Bab 13

1986 Words
Bila diriku adalah garpu dan engkau sendok, mengapa kau hadirkan pisau di antara kita? Namun kini aku sadar pisau tersebut telah berguna menguji hubungan kita. Apa akan tetap bertahan atau perlahan teriris oleh kata yang kau sebut luka.   Suara jerit tangis Lana menjadi backsound panggilan Aji pada Wulan. Pantas saja laki-laki itu sejak tadi tidak tenang dalam bekerja. Maka dalam sekian menit dia luangkan waktu untuk menghubungi Wulan, menanyakan mengenai buah hati mereka. Dan benar saja, tangisan menyayat itu sebagai jawabannya dari perasaan tidak enak yang Aji rasakan. Sudah sejak pulang sekolah tadi Lana tidak mau diam sedikitpun. Gadis kecil itu meraung-raung meminta Aji pulang. Apalagi ketika Wulan mendekatinya, Lana semakin histeris tidak mau diam. Pengasuh Lana, mbak Siti, turut mencoba menenangkan Lana, namun yang ada rambutnya ditarik kencang oleh Lana. "Mas pulang malam ini," ucap Aji pada akhirnya. Mana bisa ia kembali bekerja jika Lana histeris seperti itu. "Tidak usah Mas, Wulan nanti coba tenangi dia lagi." "MAS BINGUNG APA SEBENARNYA YANG ADA DIPIKIRANMU?" bentak Aji tanpa sebab. Ia sudah kesal setengah mati dengan Wulan. Sejak awal permintaan bodoh itu, apa pernah Wulan memikirkan hati Lana dan juga Alan? Tanpa sadar mungkin Lana seperti ini karena dia tidak suka masuknya orang baru di tengah kehidupan papa dan mamanya. Walau anak kecil itu terlihat tidak mengerti apa-apa, namun biasanya perasaan anak kecil lebih kuat dari orang dewasa. Dan itu yang sepertinya dilupakan oleh Wulan. "Mas," panggil Wulan lemah. Pikirannya kacau. Anaknya tidak mau berhenti menangis ditambah bentakan kuat dari Aji semakin memojokkannya. "Jangan paksa Mas untuk bekerja lagi kalau hati dan pikiran mas tertuju pada ANAK KITA." Sambungan telepon langsung tertutup. Meninggalkan kepedihan di hati Wulan. Luka itu semakin terbuka lebar mana kala perlakuan Aji semakin membuatnya sakit. Dari posisinya saat ini, ia melihat Lana yang masih menangis. Meraung-raung di atas dinginnya lantai. Kedua matanya sudah memerah serta keringat dingin di sekujur tubuhnya. Di sekitar Lana terdapat beberapa mainan yang terus saja di dekatkan oleh Siti namun tidak berpengaruh sedikitpun. Anaknya itu sedang mengamuk entah karena apa, Wulan tidak paham. Selama lima tahun membesarkan Lana, baru kali ini dia merasakan kesakitan ditolak oleh putrinya sendiri. "Put...." Sebuah tepukan hangat mendarat di bahu Wulan. "Boleh aku coba bujuk Lana?" Wulan mengangguk sebagai jawabannya. Ia tersenyum sekilas melihat Nisa mulai mendekati putri kecilnya itu. "Hei, Lana kamu nangis kenapa?" Perlahan-lahan Nisa bisa mendekat kemudian duduk di samping Lana. Ingin mencoba membelai kepalanya namun tangan Nisa terhenti di udara mendengar kalimat dari bibir Lana. "Apa tante mau bawa pergi papa?" Bukan hanya Nisa yang kaget mendengar, namun Wulan, Siti, mbak Tinah serta bibik yang bekerja di rumah itu mencelos hatinya. Mereka tanpa sadar meringis sakit mendengar kalimat sederhana dari anak kecil berusia lima tahun. "Kok Lana tanya itu? Kenapa memangnya? Apa tante seperti ingin mengambil Papa dari Lana?" Lana menggeleng cepat, menghapus kedua mata dengan punggung tangannya. Suara tangisan itu memang sudah berhenti namun kini kesakitan yang begitu terasa. "Lana enggak tahu." "Kenapa enggak tahu, Sayang?" Manik mata itu mengerjab berkali-kali, membalas tatapan lembut Nisa padanya. "Temen Lana di sekolah pernah ada yang bilang. Kalau papanya enggak pulang lagi karena dibawa sama tante cantik." Wulan membalik tubuhnya membelakangi pemandangan menyiksa itu. Ya Tuhan, bolehkah ia menyesal sekarang? Mengapa dia begitu bodoh tidak memikirkan Lana dan juga Alan. Wulan pikir semua akan baik-baik saja. Wulan yakin awal mula keputusannya, dia bisa menjelaskan apapun pada Lana dan juga Alan. Namun kini yang terjadi sebaliknya. Dia takut. Takut akan kesedihan itu terus menyelimuti anak-anaknya. Tetapi kini sekuat apapun Wulan menyesal, semua tidak akan mungkin kembali seperti dulu. Layaknya kisah Nabi Ibrahim dengan sang ayah, Azar. Di akhirat nanti semua akan menjadi kebalikan. Nabi Ibrahim akan merasakan kesenangan dan kebahagiaan. Sedangkan ayahnya merasakan duka dan derita. Bahkan walau sekuat apapun keinginan Nabi Ibrahim untuk menolong ayahnya sendiri, ia tidak akan mampu. Ketika itu tiba, ia hanya akan menyalahkan ayahnya mengapa waktu itu tidak menerima ajakannya. Semakin Azar menyesal dan berjanji akan menuruti Nabi Ibrahim, semua sudah tidak berguna lagi. Karena sudah banyak waktu yang dia buang untuk disia-siakan. Sekuat apapun Nabi Ibrahim meminta ampun pada Allah untuk ayahnya tetaplah Allah akan menolaknya. Penyesalan yang Azar lakukan tidaklah termasuk tobat karena dirinya sudah berada di akhirat. Di akhirat bukanlah waktu untuk bertobat, melainkan waktunya memperhitungkan apa saja yang sudah dilakukan di dunia. Jika baru ingin berubah saat-saat seperti itu, semua sudahlah terlambat. "Put...." Nisa memanggil pelan. "Lana sudah tidur, boleh aku menidurkannya di kamar?" ijinnya kembali. Wulan bisa melihat gadis kecilnya itu sudah tertidur di dalam pelukan Nisa. Entah sudah berapa lama ia melamun sampai perkataan menyayat hati yang Lana ucapkan telah selesai. Wajah sembab Lana masih bisa ia lihat hingga menimbulkan rasa bersalah yang semakin dalam. "Biar aku aja Nis." "Udahlah Put, enggak papa. Sekali-kali aku bantu." "Terima kasih, Nis. Kamu bisa tidurkan dia di kamar. Ada Alan juga di sana yang masih tertidur," ucap Wulan pada akhirnya. Melihat tubuh Nisa menjauh dengan Lana dalam pelukannya semakin menusuk hati terdalamnya. Sekarang bukan hanya Aji yang ia bagi untuk Nisa, namun Lana juga. Mampukah dia tetap bertahan dalam menjalani keputusan yang diawal dia yakini dapat dilalui dengan mudah?   ***   Dalam sujud terakhirnya Wulan menangis penuh isakan. Ditengah sepertiga malam seperti ini adalah waktu yang tepat untuk mencurahkan segala perasaannya. Hanya dengan bermodal alat sholat, dia bersujud sedalam-dalamnya. Memohon ampun kepada Allah karena telah lalai dalam bertindak. Mengambil keputusan tanpa berpikiran matang ke depannnya. Wulan benar-benar takut bila suatu saat nanti kedua anaknya pergi meninggalkannya bersama sebuah penyesalan besar. Perasaan tidak rela menggerogoti hati terdalamnya. Apa kini ia termasuk ke dalam manusia yang egois? Yang tidak suka miliknya pergi dari sisinya? Lalu mengapa waktu itu dia terus saja memaksa Aji untuk menikahi Nisa? Apa pernah sedikit saja Wulan memikirkan bagaimana di posisi Aji waktu itu? Pertanyaan demi pertanyaan yang muncul semakin menampar dirinya. Ternyata semua yang dia pikir ikhlas dan dia lakukan di jalan Allah, hasilnya masih belum sesuai. Dia masih menjadi manusia yang munafik. Sering kali berkata ikhlas tapi diam-diam memelihara kesakitan seorang diri. Wulan terus saja menangis dalam sujudnya sampai ia merasakan sebuah sapuan hangat pada puncak kepalanya. Rasa hangat itu adalah rasa hangat yang biasa ia rasakan ketika Aji mengusap kepalanya. Tapi apa mungkin Aji ada di sampingnya saat ini? "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan yang Engkau ciptakan padanya, dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau ciptakan padanya." Suara bariton itu semakin meyakinkan Wulan bila memang benar Aji yang berada di dekatnya saat ini. Sampai ketika ia mengangkat kepalanya, ia menatap Aji dengan mata banjir air mata. Terima kasih Ya Allah telah mendatangkan dia ditengah kerapuhanku, bisik hatinya. Tubuh Wulan langsung memeluk erat Aji. Menempatkan kepalanya pada tempat favoritnya, yaitu diatas jantung Aji yang berdetak. Detakan itu mengibaratkan bila cinta mereka masih ada. Mungkin ketika detakan itu sudah terhenti, entah akan mencari ke mana lagi tempat ternyaman itu. "Tenanglah Sayang. Tolong jangan menangis." "Mas. Ampun. Wulan udah salah sama Mas," isaknya semakin menjadi. "Wulan sudah salah sama Mas, Wulan terlalu egois sampai Lana dan Alan merasakan kesakitan juga." Aji terus mendengarkan sambil mengecup kening Wulan yang berada di dalam pelukannya. "Aku ... aku." "Aku takut Lana dan Alan meninggalkanku," jeritnya begitu lemah. "Dan ... aku juga takut kehilanganmu," tambahnya lagi. Aji menempelkan jari telunjuknya pada bibir Wulan. Menatap lekat manik mata milik istrinya itu dengan seluruh perasaan cinta yang dia miliki. "Apa kamu menyesal Mas menikah dengan Nisa?" "Tidak," jawabnya tegas. "Lalu?" "Aku menyesali pada keputusanku sendiri. Mas dulu pernah mengingatkanku, bila terjadi kesalahan dan hidup tidak sesuai dengan apa yang kau cita-citakan maka jangan pernah bilang menyesal atas tindakan yang orang lain lakukan. Tapi menyesal lah akan dirimu sendiri yang tidak mampu berpikir jauh sebelum memulai sebuah keputusan itu," jelasnya sambil terisak. "Kamu benar Sayang, orang yang hebat bukanlah yang bisa melihat kesalahan orang lain, tapi yang bisa melihat kesalahannya sendiri sebelum menyalahkan orang lain. Dan kamu sudah melakukan yang terbaik dalam mengoreksi semua masalah sekarang ini." Aji memuji apa yang sudah dijelaskan istrinya. Memang benar dulu dia pernah mengajarkan seperti itu ketika awal-awal pernikahan. Ternyata hal-hal dasar seperti itu terus diingat oleh Wulan, sampai bisa dia terapkan pada dirinya sendiri. Seribu syukur Aji ucapkan dalam hati. Walau ilmu yang dia ajarkan terlihat sederhana, namun sangat berguna bila diterapkan pada kondisi yang seharusnya. "Pernikahanmu dengan Nisa merupakan perbuatan mulia Mas, jangan jadikan itu adalah penyesalan," sambungnya lagi. Aji tersenyum. Menakup kedua pipi Wulan dengan tangannya, kemudian mencium kening istrinya dengan hangat. "Jadikan semua ini pelajaran, Sayang. Jangan kau sesali apapun yang sudah terjadi. Tapi cobalah untuk menyadari masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki, dari pada hanya melakukan penyesalan sepanjang hidup. Aku masih milikmu, aku masih suamimu. Dan tanggung jawabku adalah menjagamu yang berada di sisiku. Walau sudah ada Nisa yang harus kuperhatikan sama besar denganmu, tapi aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Jadi tolong, bantu aku. Pegang tanganku. Dan yakinkan aku agar mampu bersikap seadil mungkin." Wulan mengatupkan bibirnya sembari mengangguk. Bila sedikit saja dia bicara kembali, bukan tidak mungkin tetes air mata akan membahasi wajahnya kembali. "Kemudian untuk masalah anak-anak, mas yakin kamu yang paling tahu bagaimana cara menjaga mereka agar Lana dan Alan tidak pergi dari pelukan hangatmu. Kamu adalah ibunya, sudah seharusnya kamu paling tahu apa yang harus dilakukan. Semua yang kamu rasakan bukan tidak mungkin mereka merasakannya juga. Dulu mereka bagian dari tubuhmu, dan kini mereka akan selalu menjadi bagian dari hidupmu. Apa mas pernah cerita tentang seorang anak yang ingin membuang ibunya?" "Belum Mas." Aji merubah posisi duduknya, ia mencoba bersandar pada tempat tidur kecil milik anaknya. Kemudian Aji menarik tubuh Wulan dalam dekapannya. Melingkarkan kedua tangannya seakan-akan melindungi Wulan dari segala hal yang akan membuat Wulan terluka. "Dulu kala ada seorang pemuda yang ingin membuang ibu kandungnya sendiri ke tengah hutan. Dia merasa sudah tidak kuat lagi merawat ibunya yang sudah tua. Kemudian selama perjalanan, ia menggendong tubuh tua ibunya. Tidak bisa ditutupi, dia juga sedih harus meninggalkan ibunya seorang diri. Namun apa daya, pikirannya memutuskan untuk seperti itu. Sepanjang perjalanan, ibu yang berada dalam gendongannya itu berusaha untuk mematahkan setiap ranting pohon yang mampu ia raih. Lalu dengan tangan tuanya, ia membuangnya di jalan setapak yang anaknya lewati. Sehingga..." "Mas, apa Lana dan Alan akan setega itu sama aku nanti?" potong Wulan. "Dengarkan mas dulu." Wulan mengangguk paham, menggeser tubuhnya untuk mencari posisi ternyaman dalam pelukan sang suami. "Ketika anaknya sudah meletakkan ibunya di tengah hutan, ia memandang sekilas wajah tua ibunya. Tidak ada kesedihan di sana, tidak ada sumpah serapah yang sering kali ia lontarkan ketika jalan pikiran ibunya tidak sejalan dengannya. Tapi hanya sebuah kalimat sederhana yang ibunya ucapkan tepat sebelum dia melangkah pergi. Kamu tahu apa itu?" "Enggak." Aji mengusap pipi Wulan dengan sebelah tangannya sambil tersenyum senang bahwa istrinya tidak menangis lagi. "Ibunya bilang, 'Wahai anakku, jagalah dirimu kelak. Jangan pernah lalai meninggalkan perintahNya. Yakinlah Dia akan selalu setia menemanimu walau tanpa ibu sekalipun. Dan berhati-hatilah dalam perjalanan pulang nanti. Tadi ibu sudah membantumu agar tidak tersesat. Ikutilah ranting-ranting pohon yang sudah ibu sebar di sepanjang jalan. Teruslah menunduk dalam berjalan, agar kau terus bisa melihat di mana letak ranting itu'. Setelah mendengarkan kalimat terakhir ibunya, sang anak bukannya pergi namun dia langsung bersuju di kaki ibunya. Memohon ampun karena apa yang telah dia lakukan adalah salah," tutup Aji dengan sebuah senyuman. Ia merapatkan pelukannya ketika suara tangis Wulan mulai terdengar kembali. "Jadilah ibu yang kuat untuk Lana dan Alan. Sebenci apapun mereka dengan keputusanmu, namun darah yang mengalir dalam tubuhnya tidak bisa dibohongi." "Ya Allah," isak Wulan lemah. "Mas percaya kamu mampu sayang. Karena mas akan selalu ada di sisimu, mendampingimu, mengingatkanmu, menguatkanmu, dan ikut merasakan kesedihanmu." Wulan hanya mampu diam. Mencoba menjawab semua yang Aji katakan dengan air mata. Air mata yang sering kali disalah gunakan namun malam ini kehadirannya menjadi pertanda bila semuanya telah terlambat.   Realita cinta adalah jika semua yang dia lakukan masih menyakitimu, mungkin cinta tidak akan pernah pergi meski kini kita tak berdua lagi. ----- Continue.. Masih mau baca?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD