Aliza terdiam seraya menatap putranya yg saat ini terlihat asyik dengan dunianya sendiri.
Saat ini aliza sedang mengepak seluruh pakaian yg akan mereka bawa. ia lirik putra dan mama sepintas. Ada sedikit rasa senang melihat mereka. aliza harap dengan kepindahan mereka ini, hidunya akan jadi lebih baik.
Yang terpenting adalah sesampainya disana, ia harap aliza dengan segera bisa mendapatkan pekerjaan. Mau bagaimanapun ia ingin yg terbaik untuk kehidupan putranya ini.
" Sayang , kita sudah ingin berangkat.. Ayo mandi dulu " ucap aliza pada putranya yg bernama marchel . ia berjalan kearah marchel yg kini sedang sibuk memainkan mobil-mobilan kecil yg dulu ia belikan untuk putranya .
"Cudah mau belangkat ?" Tanya marchel sambil tersenyum. hal itu membuatnya ingin menghujami wajah putranya dengan ciuman. Dia benar-benar menggemaskan.
"Iya.. mainnya lain kali saja yah ? Ayo kita bereskan lalu setelah itu, marchel mandi " Ucap aliza dengan lembut. marchel tersenyum ke arah sang ibu lalu mengangguk dengan patuh. marchel memang putra yg sangat penurut. Bonus untuk wajah yg memikat seperti turunan ayahnya sebagai pelengkap untuknya.
"Umh ini boleh marchel bawa ke indonesia ?" Tanya marchel sambil memperlihatkan mobil-mobil mini ditangannya yg dimana mobil itu adalah hadiah yg sengaja aliza belikan untuk putranya sebagai hadiah ulang tahunnya. Cukup miris , karena aliza bukanlah orang tua yg kaya untuk kemudian memenuhi kebutuhan putranya sebagai seorang anak yg seharusnya sudah selayaknya merasakan masa kanak-kanak. Jika orang tua kebanyakan bisa membeli mobil dengan ukuran besar untuk putra kecil mereka, aliza hanya bisa memberi putranya satu atau duah mobil mini untuk putranya .
Karena mereka juga memiliki kebutuhan lain bukan ? Tidak hanya terbatas untuk mainan untuknya saja, tapi bagaimana ia bisa mengatur makanan yg akan mereka komsumsi setiap harinya, begitupula dengan pakaian yg mereka bertiga sandang.
Meski hidupnya terbilang sulit.ia masih tetap mensyukurinya. Toh diluar sana masih ada begitu banyak orang yg kehidupannya masih dibawah dirinya.
"mommy? " panggil marchel dengan wajah penuh harap.
"Tentu saja sayang. mommy akan menyelipkannya di koper milikmu nanti" ucap aliza sambil mengusap rambut marchel.
"Benalkah ? horeeeeee ! " teriak marchel senang. Ahh rasa penat dan lelah terasa lenyap seketika melihat kebahagiaan yg terpancar dimata putranya . marchel lalu menatap sang ibu dengan mata bulatnya.
"mommy bica menyimpannya cekalang. Takutnya nanti kelupaan " ucap marchel dengan bahasa cadelnya. Ia menjulurkan tangannya guna memberikan mainan kesukaannya yg tentu saja aliza ambil tak lupa dengan senyum yg terpatri di wajah aliza .
marchel selalu menjaga pemberian ibu nya itu. Bahkan saat ia tanpa sengaja melihat seorang anak tatangga menyentuh mainan itu, ia memukulnya hingga anak itu terluka.
Saat aliza tanya kenapa ia melakukan itu, ia dengan lantangnya berkata.
"Ini pembelian mommy. Ini milikku ! aku tak mau olang lain menyentuhnya "
aliza hanya bisa mendesah saat itu. Entah darimana kekeras kepalaan marchel itu menurun. Darinya atau dari pria yang telah membuat hidupnya hancur.
Saat itu aliza hanya bisa meminta maaf pada tetangganya. Untung saja ia hanya membentaknya untuk kemudian meminta agar aliza mendidik marchel lebih baik. Meski Sedikit dongkol, tapi aliza hanya bisa meminta maaf berulang kali.
"mommy ?" Tanya marchel yg kini menarik baju bawahku.
"Ummh ? Ada apa sayang ?" ucap aliza . Ia menggeleng lalu menatap aliza khawatir.
"mommy melamun " ucap marchel. membuat aliza tersenyum sekali lagi. ia masukkan mainan putranya kedalam koper dengan cepat lalu ia tatap putranya yg kini mengernyit bingung.
"Sekarang lepaskan pakaianmu lalu mandi, Ok ?"
marchel mengangguk lalu mencoba membuka pakaiannya dengan susah payah.
"mommy ! Kepalaku ! Kepalaku teljepit ! Ukhh marchel jadi culit belnafac " ucap marchel sambil menepuk wajahnya yg terhalang pakaiannya sendiri.
aliza yang memandang putranya sambil terkikik, tapi bukan berarti ia diam saja. Karena itu ia sudah pasti akan membantunya segera.
"Oh kasiahan anak mommy.. sekarang anak mommy akan bebas.. " dengan segera ia menarik pakaian marchel keatas sehingga pakaian miliknya berhasil lolos.
"Celananya sayang.. jangan lupa dibuka " peringat aliza .
.
.
.
aliza tersenyum. Ia melihat bagaiaman aktifnya sang putra dalam bermain busa. Bahkan dengan usilnya putranya itu mencolek wajah ibunya dengan beberapa busa.
"mommy juga ikut main yah ? " ajaknya penuh semangat. Ia bahkan memukul-mukul permukaan hingga busa itu terciprat kemana-mana.
"Sekarang bukan saatnya bermain marchel .. bagimana jika kita ketinggalan pesawat ?" Tanya aliza mulai menakut-nakuti.
"Emm " gumamnya terlihat tidak rela. Ia lalu meminta agar aliza segera membilas tubuhnya. Mau bagaimanapun anak itu cukup tahu jika ibunya bahkan sampai rela menjual rumah yang ibunya beli dari hasil kerja ibunya untuk biaya pesawat dan juga untuk jaga-jaga nantinya.
.
.
.
marchel baru saja selesai mengeringkan tubuhnya dengan telaten aliza mengoleskan beberapa handbody khusus balita ketubuh marchel.
"Bial aku caja yg mengolecnya mommy. Menma kan cudah becal " ucapnya dengan bahasa cadelnya.
"Apa mommy tidak bisa ikut membantu ?" Tanya aliza dengan wajah memelas. Oh dia hanya tak ingin membuang-buang waktu.
"aku bica kok, mommy tidak pellu kuatil" ucap marchel percaya diri.
aliza mendesah dalam hati.Bukan bisa tidaknya sayang . Tapi kita sedang terburu-buru Tapi ia tidak mungkin berkata demikian, karena bisa-bisa putranya jadi sakit hati karena omongan ibunya sendiri.
aliza hanya perlu mencari cara agar ia bisa mengelabuhi anaknya itu.
"Umhh begitu yah ? mommy tau marchel sudah bisa. Tapi apa marchel benar-benar tidak memberi izin pada momy untuk membantu putraku yg sudah besar ini ?" Bujuk aliza dengan mata memelas .
Umh marchel sangat lemah dengan tatapan ibunya itu. Lihatlah mata ibunya yg nampak berkaca-kaca itu. Siapapun pasti akan kasihan padanya .
"Boleh " ucap marchel pada akhirnya. Ia mengelus pipi aliza
"mommy jangan cedih" gumam marchel yg membuat aliza ingin terbahak-bahak saat itu juga. Tapi ia masih cukup waras untuk melakukannya.
.
.
.
Meskipun aliza miskin, bukan berarti ia tidak merawat putranya dengan baik. Bahkan aliza tidak merawat dirinya seperti halnya ia memenuhi kebutuhan marchel sendiri.
Beberapa saat yang lalu putranya telah siap, ia terlihat sangat tampan. Bahkan Sampai membuat aliza mengambil gambarnya dari segala arah. Dia benar-bebar beruntung karena memiliki putra yg sangat tampan.
Hingga disinah mereka, duduk ditaman yg tak jauh dari bandara. Sebentar lagi ia akan berangkat.
aliza menatap jam yg bertengger ditangan kirinya. Ia berfikir jika ini saatnya agar ia Siapkan e-ticket dan keperluan lainnya keperluan check-in.
Sebentar lagi jam penerbangannya akan tiba.
"Ayo kita kedalam mah " ajak aliza seraya tersenyum. ratih mengangguk lalu menuntun cucunya marchel agar berjalan dengannya karena aliza harus menyeret dua koper saat ini.
Setelah melakukan Check-in, dan urusan lainnya akhirnya aliza pun memasuki pesawat.
Semuanya berjalan dengan lancar meski ini adalah kali pertama bagi aliza dan juga marchel melakukan penerbangan. Tentu saja hal itu beda dengan ratih. Ia sebelummya berasal dari indonesia , karena keluarganya yang mengusirnya karena fitnahan mantan suaminya dan istri mantan suaminya akhirnya ia diusir oleh keluarganya sendiri dan mencoret namanya dari kartu keluarga dan memutuskan pergi ke belanda, negara dimana ia dan juga aliza tinggal selama ini.
.
.
.
aliza mendesah, akhirnya mereka tiba juga ditempat tujuan. Ya, aliza baru saja turun dari Pesawat. Hingga disinilah mereka berada.
"mommy.. kita cudah campai ?" Tanya marchel penasaran.
aliza menundukkan wajahnya lalu menatap sang putra yg kini telah dituntun oleh sang Nenek.
"Ya, apa marchel lelah ?" Tanya aliza
"aku cuma ngantuk" ucapnya sambil menggosok matanya.
"Kalau begitu kita cari Taxi dulu. Hari ini kita menginap di Hotel saja" ucap aliza
"Kenapa ? Bukannya mommy ingin membeli lumah ? " tanya marchel bingung. Sebelumnya aliza memang bilang jika sesampai diindonesia , aliza akan mencari rumah untuk tempat mereka tinggal.
"marchel sudah mengantuk bukan ? Lagipula setelah membeli rumah, kita harus membersihkannya terlebih dahulu dan itu tentu saja memakan waktu yg lama" ucap aliza
"Begitu.." gumam marchel lirih.
ratih tersenyum lalu menatap aliza yang kini terlihat sibuk menyeret koper ditangannya. Sedang ia menuntun cucunya yg terlihat sangat mengantuk saat ini.
" Kita bisa menginap dirumah teman mama malam ini aliza . Kita tak perlu menginap dihotel seperti katamu " ucap ratih
aliza menoleh kearah mamanya .
"Apa itu tidak merepotkan teman mama ?" Tanya aliza terlihat khawatir.
"Apa yang kau katakan? Itu rumah milik mama saat muda dulu. Aku meminta teman itu untuk menjaganya sebelum keluargaku mengusirku pergi " ucap ratih sambil terkekeh.
"Hehhhh ?!" Pekik aliza kaget.
"Jika mama tau bahwa mama akan diusir, mengapa mama tidak menjual rumah itu saja sebelum pergi ?" Tanya aliza heran.
"Apa yang kau pikirkan ? mama tidak menjualnya karena suatu saat nanti aku pasti akan kembali. Dan lihatlah sekarang, bukankah sekarang adalah saatnya ?"
aliza mengangguk mengerti.
"Lalu apakah kita akan tinggal dicana oma ?" Tanya marchel
"Ya, kita tak perlu membeli rumah baru atau membersihkannya seperti kata mommymu sebelumnya. Itu sangat lama " ucap ratih lalu terbatuk setelahnya. Kondisinya memang agak kurang sehat saat ini. aliza mengerutkan keningnya. Jika itu rumah mamanya , kenapa mamanya itu berkata seakan mereka menginap ditempat itu untuk sementara saja ? Dan yang paling membuatnya bingung adalah karena mamanya diawal berkata jika itu adalah rumah Sahabatnya. Padahal itu adalah rumah milik mamanya . Haahhh kepala aliza terasa pusing memikirkannya. Apa karena sudah tua, mamanya jadi berbelit-belit? aliza melirik kearah mamanya yg kini terlihat kesusahan.
"mama duduk saja disini . Aku akan mencari Taxi" pinta aliza karena tak ingin membuat mamanya berjalan semakin jauh.
"marchel bisa menjaga oma kan ?" Tanya aliza sambil tersenyum
"hm. Tentu caja" ucap marchel sambil mengangguk.
"Anak pintar" aliza mengelus kepala putranya seraya tersenyum.
" Baiklah.. mommy akan mencari Taxi dulu " ucap aliza lalu berniat pergi sebelum suara anaknya mengintruksi.
" Papa ! " beo marchel yg membuat langkah aliza terhenti.
DEG
Jantung aliza seakan ingin berhenti berdetak.
aliza menoleh kearah sang putra yang kini berjalan kearah seorang lelaki berambut sedikit panjang berwarna hitam, tak lupa dengan mata kebiruannya yang tajam kini menatap marchel dengan sorot mata penuh keterkejutan.
" ar-arka" beo lelaki itu menatap marchel yang berjalan ke arahnya.
Lelaki itu menatap tak percaya kearah sosok anak kecil yg seperti duplikat adiknya disaat kecil.
"daddy ?" Ucap marchel yang kini mendongak menatap wajah bagas yang menunduk menatapnya.
"Apa om adalah daddyku ?" Tanyanya polos yang mengundang perhatian orang-orang disekitarnya.
Beberapa cahaya blitz kamera mengarah kearah sang lelaki tersebut.
"Apa itu benar anak anda pak bagas ?" Tanya seorang wartawan yang kebetulan saat itu lagi meliput
aliza menatap lelaki yang tak jauh darinya dalam diam. Ia berfikir jika lelaki itu pasti orang yg sangat berpengaruh hingga berita tentangnya mengundang perhatian awak media . Atau jangan-jangan lelaki itu seorang selebriti ? aliza menggeleng , untuk apa ia memikirkannya . Ia tersentak saat ia baru saja sadar dari keterkejutannya. Dengan cepat ia berjalan kearah marchel lalu berjongkok untuk memeluk putranya yang masih kukuh menatap kearah Ielaki yang aliza baru ketahui ternyata bernama bagas.
" Boleh aku tahu dimana kalian tinggal ?" Tanya bagas seraya menatap aliza . Ia terlihat tidak peduli dengan para pengejar berita yang kini mengambil gambar seenak udelnya.
aliza menatap curiga kearah lelaki dihadapannya. Bukannya aliza tidak mengenal bagas , ia merasa pernah melihat bagas disuaru tempat. Wajahnya tidak asing. Dan ya, aliza sudah mengingatnya. Saat itu tanpa sengaja ia pernah melihat handphone lelaki yg menjadi ayah marchel . Wallpaper yang dikenakan lelaki itu adalah Foto bagas dan juga dirinya.
'Apa mereka bersaudara ?' Batin aliza bertanya-tanya. Memikirkan hal itu membuat aliza geram.
"Untuk apa aku memberitahu orang asing sepertimu ? Dimanapun aku tinggal itu bukan urusanmu !" Ucap aliza entah mengapa tersulut emosi. Ia merasa jika lelaki dihadapannya adalah orang yang berbahaya yang mungkin saja ingin merebut marchel dari sisinya. aliza menatap bagas tajam lalu memilih untuk menggendong putranya dengan tangan yang satunya lagi ia paksa untuk menyeret dua koper miliknya. Meski harus bersusah payah tentunya.
"Biarkan mama saja yg membawanya" ucap ratih
"Tidak ! Ini terlalu berat untukmu mah !" Cegah aliza tak setuju. Tapi ratih dengan paksa mengambil satu koper dari tangan aliza.
"Hanya satu. Lagipula aku hanya menyeretnya. Tenagaku masih cukup kuat untuk menyeret ini aliza" ucap ratih yg membuat aliza pasrah.
ratih tidak tau ada masalah apa, yg ia tahu aliza terlihat tidak suka dengan kehadiran pemuda yg bernama bagas itu. Setidaknya ia bisa membantu Anaknya untuk pergi dari tempat itu.
" aliza.. namamu aliza kan ?" Tanya bagas setelah melihat punggung aliza yang telah menjauh.
Langkah aliza terhenti. Ia menoleh kearah belakang tanpa membalikkan tubuhnya. marchel yang berada dalam gendongannya memeluk leher mommynya dengan erat sambil tersenyum kearah bagas . Untuk sesaat ratih dibuat terkejut olehnya. Karena setahunya cucunya itu tidak pernah menunjukkan wajah ramah untuk orang asing.
" Kau benar aliza kan ?" Tanya bagas lagi.
" Apa anak it-"
"Dia putraku !! Apapun yg kau pikirkan itu aku tak peduli ! Yang jelas dia adalah putraku ! Anakku ! " ucap aliza yang memotong ucapan bagas . Ia lalu memutuskan untuk melanjutkan langkahnya.
Untuk sesaat bagas tersenyum. Tingkah aliza sedikitnya membuatnya semakin yakin tentang apa yang dipikirkannya.
Punggung aliza terlihat menjauh, namun seperkian detik aliza menghentikan langkahnya yg membuat bagas mengernyit bingung.
"Ah dan satu lagi " Ucap aliza tanpa berbalik atau menoleh sedikitpun.
"Kuharap ini adalah pertemuan terakhir kita . Aku tak ingin melihat wajahmu untuk kedua kalinya" ucap aliza dingin lalu kembali melanjutkan langkahnya.
Mendengar ucapan aliza tak sedikitpun bagas merasa terancam atau tersinggung.
"Ya, kita lihat apa yg akan terjadi nanti" ucap bagas dengan suara lirih tak lupa dengan senyum diwajahnya saat melihat bagaimana anak lelaki digendongan aliza tersenyum kearahnya sambil mengoyangkan tangannya memberi salam perpisahan. Dari gerakan bibirnya bagas tahu apa yg anak kecil itu katakan.
'Dah om. Sampai bertemu lagi'
Lihatlah, Anak itu saja begitu terbuka padanya. Mengapa aliza mengatakan hal yang begitu kejam padanya ? Ekhem, bagas sekali lagi tersenyum. arka pasti akan terkejut jika mengetahui bahwa Ia memiliki seorang putra. Bagaimana bagas begitu yakin jika itu anak arka ? Wajah milik marchel tentu saja duplikat dari arka saat kecil dulu. Apa lagi, bagas tahu jika arka pernah memiliki kekasih sebelumnya. Ya dan tanpa disengaja saat itu arka membocorkan nama aliza padanya. Itupun tanpa arka ketahui. Saat itu bagas berada dikantor. Ia berniat mengajak adiknya untuk makan siang bersama diruangan ayahnya. Namun ia yang sebelumnya sudah membuka pintu sedikit, terpaksa harus mengehentikan niatnya saat tanpa sengaja ia mendengar adiknya menggumamkan nama Seseorang.
'aliza'
Yah dan saat itu ia mulai mencari tahu tentang adiknya. Meski ia hanya sekedar tahu jika aliza adalah gadis yang adiknya cintai saat di belanda tanpa tahu wajahnya. Mengingat soal nama bagas jadi teringat sesuatu. Ia mulai berfikir, namun didetik berikutnya bagas menepuk keningnya karena merasa bodoh.
" s**t ! Aku lupa menanyakan namanya " ucap bagas yang kini merasa bodoh karena tak mengetahui nama keponakannya.
Tapi itu bukan masalah besar. Dimanapun aliza berada, dimanapun ia bersembunyi , selama aliza masih menetap di indonesia , keluarga marhesa pasti akan menemukannya. Satu hal yang aliza tak ketahui. aliza telah berurusan dengan keluarga terkaya diindonesia dan asia itu .
bersambung di part selanjutnya