Usaha Melabrak

1301 Words
“Aku ikut kamu balik ke kantor ya, Mas!” rengek Hanna saat mereka melangkah keluar dari restoran. “Saya masih harus menyelesaikan pekerjaan, Han,” sahut Eme sedikit menolak dengan halus. “Hmmm … aku kan baru pertama kali singgah di kantor kamu,” Hanna masih berusaha untuk mengikuti langkah Eme, “please, kasi aku kesempatan,” rengek Hanna. “Tapi, kamu tidak bermaksud untuk mengintimidasi Jessi, kan?” Emerald mematung di samping Hanna, ia menoleh sedikit kepalanya agar bisa melihat raut wajah wanita yang pernah menjadi adik kelasnnya dulu semasa sekolah dengan jelas. Hanna menggeleng. Ia mengurai senyum kecut. “Jangan berlama-lama, ya,” Emerald menatap dengan harapan Hanna dapat mempertimbangkan waktunya, “khawatir Jessi nggak konsentrasi kerja nantinya,” tegas Emerald. Hanna menganggik, “Jangan khawatir, aku hanya mampir sebentar saja, kok,” ujarnya menanggapi. “Ya, udah. Yuk!” ajak Emerald mempercepat langkah mereka. Saat tiba di dalam ruangan, Emerald malah tidak menjumpai Jessi di sana. Sementara itu, Hanna melipat kakinya di atas sofa. Wanita itu duduk dengan anggun. Ia sengaja menaikkan rok span yang ia kenakan di atas lutut. Sesaat kemudian, Hanna meraih koran yang tergeletak di atas meja. Sesuai kesepakataan, ia tak ingin mengganggu pekerjan Eme. “Kamu nggak satu ruangan sama Jessi?” tanya Hanna setelah ikut menyadari sekretaris Emerald itu tidak ada dalam ruangan. Sudah lewat dari empat puluh lima menit mereka berada di dalam ruangan. Jessi tak muncul juga. Emerald mulai resah. Pria itu melangkah mendekati meja Jessi. Ia melihat sling bag wanita tersebut masih tergeletak rapi di sisi meja. “Kenapa nggak di-telepon?” tanya Hanna lagi. “Hape-nya di sini,” ujar Emerald saat membuka sling bag milik Jessi. “Ya udah, mungkin dia lagi ada urusan,” Hanna melangkah mendekati Emerald, “mau aku bantu, Mas?” ia menawarkan diri kala melihat Emerald membereskan tumpukan pekerjaan di atas meja Jessi. “Terima kasih. Nggak usah, Han. Nanti tunggu Jessi saja. Sudah jadi bagian dia, kok.” “Allah, cuma segini doang,” Hanna tanpa sungkan duduk di kursi Jessi, “kalau gini mah, aku juga bisa jadi sekretaris kamu, Mas!” ujarnya. Tak ada usaha mencegat. Emerald malah mematung di hadapan Hanna. Wanita yang bekerja sebagai psikolog itu seakan berusaha untuk mengambil perhatian Emerald. Ia tak peduli seberapa risih Emerald padanya. “Ini laporan mingguan kamu?” Hanna meraih sebuah berkas yang dijilid rapi dengan tanggal minggu lalu yang tertera di sampul. Ia membuka lembaran depan laporan tersebut. “Iya,” jawab Emerald singkat. Hanna lupa pada perjanjian mereka saat menuju ke ruangan tadi. Seharusnya ia tidak mengganggu pekerjaan Emerald sama sekali. Hampir saja tangan lentiknya membuka laptop milik Jessi. Namun apes, baru saja Hanna hendak menekan tombol power pada laptop, seketika pintu terbuka lebar. Jessi berdiri di muka pintu. Ia langsung melotot tajam pada Hanna yang duduk di tempatnya. Jessi hampir naik pitam. Ia merasakan getaran tubuh dengan aliran darah yang terasa naik sampai ke ubun-ubunnya. Jessi sedikit menarik napas agar suasana hatinya sedikit tenang. “Jes! Kamu ke mana?” tanya Emerald disusul gerak Hanna yang langsung berdiri karena kaget dengan kedatangan Jessi. Jessi masih mematung. Ia mendekap tumpukan berkas di tangannya. Matanya tak berhenti memandang pada Hanna. Jessi seakan ingin mengungkap sesuatu. Namun, ia mengurungkan ucapannya. Untuk mengontrol emosi, Jessi menarik napas kembali. Ia memejamkan kedua mata lalu kembali memandang pada Hanna. Sorot mata tajam Jessi membuat Hanna sedikit ciut. Ia akhirnya paham kalau tidak seharusnya ia duduk di kursi kerja Jessi, “maaf,” katanya, lalu segera melangkah menuju sofa. “Kamu lupa ya, Mas kalau ada jadwal bertemu klien siang ini?” Jessi bergegas menduduki kursinya tanpa menggubris kehadiran Hanna. “What?!” Emerald terperangah, “emang ada jadwal siang ini?” tanya Pria itu sembari mendekati Jessi. “Pukul empat belas lewat lima belas menit, bertemu Pak Jhon. Noted, tidak boleh terlambat!” Jessi menunjukkan agenda harian mereka dengan membacakan penegasan akan agenda yang baru saja terlewati. “Astaga! Saya lupa,” Emerald menepuk jidatnya, “kenapa kamu nggak ingetin saya?” ia malah menuding sekretarisnya itu lalai. “Bapak nggak baca chat saya?” Jessi membalik pertanyaan. “Kamu ada kirim saya chat?” Emerald segera meraih ponsel miliknya yang ada di atas meja. Benar saja, Jessi ada mengirim chat sekitar satu jam yang lalu. “Maaf tidak menelepon. Khawatir mengganggu,” ujar Jessi sembari menjeling pada Hanna. Hanna yang pura-pura tak mendengar tampak fokus membaca koran. “Maaf. Saya harus permisi,” ujar Hanna kala menyadari ia sudah cukup lama berada di ruang kerja Emerald. Mendengar ucapan Hanna, Emerald memutar balikkan badannya. Ia mendekati Hanna lantas mengucapkan terima kasih pada wanita tersebut karena mau mampir ke kantornya. Meskipun Emerald menyadari kalau tujuan Hanna datang ke kantornya sama sekali tidak memberikan kesan yang positif. “Lain kali, aku masih boleh mampir, kan?” tanya Hanna penuh harap. Emerald mengangguk sembari menyimpulkan senyuman, “jangan sungkan,” ucapnya pada Hanna. Kini giliran Hanna yang mengangguk. Wanita itu segera meraih tas yang ia letakkan di atas meja, “Jes, gue pamit, ya!” ujarnya pada Jessi. Tak ada jawaban dari Jessi ia hanya mengacungkaan jempul tanpa tersenyum sedikit pun. Sorot matanya malah lebih fokus pada layar laptop. “Maaf ya, gue tadi hanya mau numpang duduk di kursi elo aja,” sambung Hanna. Jessi hanya mengangguk tanpa merespon dengan ucapan. Melihat sikap cuek Jessi pada Hanna, Emerald jadi merasa penasaran. Maka setelah Jessi ke luar, pria tersebut berdiri tepat di hadapan Jessi. Ia mencoba mengulik hubungan antara Jessi dan Hanna. “Kamu kenal sama Hanna?” tanya Emerald. “Hmmm …” hanya sebatas jawaban demikian yang terucap di bibir Jessi. “Hanna mengenal kamu?” Emerald membalikkan pertanyaannya. Jessi mengangkat bahunya. “Kalian punya problem?” tanya Emerald lagi. Jessi menggeleng lembut, “Hanna cerita apa, Mas?” tanya Jessi kemudian. “Katanya kalian saling kenal,” Emerald menanti jawaban Jessi. “Sebatas kenal doang,” jawab Jessi sembari tangannya masih fokus menekan tombol pada keyboard. “Ada apa dengan kalian?” tanya Emerald lagi. Jessi kembali menaikkan bahunya. Ia sedikit menengadah. Menatap wajah Emerald yang masih berdiri di hadapannya. “Kenapa masih berdiri di situ?” tanya Jessi. “Kamu belum jawab pertanyaan saya,” jawab Emerald dengan nada yang sedikit tinggi. “Kita ini masih dalam suasana jam kerja, Mas. Ayo beresin kerjaan kamu ketimbang ngurusin masalah hati saya!” kata Jessi kemudian. Karena baru saja diingatkan oleh sekretaris pribadinya itu, Emerald kembali duduk pada posisinya. Lagi pula, ia juga tak bisa memaksa Jessi untuk menceritakan perihal apa pun padanya. “Sore nanti saya bawa Raffa ke rumah, ya!” pinta Emerald setelah suasaan kembali tenang. Jessi memandang kembali pada Emerald yang sudah duduk manis di kursinya, “Nggak ngerepotin?” Jessi memastikan. “Nggak,” kata Emerald sembari merebahkan pundaknya di kursi, “kamu juga ikut, ya,” lanjut pria tersebut. Jessi mengangguk. “Mbak pengen mati saja, Jes. Mbak pengen mati! Mbak sudah nggak sanggup lagi untuk hidup.” “Mbak, Mbak. Jangan menyerah, Mbak. Jessi mau Mbak tetap hidup. Ingat Raffa, Mbak. Ingat Raffa.” “Tapi Mbak udah nggak kuat lagi, Jes! Tolong jaga Raffa. Jaga Raffa, Jes. Mbak pe … rrr … gi!” Konsentrasi kerja Jessi seketika menghilang. Masih terngiang dalam benaknya ketika mengingat perpisahan terakhir ia bersama ibunda Raffa. Masih jelas juga dalam ingatan Jessi, sosok wanita yang berdiri di hadapannya dengan mantel biru yang menatap sinis pada mereka. Kala itu hujan deras. Ibu Raffa merenggang nyawa di pinggir jalan. Tak seorang pun peduli, tidak juga wanita bermantel biru itu. Boro-boro membantu, wanita bermantel biru yang melihat kejadian naas yang menimpa ibunda Raffa tersebut perlahan beranjak meninggalkan Jessi yang masih memeluk erat tubuh wanita yang ia pnggil dengan sebutan Mbak Yu tersebut sudah tergeletak tak berdaya di pinggir jalan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD