Kedatangan Umi dan Abi

1008 Words
Lagi-lagi keheningan menyelimuti perjalanan kami. Jarak yang tinggal beberapa kilo meter terasa sangat lama. Ponsel belum juga di kembalikan padaku. Tulisanku belum sempat tersimpan, awas saja kalau sampai hilang atau terhapus. Kubayangkan susah-susah merangkai kata, menjadikan tulisan itu hidup dan tinggal sedikit lagi selesai,tapi tiba-tiba hilang begitu saja. Itu sakit tak berdarah yang sebenarnya. Sungguh aku akan membuat perhitungan padamu Mas Adam, jika sampai tulisanku sampai hilang. Mobil berhenti di carport,segera aku keluar meninggalkan Mas Adam yang masih diam membisu. Memasuki rumah, segera aku mandi karena badan sudah terasa sangat lengket. Krucuuk ... krucuuk ... krucuuk. Cacing di perut sudah meronta-ronta meminta haknya.Aku ingat, seharian baru memasukkan makanan satu kali saja, pantas saja aku sudah kelaparan begini. Tak butuh lama untuk memasak nasi goreng kesukaanku. Dua piring nasi goreng dengan telur ceplok di atasnya siap di santap. Tanpa menunggu Mas Adam, kumasukan nasi goreng ke dalam mulut. Tak perduli dia sudah makan atau belum! "Kok makan sendirian,Ais?" tanya Mas Adam sambil menarik kursi dan duduk di sebelahku. Tanpa menjawab kulanjutkan menghabiskan nasi goreng. Tinggal satu suap habis tak bersisa. Alhamdulillah, kenyang. Beranjak berdiri, malas rasanya jika aku harus berlama-lama duduk bersebelahan dengan Mas Adam. Lelaki teregois yang pernah aku temui di muka bumi ini. "Duduk, aku ingin bicara!" ucapnya setelah menghabiskan sepiring nasi goreng yang kubuatkan. Dengan rasa malas, kujatuhkan bobot di kursi. Mas Adam menatapku dengan sorot mata penuh pertanyaan. "Ada hubungan apa Kamu dengan Daniel?" ucapnya datar. Kenapa dia tiba-tiba bertanya seperti itu, sejak kapan Mas Adam ikut campur urusanku. Aneh, kadang dia cuek, kadang sok perhatian, dan yang paling menyebalkan, dia terlalu kepo. "Bukankah Mas tau, Daniel yang membantuku agar bisa bekerja di butik kakaknya. Daniel juga teman Mas Adam. Apa yang perlu di pertanyakan lagi?" Heran, kenapa Mas Adam bertanya tak jelas begini. "Halah jangan bohong Kamu!" Mas Adam mencebikan bibir. "Kalau gak percaya, kenapa juga tanya!" ketusku. "Ini apa?" Mas Adam meletakkan ponselku yang telah terbuka di aplikasi berwarna hijau. Aku sampai luka kalau ponsel di bawa Mas Adam dari tadi. Karena kelaparan jadi lupa semuanya. "Maksudnya?" menyatukan kedua alis. Aku benar-benar tak mengerti ucapan Mas Adam. "Baca!" Nada suaranya naik satu oktaf. Segera aku baca pesan dari Daniel. [Malam mbak Aisyah, lagi apa? ] [Kok cuman dibaca doang?] [Sudah tidur ya? pasti kecapekan ya? selamat malam, semoga mimpi indah ya hehe] Aku geleng-geleng kepala membaca pesan Daniel. Ya Allah kenapa Daniel mengirim pesan seperti itu padaku. Padahal aku adalah istri temannya sendiri. Astaga, aku lupa, di mata Daniel aku adalah sepupu Mas Adam. Tak salah jika Daniel mengirim pesan seperti itu padaku. Mungkin dia ingin berteman baik dengan aku. Yang dia pikir adalah sepupu dari temannya. "Kamu buka ponselku tanpa izin Mas? Kamu tahu tidak , ponsel itu termasuk privasi!" "Aku ini suami kamu, Aisyah!" Mas Adam menatapku tajam. Seketika aku tertawa terbahak-bahak. Mas Adam semakin kesal dengan tingkah polahku. Tapi entah kenapa aku justru suka dengan ekspresi Mas Adam. Dia seperti cemburu! Apa mungkin dia mulai menyukaiku? Tapi rasanya mustahil! "Sejak kapan kamu mengakui aku sebagai istrimu Mas?" Mencebikan bibirku. Mas Adam seperti kebingungan dengan ucapanku. Wajahnya merah padam, entah karena malu atau karana marah. Aku tak tahu pastinya. "Aku tak suka kamu dekat dengan Daniel!" "Aku tak boleh dekat Daniel, sementara kamu bebas pacaran dengan Jesica. Seperti itu keinginanmu Mas?" Aku perjelas maksud Mas Adam. "Mau kamu apa sih Mas? kemarin bilang tak akan ikut campur urusanku dan aku tak boleh ikut campur semua privasi dan urusanmu. Tapi sekarang kamu sendiri yang ikut campur. Aneh!" Tanpa menjawab, Mas Adam pergi begitu saja.Dasar tak punya etika! Ya Robb, apa dosa-dosaku dimasa lalu sehingga Kau kirimkan jodoh seperti Mas Adam. ***** Sebulan sudah aku dan Mas Adam saling diam, berbicara hanya seperlunya saja. Kita bagai orang asing yang tinggal satu atap. Bukan bagai, lebih tepatnya kita orang asing yang terpaksa menikah dan tinggal satu atap. Sebagai seorang istri, aku tak pernah lupa dengan tugas dan kewajibanku. Membersihkan rumah dan memasak, tak pernah lebih dari itu. Mas Adam sendiri tak pernah lupa memberi nafkah lahir padaku. Lima belas juta masuk ke rekeningku di awal bulan. Ku gunakan untuk memenuhi kebutuhan kami selama sebulan. Dari membayar tagihan listrik,air dan makan kami.Jika jatah bulanan sisa selalu ku tabung. Sedang untuk kebutuhan pribadiku seperti make up, skincare menggunakan uang pribadiku. Aku tak mau di katakan menghambur-hamburkan uang suami hanya untuk perawatan. Karena banyak suami di luar sana yang seperti itu. Menginginkan istri cantik tapi tak memberinya modal, menyedihkan memang. Bel berbunyi berulang kali dengan cepat kulangkahkan kaki menuju pintu utama. Siapa yang bertamu? tak mungkin Jesica, Mas Adam saja tak di rumah mana mungkin dia kemari. Tak menutup kemungkinan justru Jesica bersama Mas Adam saat ini, menghabiskan liburan untuk pacaran.Sungguh memuakkan. Dengan rasa penasaran ku buka pintu utama. "Umi ... Abi...." Mataku membulat melihat kedua orang tua Mas Adam berdiri tepat di hadapanku. Bagaimana ini? Bagaimana kalau mereka tahu aku tak sekamar dengan Mas Adam? bisa runyam! "Assalamu'alaikum Aisyah," ucap umi menyentakku dari lamunan. "Wa ... Waalaikumsalam ,Umi, Abi." Aku cium punggung tangan umi dan abi dengan takzim. "Masuk, Mi, Bi." Aku angkat koper ke dalam rumah. Umi dan abi berjalan memasuki rumah. Aku bawa koper ke dalam kamar umi dan abi di lantai atas. Sesampainya di kamar umi, aku ambil ponsel dari saku dan menghubungi Mas Adam. Tut ... tut ... tut. Panggilan telepon tersambung, tapi tidak diangkat. Ya Allah Mas Adam, disaat genting begini kamu tak mengangkat teleponku. Tidak menyerah, aku kembali menghubungi Mas Adam. Namun hingga sepuluh panggilan tak satu pun yang diangkat olehnya. [MAS PULANG, SEKARANG!] Send... Pesan itu centang dua, tapi belum di baca juga. Mas Adam, kamu dimana? "Aisyah." Aku menoleh, Umi sudah berdiri di belakangku. Raut tanda tanya tergambar jelas di sana. Aduh... bagaimana jika Umi menanyakan tentang Mas Adam? Aku harus menjawab apa? Ya Allah. "I-iya Umi. Ada yang bisa Aisyah bantu?" tanyaku sedikit gugup. "Kenapa tegang gitu, Ais? Ini Umi lho, bukan setan." Umi tersenyum ke arahku. Senyumnya membuatku merasa bersalah. Semua gara-gara Mas Adam! "Adam di mana, Ais?" Astaga, benar dugaanku. Sekarang aku harus jawab apa?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD