Bab 4

1961 Words
Jangan takut dikhianati oleh hati bila kau mengakui apa yang tengah dirasakan.   Aji menekuk wajahnya kala Wulan terus saja menggodanya selama perjalanan pulang. Istrinya itu seakan sadar disinilah celah dia berbicara mengenai permintaannya kembali. "Udah sih Pa, ngaku aja sama mama kalau Papa suka sama Nisa," kekehnya geli. Aji berusaha tidak memperdulikan dan sibuk mengangkut barang-barang yang tadi dia beli dari dalam mobil ke rumah. Wulan sengaja turut membantu Aji membawa barang-barang, karena aksinya menggoda Aji belum kunjung selesai. "Gengsi ya Pa sama mama?" Wulan masih sibuk tertawa. Ia berjalan di belakang Aji dengan dua tas plastik besar makanan ringan untuk kedua anaknya. Namun yang terjadi tubuh Aji berbalik. Memandang Wulan dengan tajam. Hingga gelak tawa Wulan terhenti. Dia sadar suaminya tengah marah kali ini. Maka dia harus mengunci mulutnya rapat-rapat. Menghindari peperangan di antara mereka. "Coba ngomong lagi," perintah Aji. "Ih, apaan sih Mas. Kan cuma bercanda. Enggak boleh loh marah sama istri. Dosa." "Dosa?" ulang Aji. Dia menaikkan kedua alis hitamnya tinggi-tinggi. Sejak kapan memarahi istri yang salah dosa? Memangnya tadi Wulan salah apa sama Aji? Dia hanya berusaha menggoda Aji. Jika memang dalam diri Aji tidak merasakan apapun, harusnya Aji tidak terpancing godaan istrinya itu. "Iya dosa lah. Aku kan enggak salah apa-apa. Bercanda ya balas dengan bercanda dong" goda Wulan. Tubuhnya sengaja melangkah melewati Aji yang masih terdiam. Benar, Wulan sejak tadi hanya bercanda. Mengapa dia menganggap semuanya serius? Apa karena ego dalam dirinya yang sedang berontak akibat dari penolakkan Nisa akan bantuannya. Lelaki mana yang terima penolakkan? Bukankah dalam diri laki-laki tersimpan rasa ego yang begitu tinggi. Hingga kaum perempuan harus sadar. Bagaimanapun hebatnya mereka, harus tetap mengakui bahwa perempuan butuh sosok lelaki dalam hidupnya. "Aduh Mas, jangan ngelamun dong. Masih banyak tuh yang harus dibawa," goda Wulan kembali. Aji membungkam. Ia melangkah masuk dengan pikiran yang sibuk mencaci maki egonya. Dia bukan lelaki yang baru beranjak remaja. Harusnya dia bisa menjaga egonya dan lebih mengedepankan akal dan pikirannya. Tepat ketika Wulan mendekat ke arahnya, dia menarik tangan istrinya itu yang terlihat sibuk dengan barang-barang. "Kenapa, Mas?" "Biar mas aja," ucap Aji. Dua plastik besar berisi buah-buahan Aji yang bawa dan masukkan ke dalam lemari es. Dia tidak mau Wulan lelah mengakut semuanya. Karena setelah akad yang dia ucapkan, Aji berjanji akan menjadikan Wulan ratu dalam rumah tangganya. "Aduh, kamu kok manis banget sih," goda Wulan. Ia bergelayut manja di lengan Aji dan mencium pipi suaminya itu dengan gemas. "Kamu dari dulu ke mana aja?" "Ke mana?" Tanya Wulan tidak paham. "Baru sadar aku manis? Nanti kalau manis aku diambil orang gimana?" kekeh Aji. Wulan mencibir dalam namun tak kunjung melepaskan pelukannya dari Aji. "Suamiku enggak akan diambil orang. Karena aku sendiri yang akan membaginya pada orang yang tepat." Skakmat ! Aji mendadak diam. Kalimat Wulan sungguh benar-benar diluar dugaan. Istrinya itu mau berbagi kehangatan dirinya kepada perempuan lain? "Yang, aku serius. Kamu masih minta aku nikah lagi?" tanya Aji yang begitu tidak percaya. Wulan mengangguk yakin. Dia menatap kedua mata hitam Aji, dan dengan kedua tangannya mengusap d**a Aji penuh kelembutan. "Aku serius Mas, seperti dulu keseriusanmu dalam meminangku," jawabnya lembut. "Mas, Wulan meminta seperti ini bukan karena Wulan sudah enggak mampu lagi melayani Mas dari segi apapun. Wulan masih mampu. Wulan juga bukan perempuan yang tengah sakit atau akan meninggalkan Mas. Walau Wulan tahu umur itu ditangan Tuhan. Tapi jalan Wulan meminta Mas untuk menikah lagi bukan karena itu. Namun karena Wulan percaya sama Mas. Karena Wulan cinta sama Mas, maka Wulan minta Mas melakukan itu." Sebelah tangannya naik ke wajah Aji, mengusapnya lembut, masih dengan tatapan penuh cinta kepada suaminya itu. "Perempuan yang Wulan pilihkan untuk Mas bukan juga perempuan biasa. Sungguh dia berbeda Mas. Dan Mas harusnya percaya sama Wulan. Ketika Mas menikah lagi, bukan karena Mas ingin menjadi b***k seks yang sering diucapkan oleh orang diluaran sana. Tapi karena Wulan ingin Mas menolong sahabat Wulan, Nisa. Mas tahukan, Nabi Muhammad memiliki banyak istri bukan karena ia penggila seks seperti yang sering dituding banyak orang karena kecemburuan mereka pada Nabi Muhammad. Mereka bisa berbicara begitu karena mereka tidak pernah menyikapi rahasia agung, mengapa Nabi Muhammad memiliki istri begitu banyak." Wulan tersenyum sedih, pikirannya terbang melayang mengingat-ingat beberapa buku Islam yang sering ia baca. Dimana Nabi tercinta umat Islam itu dipojokkan oleh orang-orang yang anti dengan Islam. "Bahkan Nabi Muhammad pun, yang Wulan tahu begitu mencintai satu perempuan hingga ajal menjemputnya. Dia adalah Siti Khadijah. Selama 25 tahun mereka menikah hingga memiliki 6 orang anak. Tidak pernah sekalipun Nabi Muhammad terlibat cinta dengan perempuan lain. Bahkan setelah 4 tahun istrinya itu meninggal, Beliau masih setia sendiri. Jika ditelusuri lagi, bukankah Nabi Muhammad menikahi perempuan-perempuan itu ingin memuliakan derajatnya. Dan Wulan ingin Mas seperti itu," isak dari bibirnya lolos begitu saja. Akhirnya Wulan menangis.. Dia hanya ingin Aji bisa memuliakan derajat Nisa, sahabat yang begitu ia sayangi. "Apa Mas masih menolak untuk memuliakan derajat sahabatku itu?" "Kenapa harus, mas? Masih banyak lelaki di dunia ini yang masih sendiri. Kenapa harus mas yang sudah memiliki istri dan memiliki 2 anak? Tolong jelaskan, kenapa?" ucap Aji begitu keras. Sampai-sampai Wulan bergerak mundur ketakutan karena sikap keras Aji. "Wulan cuma ingin yang terbaik buat Mas, tapi...." "Cukup. Yang kamu bilang terbaik itu untuk siapa? Tolong yang kamu pikirkan baik-baik lagi. Kehidupan keluarga kita baik-baik aja. Jangan ditambah orang lain yang sengaja kamu undang masuk ke dalam rumah tangga kita. Nanti akan ada saatnya kamu akan menyesal," kesal Aji. Dia membuang pandangannya ke arah lain. Sebenarnya ia tidak ingin marah, namun Wulan terus saja mendesaknya untuk menikahi Nisa. Di hadapannya, Wulan hanya bisa diam. Memerhatikan rahang kokoh dari suaminya itu yang semakin mengeras pertanda bila sang pemiliknya tengah menahan amarah. Wulan tahu pasti semua ini tidak mudah, namun ia sadar semua yang baik memang sangat susah dilalui. Sebanyak apapun hari yang Wulan berikan untuk Aji seakan tidak akan pernah cukup bila Aji memakainya untuk memenuhi egonya sendiri. Padahal dalam permintaan Wulan itu ada sosok Nisa, Wulan dan tentunya Aji sendiri yang berperan. Namun bila Aji tetap keras kepala dan membenarkan apa yang dia pikirkan sekarang, semuanya tidak akan ada akhirnya. "Jika suatu saat nanti Wulan menyesal, Wulan terima. Karena semua keputusan yang Wulan pilih bukan hanya untuk kebaikkan Nisa, tapi kebaikkan untuk Mas juga. Mas boleh saat ini marah sama Wulan, tapi Mas akan tarik semua kata-kata Mas...." "Sekarang jelaskan semuanya, kenapa kamu pilih dia untuk menjadi istri kedua mas. Ada apa sebenarnya?" Potong Aji cepat. Wulan menggigit bibirnya dalam. Berusaha menormalkan detak jantungnya, ia tidak pernah setakut ini pada sosok Aji. Tapi kenapa hari ini seakan dia begitu kecil di hadapan suaminya. "Yang..." panggil Aji. Dia merapatkan tubuhnya, mendongakkan wajah istrinya untuk membalas tatapannya. Hingga Wulan kembali lagi dari lamunannya dan membalas tatapan itu dengan segelintir air mata membasahi pipinya. "Karena dia...."   ***   Aji tidak menyangka di sini dia sekarang. Duduk di ruang tamu rumah perempuan yang dipinang oleh istrinya sendiri untuk dinikahkan kepadanya. Di sebelahnya nampak Wulan yang tersenyum sumringah kala melihat Nisa membawakan minuman dari arah dapur. "Maaf cuma ada ini, aku enggak tahu kamu mau main Put," ucapnya tidak enak. "Enggak papa Nis, aku emang sengaja nggak bilang-bilang dulu. Takut kamu siap-siap." "Tapi kan enggak enak aku Put," cicitnya sambil melirik Aji yang masih saja diam. Wulan yang seakan tahu lirikan dari kedua mata Nisa, menyenggol suaminya agar tidak menundukkan kepala saja sejak tadi. "Mas," "Hm," sahut Aji dengan tarikan napas yang begitu dalam. Karena Aji belum memulai juga, akhirnya Wulan yang berinisiatif menjelaskan maksud dan tujuan mereka datang kemari. "Begini Nis, aku sama Mas Aji ke sini mau melanjutkan pembicaraan kita waktu itu." "Maksudnya?" tanya Nisa masih tidak paham. Lagi-lagi Wulan menyenggol suaminya agar Aji turut memberikan penjelasan kepada Nisa. Supaya perempuan itu paham maksud dan tujuannya. "Saya datang ke sini bermaksud ingin meminang anda," ucap Aji begitu spontan. Bahkan kalimat yang terlontar dari bibirnya sangatlah formal. Seakan mengisyaratkan di dalamnya ada keterpaksaan dari Wulan untuk dia laksanakan. Sedangkan tanggapan dari Nisa tak kalah kaget. Kedua matanya membulat, dengan bibirnya terbuka lebar. Jadi semua ini masih berlanjut? Begitulah pemikiran singkatnya. Nisa pikir semua sudah berlalu. Karena baik Wulan ataupun Aji sendiri tidak pernah berbicara masalah ini lagi kepada Nisa. Lagi pula Nisa tidak mau berharap lebih. Mungkin memang belum saatnya dia menikah. Atau sering ia dengar bila diusia lanjut belum juga menemukan pasangan, bisa jadi pasanganmu telah meninggal ketika masih di dalam rahim. Masa iya Tuhan setega itu? "Kamu bersediakan, Nis?" Tanya Wulan. Kedua mata Nisa mengerjab berkali-kali. Dia melirik Wulan dan Aji bergantian. Mencoba memfokuskan dirinya apa semua ini benar terjadi atau tidak. "Nis, kami datang ke sini serius dan penuh kesungguhan. Dijawab dong." "Apa benar?" Ulangnya merasa aneh sendiri. Diusia yang ke 29 tahun, dirinya dilamar oleh lelaki yang ternyata suami dari sahabatnya sendiri. Sungguh aneh rasanya bila diposisi Nisa. "Benar Nis. Nanti kalau kamu sudah setuju, orangtua Mas Aji yang datang ke sini untuk melamarmu," jelas Wulan yang nampak begitu senang. Sedangkan Aji yang duduk di sampingnya hanya diam membisu. Pikiran dan hatinya masih saling beradu dan sulit mendapatkan hasil yang sempurna. Wulan bisa melihat Nisa memejamkan kedua matanya sekilas sebelum menatap Aji yang begitu diam tanpa suara. "Baiklah Nisa terima. Tapi ada satu permintaan Nisa untuk Mas Aji," suaranya begitu pelan tetapi berhasil membuat Aji terfokus padanya. "Jika suatu saat nanti Putri menangis karena pernikahan ini tolong ceraikan Nisa," sambungnya. Baik Wulan maupun Aji keduanya sontak kaget mendengarnya. Apa maksud dari permintaan Nisa ini? Apa pernikahan itu hanya sebuah mainan? "Kok gitu?" protes Wulan. "Put, aku bisa disisi Mas Aji semua karena kebahagiaanmu, karena ketulusanmu, karena keikhlasanmu. Dan ketika suatu saat nanti ada satu dari ketiga itu hilang, maka aku rasa sudah habis waktuku menikmati kebahagiaan yang kalian berikan. Aku mengerti kenapa kamu bertindak begini. Sungguh Put, aku cerita semua masalahku sama kamu bukan karena ingin dikasihani, bukan karena ingin dimintai tolong. Tapi aku hanya ingin didengarkan. Apalagi bagi orang yang tengah memiliki banyak masalah, dia hanya butuh teman untuk mendengarkan masalahnya. Bahkan sekarang ini banyak orang yang menjadi stress dan bisa sampai gila karena satu faktor itu. Mereka tidak memiliki seseorang untuk mendengarkan semua masalahnya. Atau ada yang lebih memilih menutup diri dan menyimpannya tanpa ingin orang lain tahu. Padahal berpura-pura jika semuanya baik-baik saja itu enggak mudah. Berat Put. Dan aku pernah merasakannya," ceritanya begitu lemah. Wulan menggenggam tangan Aji begitu kuat, dia sedang setengah mati menahan air matanya agar tidak menangis bila mengingat cerita dari sahabatnya itu. "Tapi aku melakukan ini bukan karena ceritamu, Nis. Aku tulus ingin berbagi kebahagiaan denganmu. Mungkin mas Aji hanya sebuah perantara kebahagiaan itu, tapi tolong Nis jangan anggap permintaanku ini seperti mengasihanimu. Tidak. Aku juga tidak suka dikasihani." Wulan berucap tanpa memutus kontak matanya dengan Nisa. Ia ingin Nisa tahu bahwa dirinya memang begitu serius dan ikhlas meminta Nisa untuk menjadi madunya. "Gimana, Nis?" Nisa menggigit dalam bibirnya, ia berusaha tersenyum dalam rintihan kepedihannya. Anggukan kecil yang dia berikan membawa kedamaian bagi Wulan. Dia tahu Nisa tidak akan sekejam itu untuk menolak permintaannya. "Kamu itu saudaraku Nis, tolong percayalah," ucapnya pelan namun penuh penekanan. Keduanya berpelukan erat, berusaha berbagi kesedihannya. Baik Nisa maupun Wulan sama-sama menangis begitu perih. Ternyata masih ada sosok sahabat yang begitu baik ketika banyak orang sering mengeluhkan sahabat yang suka menikam dari belakang. Dan sosok Aji di sana menjadi saksi bila cinta bisa mengalahkan keegoisan. Buktinya ada Wulan, sosok perempuan yang rela dan ikhlas berbagi cintanya untuk sahabat yang dia sayangi dengan sepenuh hati. Ia baru sadar sekarang, bila selama 5 tahun menikah dengan Wulan ternyata perempuan itu memiliki hati serupa malaikat. Dan Aji bangga menjadikan Wulan ibu dari anak-anaknya.   Harapan terus terucap dari bibirnya. Tangis air mata seakan menjadi saksi. Akan perjalanan baru yang akan ditempuh. Amanah terus dijunjung tinggi. Dan doa darinya menjadi penutup. Semoga berkah. Pinta seorang insan. Yang penuh kekhilafan. ------ Continue
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD