8.Obat Perangsang

1457 Words
Sean menutup laptop di meja kerjanya lalu berdiri. “Oke, meeting hari ini cukup. Laras, ayo kita berangkat, jangan sampai telat.” Sekretarisnya, Laras, langsung mengangguk. “Baik, Pak Sean. Agenda dinner meeting sama klien jam tujuh, kan?” “Iya,” Sean mengambil jas dari gantungan. “Pastikan semua dokumen yang mereka minta udah ada di tablet.Saya tidak mau ada kesalahan.” “Sudah saya cek tiga kali, Pak.” Laras tersenyum sambil membawa tas kerja. “Bapak tinggal tanda tangan kontrak aja nanti.” Sean menghela napas. “Bagus. Ayo, kita turun.” Mereka masuk lift menuju basement. Laras melirik Sean yang sibuk membalas pesan di ponselnya. “Pak Sean, apa saya perlu konfirmasi lagi ke tim event soal meja VIP Bapak?” tanya Laras hati-hati. Sean menoleh sekilas. “Nggak usah, biar mereka kerja sesuai jobdesc. Saya percaya sama tim.” Lift terbuka. Mereka berjalan menuju Lamborghini hitam yang berkilau di bawah lampu basement. Laras masih tampak ragu. “Pak, nanti ada media juga yang ngeliput. Apa Bapak mau saya siapin pernyataan resmi?” Sean membuka pintu mobil, menoleh sebentar. “Ya, siapin draft singkat aja. Biar kalau ada wartawan nanya, saya tidak menjawabnya secara asal.” “Baik, Pak.” Laras cepat-cepat mencatat di tabletnya sebelum ikut masuk mobil. Begitu mesin Lamborghini dinyalakan, suara knalpot bergema di basement. Laras sempat tersenyum kecil. “Bapak saya yakin klien pasti akan percaya dengan kontrak kita.” Sean meliriknya sebentar dengan senyum tipis. “Iya saya memang selalu optimis,semua yang saya kerjakan harus membuahkan hasil.Kita memang harus ambisius.” “Siap, Pak,” Laras tersipu, lalu kembali menunduk ke tabletnya. Mobil melaju keluar basement menuju jalan malam Jakarta, lampu-lampu kota memantul di kaca. Lamborghini Sean berhenti di lobby hotel bintang lima tempat acara berlangsung di kawasan Senayan,Jakarta selatan. Petugas valet langsung mendekat. “Selamat malam, Pak Sean,” sapa petugas sopan. Sean menyerahkan kunci. “Hati-hati bawa mobilnya, ya.” “Siap, Pak.” Sean dan Laras masuk ke lobby hotel yang mewah, chandelier besar menggantung megah. Di depan ballroom, panitia sudah menunggu. “Pak Sean Wijaya? Silakan, meja VIP sudah disiapkan,” ucap salah satu panitia. “Terima kasih.” Sean mengangguk singkat, lalu masuk bersama Laras. Di dalam ballroom, musik jazz mengalun pelan, para tamu mengenakan jas dan gaun elegan. Seorang pria paruh baya, Pak Herman, salah satu rekan bisnis, langsung menghampiri. “Sean! Lama nggak ketemu. Akhirnya bisa duduk bareng juga malam ini.” Sean menjabat tangannya erat. “Pak Herman, senang bisa hadir. Saya bawa sekretaris saya, Laras, yang urus detail acara.” Laras menunduk sopan. “Selamat malam, Pak.” “Wah, tim Bapak memang selalu rapi.” Pak Herman tertawa kecil, lalu menepuk bahu Sean. “Ayo, kita duduk. Saya pengin bahas soal joint project kita.” Mereka duduk di meja VIP, minuman langsung disajikan. “Sean, saya udah lihat proposal kalian. Luar biasa,” kata Pak Herman sambil menyesap wine. “Tapi saya ada sedikit kekhawatiran soal timeline. Apa realistis bisa selesai dalam enam bulan?” Sean menoleh ke Laras sebentar, lalu menjawab tenang. “Kami sudah hitung dengan matang, Pak. Bahkan kalau ada kendala, maksimal molor dua minggu. Tidak lebih.” Pak Herman mengangkat alis. “Percaya diri sekali. Bagus, saya suka orang muda yang berani.” Laras menambahkan, “Semua vendor sudah konfirmasi, Pak. Tinggal tanda tangan kontrak untuk finalisasi.” “Hebat. Kalau begitu…” Pak Herman mencondongkan tubuh. “Saya ingin pastikan, bagi hasilnya tetap seperti draft awal, ya?” Sean tersenyum tipis. “Tenang saja, Pak. Kami orang bisnis, bukan pemain. Kalau saya janji, pasti saya tepati.” Percakapan mereka terhenti sebentar ketika MC naik ke panggung membuka acara resmi. Lampu ballroom sedikit meredup, spotlight tertuju pada panggung. “Selamat malam, hadirin. Malam ini kita akan merayakan kolaborasi besar antara beberapa perusahaan top di Indonesia, termasuk Wijaya Group.” Para tamu bertepuk tangan. Sean hanya mengangkat gelasnya sebentar sambil melirik Pak Herman. “Kalau begitu, saya rasa kita bisa lanjut bahas detailnya setelah sesi makan malam,” ujar Sean. Pak Herman mengangguk puas. “Setuju. Kamu memang generasi muda yang layak diandalkan, Sean.” Laras mencatat cepat di tabletnya sambil berbisik ke Sean. “Pak, semua poin yang Bapak sampaikan tadi saya tandai. Nanti tinggal dibikin draft MoU final.” “Bagus,” jawab Sean singkat, lalu menatap panggung dengan tatapan penuh percaya diri. Di meja sebelah, dua tamu wanita saling menunduk, mata mereka tak lepas mengamati Sean. “Eh, Nathalia nggak ikut, ya? Pak Sean sendirian aja,” bisik wanita yang lebih muda, suaranya rendah tapi cukup jelas terdengar. “Ya ampun, aneh banget. Acara penting begini, istrinya nggak nemenin sama sekali. Padahal kan ini untuk citra perusahaan juga,” ujar wanita yang lain sambil mendesah, menatap Sean dengan tatapan heran. Seorang pria yang duduk di dekat mereka ikut nimbrung, setengah bergurau. “Ah, istrinya Pak Sean kan model. Pasti sibuk banget. Pemotretan atau urusan endorsement, biasa lah.” “Tapi tetap aja, Mas,” wanita yang pertama menekankan, bibirnya menyungging tipis. “Kalau istri ngerti posisi, harusnya dia prioritaskan suami di acara resmi kayak gini. Kan nggak sering- seringnya suami diundang VIP dinner.” Sean, yang masih duduk di meja VIP bersama Pak Herman, menyadari percakapan itu. Ia tersenyum tipis, meneguk minumannya, sambil bergumam dalam hati: Sial… kenapa Nathalia selalu sibuk. Bahkan untuk datang di acara penting pun nggak bisa. Orang-orang jadi ngomongin aku kayak gini. Kalau terus begini… mungkin lain kali aku bawa Karina aja. Mereka nggak bakal sadar kalau dia sepupuku. Pak Herman menoleh, menepuk bahu Sean. “Sean, kamu baik-baik aja? Kayak lagi kepikiran sesuatu yang berat.” Sean cepat menggeleng, menahan senyum. “Ah, nggak, Pak. Cuma mikirin beberapa detail project aja, supaya presentasi nanti lancar.” Laras, yang duduk di sebelah Sean, ikut menunduk sambil berbisik pelan. “Pak, gosipnya mulai kedengaran. Tentang Bu Nathalia yang nggak hadir bersama bapak…” Sean menahan napas sebentar, menatap Laras sambil tersenyum tipis. “Biarin aja, Las. Orang bebas ngomong. Kita fokus ke bisnis, itu yang paling penting.” Pak Herman mengangguk setuju. “Ya, Sean. Orang sukses emang sering jadi bahan omongan. Anggap aja angin lalu.” Sean meneguk lagi minumannya, senyum tipis tetap terjaga. Tapi di dalam hati, pikirannya makin mantap. Beberapa saat kemudian, Dessy dan Tania memberikan minuman dengan bubuk perangsang untuk menjebak Sean lalu ia memberi isyarat kepada seorang waiter. “Mas, ini minuman untuk Pak Sean. Bilang saja dari Mr Julio begitu ya,” bisik salah satu wanita. “Baik,” jawab waiter, menerima perintah itu. “Pak, ini minuman dari MMrr Julio katanya untuk keberhasilan kontrak yang kemarin ,Pak.” waiter menyerahkan wine ke Sean. “Terima kasih,” Sean menerima gelas itu dan menenggaknya. Tak lama, ia mulai berbicara panjang lebar kepada klien, namun tubuhnya tiba-tiba terasa panas. Dessy berjalan mendekati. “Pak Sean, sepertinya anda tidak enak badan mau saya temani atau antar pulang mybe?” “Betul, Pak. Sepertinya kita searah,” tambah Tiara. Sean tersenyum tipis. “Ah, nggak perlu, saya bisa menyetir sendiri.” “Tidak apa-apa, Pak?” “Tidak perlu, terima kasih,” jawab Sean sambil keluar ballroom. " Aghk... Sial sia-sia dong obat pernagsang tadi kita taruh di minumannya! " Ucap Tania kesal. Di lobby, Sean menepikan diri, menahan rasa panas yang menjalari tubuhnya. Sial… siapa yang kasih minuman tadi? Ah, tubuhku panas banget, gumamnya dalam hati. Ia melangkah menuju parkiran, masuk ke mobil, dan mulai menyetir pulang ke apartemen. “Ahh… panas sekali…” Sean mengeluh lirih, menepikan rasa tak nyaman itu. Mobil Sean berhenti di basement apartemennya. Dengan langkah sempoyongan, ia keluar dari mobil dan masuk lift. Sesampainya di unitnya, ia membuka pintu dan melihat Karina sedang menonton film dewasanya, mengenakan piyama yang seksi seperti biasanya. Sean menutup pintu di belakangnya dan mendekat. "Kak Sean, baru pulang?" tanya Karina sambil mematikan televisi. "Kenapa kamu belum tidur, jam segini?" suara Sean sedikit serak, pengaruh alkoholnya terlihat jelas. "Belum ngantuk… Kak Sean kenapa,Mabuk?" jawab Karina sambil melangkah mendekat, tangannya menempel di dahi Sean untuk mengecek suhunya. Mata Sean terpaku pada d**a Karina. Ia tersenyum nakal. "Kamu… seksi sekali, sayang," bisiknya sambil memegang dagu Karina. Lalu ia menunduk, mencium bibirnya lembut. "Mmmhh… ahh…" desah Karina, membalas ciuman itu dengan perlahan. Ciuman mereka semakin dalam, lidah Sean menyentuh bibir Karina, menjalin kehangatan yang semakin membara. Karina menjinjitkan kaki, tangannya mengalungkan ke leher Sean untuk memperdalam ciuman mereka. Sean perlahan menuntun Karina ke sofa, meraih pinggangnya. "Kak… kita ke kamar aja," bisik Karina dengan napas tersengal, penuh gairah. Sean menggendongnya, menatap matanya dengan penuh hasrat. "Aku… menginginkanmu, baby," ucap Sean, suaranya berat. Karina menatapnya, senyum menggoda di bibirnya. "Aku milikmu… malam ini," jawabnya. Mereka melangkah menuju kamar, napas mereka berpadu, detik demi detik semakin mendekatkan hasrat yang tak terbendung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD