“Aroma tubuh siapa yang membuat kamu nyaman, Bi?” Shabina tampak menimbang-nimbang, haruskah Ia berterus terang? Tetapi bagaimana kalau kejujurannya membuat Sakha tidak percaya dan menganggapnya memanfaatkan kesempatan? “Laki-laki? Perempuan?” “Kita bahas itu nanti saja, Mas.” Kemudian tatapan Shabina beralih pada sang Dokter. “Ini pemeriksaannya sudah selesai kan, Dok?” “Konsultasinya sudah, Bu. Tinggal di USG saja, mari.” Sang Dokter mengarahkan Shabina untuk berbaring pada sebuah ranjang. “Eh, untuk USG nya enggak sekarang deh Dok. Mungkin nanti saja kalau perut saya sudah sedikit membesar.” Ya. Semoga saja kali ini Sakha tidak memaksanya. “USG itu yang bisa lihat ukuran janinnya ya, Dok?” tanya Sakha. Ia sebenarnya tahu, tapi ingin lebih memastikannya saja. Lagipula ini baru peng

