lebih berat daripada seharusnya, seolah benda itu punya nyawa sendiri yang menunggu saat yang tepat untuk menelan. Damar mengangkat wajah ke langit yang gelap. Tetes hujan jatuh ke pelupuk matanya yang sudah merah karena kurang tidur dan terlalu banyak asap. Air itu terasa asin, atau mungkin hanya air matanya sendiri yang tak mau jatuh. Kalau Engkau benar-benar ada, batinnya, suaranya dalam hati terdengar seperti gema di sumur yang kosong, kenapa Engkau membiarkan hidupku jadi seperti ini? Pertanyaan itu bukan baru. Sudah bertahun-tahun menggerogoti seperti cacing di dalam tulang punggungnya, pelan tapi tak pernah berhenti. Dulu, di Desa Sumberlumpur yang jauh di pinggiran, ibunya sering memegang tangannya saat azan Maghrib berkumandang dari masjid kecil di ujung sawah. “Tuhan selalu dengar, Nak,” katanya dengan suara lembut yang kini terasa seperti dusta lama, seperti cerita dongeng yang diceritakan kepada anak kecil agar mereka tak takut gelap. Ibu akan menuntunnya berdoa, tangan kecil Damar berada di dalam genggaman hangat itu, bibirnya mengucap kata-kata yang saat itu terasa penuh makna. “Ya Tuhan, lindungi kami,” gumam mereka bersama. Dan untuk sesaat, dunia terasa aman. Sekarang, tangan itu sudah tak pernah lagi ia genggam. Ibu masih di desa, masih menunggu telepon yang jarang ia jawab, masih percaya bahwa anaknya bekerja di pabrik di kota. Damar tak pernah berani bilang yang sebenarnya. Ia takut mendengar suara ibunya yang pecah jika tahu anak laki-lakinya kini hidup dari racun yang ia jual. Sekarang, yang ia pegang hanya plastik kecil itu dan besi dingin di saku. Dua benda yang sama-sama dingin, sama-sama berat, sama-sama menjanjikan akhir yang cepat. Sebuah motor lewat pelan di ujung gang. Lampunya kuning redup, menyapu wajah Damar sesaat sebelum hilang lagi ke dalam kegelapan. Ia tak bergerak. Hanya menatap genangan air di depannya, di mana bayangannya pecah-pecah seperti cermin yang sengaja diinjak berkali-kali. Wajah itu — wajah yang dulu pernah dilihat ibunya dengan bangga — kini tak lagi dikenali. Mata cekung, rahang tegang, bekas luka kecil di pipi yang ia dapat dari perkelahian tempo hari. Ini aku, pikirnya. Ini yang tersisa setelah Tuhan diam saja. Rian bilang kemarin malam, “Gue capek, Mar. Mau berhenti.” Suaranya serak, tangannya gemetar saat memegang rokok. Damar hanya tertawa saat itu. Tertawa yang terasa pahit di tenggorokan, seperti ludah bercampur darah. Karena ia tahu, berhenti di dunia ini sama saja dengan mati lebih cepat. Hutang pada bos besar tak pernah tidur. Polisi di Karanganyar semakin pintar. Dan tubuh mereka sendiri sudah terlalu rusak untuk kembali ke jalan yang lurus. Rian adalah satu-satunya orang yang masih ia anggap saudara di kota ini. Mereka sudah bersama sejak Damar baru tiba di Karanganyar lima tahun lalu, dua anak desa yang tersesat di lautan lampu neon dan bau limbah pelabuhan. Mereka pernah berjanji akan keluar bersama. Janji yang kini terasa seperti lelucon murahan. Tapi malam ini, Rian tak muncul. Biasanya ia datang pukul sepuluh tepat, mata merah karena kurang tidur, tangan gemetar minta barang untuk besok. Malam ini gang terasa lebih sepi dari biasanya. Hanya suara hujan yang jatuh tanpa henti dan detak jantung Damar sendiri yang terlalu keras, terlalu cepat. Ia mengeluarkan rokok dari saku, menyalakannya dengan tangan yang sedikit bergetar. Api korek api menyala sebentar, menerangi wajahnya yang pucat. Asap pertama keluar lambat, bercampur embun malam, naik ke atas seperti doa yang tak pernah sampai. Gue bukan atheis, batinnya lagi, mengulang kalimat yang sudah ribuan kali ia ucapkan dalam hati. Gue cuma… kecewa. Marah. Tapi masih bodoh cukup untuk berharap. Harapan itu seperti luka lama yang tak mau sembuh. Setiap kali ia ingat doa masa kecil, ada rasa sesak yang aneh di d**a. Seolah Tuhan sedang berdiri di pojok gang ini, di balik tumpukan kardus basah, diam saja, memperhatikan tanpa berniat membantu. Bukan marah. Bukan hukuman. Hanya diam. Dan diam itu lebih menyiksa daripada segala kutukan yang pernah ia dengar. Damar menarik napas dalam. Rokoknya hampir habis. Abu jatuh ke genangan air, lenyap seketika. Ia memandang plastik kecil di tangan kirinya lagi. Racun itu. Sudah berapa ratus orang yang ia jual barang ini? Berapa yang sudah mati pelan-pelan seperti Rian? Ia tak pernah menghitung. Menghitung berarti mengakui dosa, dan mengakui dosa berarti harus berhenti. Tapi berhenti berarti mati. Lingkaran yang tak pernah putus, seperti roda motor yang terus berputar di jalan basah ini. Tiba-tiba, langkah kaki ringan terdengar dari ujung Gang Kelam. Bukan langkah Rian yang biasa terseok-seok karena badan sudah lemah. Langkah ini pelan, ragu-ragu, seperti orang yang takut bayangannya sendiri akan menelan dia hidup-hidup. Damar menegang. Tangan kanannya tanpa sadar meraba besi dingin di saku, merasakan dinginnya yang menusuk telapak tangan. Seorang perempuan muda muncul di bawah cahaya neon yang berkedip. Umurnya mungkin baru sembilan belas atau dua puluh tahun. Bajunya basah kuyup menempel di tubuh kurusnya, rambut hitam panjang menempel di dahi dan pipi. Matanya cekung, lingkar hitam di bawahnya seperti bekas pukulan malam-malam yang tak pernah ia ceritakan. Tapi di balik cekung itu, masih ada sedikit cahaya yang belum padam sepenuhnya — cahaya yang Damar kenali terlalu baik, cahaya yang biasanya mati setelah beberapa bulan saja di dunia ini. Ia berhenti lima langkah di depan Damar. Tangan kanannya gemetar memegang uang receh yang sudah lembab oleh hujan. Uang itu sedikit, tapi cukup untuk satu bungkus kecil. Cukup untuk melarikan diri sejenak dari apa pun yang sedang mengejarnya malam ini. “Mas…” suaranya kecil, hampir hilang ditelan deru hujan. “Satu bungkus aja. Yang kecil.” Damar mengangkat wajah perlahan. Waktu seolah berhenti. Wajah itu. Ya Tuhan, wajah itu mirip sekali dengan adiknya dulu — adik perempuan yang kabur dari rumah bertahun-tahun lalu karena malu memiliki kakak seperti dirinya. Mata yang sama, hidung yang sama, bahkan cara ia menggigit bibir bawah saat takut. Sesaat, Damar merasa dadanya diremas oleh tangan tak kasat mata. Sesak. Sakit. Seperti ada sesuatu yang retak di dalam tulang iganya. Ia bisa memberi plastik itu. Ambil uang receh itu. Lanjutkan malam seperti biasa. Besok pagi hutang pada bos akan terbayar sebagian, dan ia bisa beli lebih banyak racun untuk dijual lagi. Siklus yang aman. Siklus yang sudah ia kenal luar dalam. Atau… Tangan kirinya bergetar di atas kardus basah. Plastik kecil itu masih hangat di genggamannya — racun yang sudah menghancurkan begitu banyak nyawa, termasuk nyawanya sendiri. Di saku jaket, besi dingin itu seolah menunggu, dingin dan sabar, seperti Tuhan yang ia pertanyakan. Ia bisa melempar semuanya ke got. Bisa bilang pada perempuan ini untuk pulang, untuk tidak mulai. Bisa sekali ini saja menjadi sesuatu yang tak ia kenali: orang yang tidak menambah dosa. Hujan semakin deras. Air membasahi wajahnya, bercampur keringat dingin. Suara azan Isya mulai berkumandang samar dari Masjid Nur Hening di ujung pasar. Suara itu indah, melengkung seperti doa yang pernah ia ucapkan dulu, tapi terdengar jauh sekali. Seperti ejekan halus dari langit yang tak pernah ia pahami. Azan itu seolah berkata: Aku ada di sini. Tapi kau terlalu jauh. Damar menatap perempuan muda itu lama. Matanya tak berkedip. Ia melihat masa depan yang sama seperti milik adiknya, seperti milik Rian, seperti milik dirinya sendiri. Tenggelam. Pelan. Tanpa suara. Lalu, dalam hati yang paling gelap dan paling sunyi, ia bertanya lagi pada yang tak pernah menjawab: Kalau Engkau ada… bicara sekarang. Hening. Hanya suara hujan yang jatuh tanpa henti ke genangan air, dan detak jantungnya sendiri yang semakin kencang, semakin kencang, seolah ingin meledak. Damar menutup mata sejenak. Ketika ia membukanya lagi, tangannya sudah bergerak pelan ke arah plastik kecil itu. Jari-jarinya menyentuh permukaannya yang licin. Racun itu terasa hidup di bawah kulitnya. Dan Tuhan — jika memang ada — tetap diam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD