Reifan pulang ke rumah. Ia pling malas sebetulnya. Tapi tak punya pilihan. Ngekos? Bukan kah bisa? Bisa saja. Apalagi ia punya uang. Tapi itu akan ia lakukan andai tak perduli dengan dua orang stres di rumahnya ini. Yang satu kecanduan n*****a. Yang satu lagi? Menjual diri secara gratis. Gak punya harga diri. Gak punya urat malu. Marah? Banget lah. Makanya ketika baru membuka pintu, ia sudah menarik nafas dalam. Tak akan ada pembantu yang menetap di sini. Mereka hanya datang saat pagi untuk membersihkan rumah dan memasak. Kemudian pulang. Tak akan ada yang betah. Wong sering dijadikan tempat pesta kok. Ia pernah membawa Shilla ke sini. Bukan untuk mengajak Shilla bertamu. Tapi mengambil barang. Dan gadis itu gemetaran hebat. "Kamu percaya aku kan?" Ia berpikir kalau Shilla pasti mencu

