“Kenapa gak bilang dari awal,kalau kamu nyaman sama wangi badan Mas, Bi.” “Eh?” Sakha terkekeh kecil, mendapati Shabina yang gelagapan. Dihampirinya perempuan yang sudah menjadi Istrinya itu, untuk kemudian disandarkan pada daada bidangnya. “Pantas selama sama Mas, kamu baik-baik saja. Tapi begitu jauh sebentar, kamu malah sudah muntah-muntah lagi,” gumamnya. Namun Shabina tidak menimpali. Ia terlalu sibuk, meraup sebanyak mungkin udara yang sepenuhnya sudah terkontaminasi aroma Sakha—dengan mata yang terpejam. “Paman Dilo tidur di kamar yang biasa Mas tempati, jadi tadi Mas mutusin untuk tidur di lantai atas. Begitu lewat di depan kamarmu, Mas tidak sengaja dengar suara muntahmu. Jadi Mas langsung masuk gitu aja. Untuk kamu gak kunci pintunya.” “Belum, Mas. Bukan enggak,” Shabina sed

