Bab. 03

1152 Words
Yes, I'm Bastard ..... Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Rico sudah bangun dari tidur nya sejak 1 jam yang lalu. Sejak itu dia terus menatap Arin yang tertidur dengan wajah yang begitu imut. Sungguh Rico sangat gemas dengan apa yang dia lihat sekarang. "Sayang!" Panggil Rico, dia mengecup seluruh wajah Arin agar gadisnya bisa bangun. "Enggghh Ero, jangan ganggu." Kata Arin sambil menjauhkan wajah Rico yang terus mengecup seluruh permukaan wajahnya. Sedangkan Rico menaikan alisnya saat mendengar Arin menyebut nama pria lain. "Siapa pria itu sayang, apa dia kekasih mu hmm." Bisik Rico, pria itu membuka kancing dress yang digunakan oleh Arin lalu melepas dress tersebut. Dia tidak tahu jika Ero yang di sebut oleh Arin tadi adalah kakak gadis itu. Rico mengecup sekitar bahu Arin bahkan tanpa segan dirinya memberika tanda kepemilikan di leher gadis tersebut. "Aku tidak puas jika hanya seperti ini sayang." Bisik Rico lalu melepas bra dan celana dalam Arin sehingga gadis itu naked, tidak menggunakan satu benang pun untuk dapat menutupi tubuhnya. Rico terpesona saat melihat ciptaan tuhan yang ada di hadapannya sekarang. Untuk pertama kali nya dia melihat tubuh gadisnya yang sangat indah tanpa lecet sedikitpun. "Kau sungguh indah sayang." Ucap Rico, lalu pria itu mengecup seluruh tubuh Arin. Karena tidak tahan Rico langsung melepas boxer miliknya sehingga keduanya sama-sama naked. Sungguh Rico melihat jika dirinya dan Arin sangat serasi bahkan kulit putih milik gadisnya sangat kontras dengan kulit coklat miliknya. Rico menatap Arin dengan penuh cinta, gadis itu pasti akan sadar sebentar lagi maka tanpa membuang waktu Rico langsung mengarahkan miliknya ketempat yang seharusnya berada. "Aaahhh..." Desah Rico saat miliknya masuk ke dalam milik Arin. Rico menatap ke bagian intim mereka yang bersatu dengan sempurna. Lalu tidak lama dirinya melihat darah mengalir dari milik Arin, sungguh Rico tidak menyangka jika gadisnya masih perawan. Rico mulai mengeluar masukkan milik nya dengan ritme pelan lalu ritme itu bertambah dengan cepat saat dirinya merasa keenakan. "Engghhh... Ahh." Lenguh Arin gadis itu perlahan membuka matanya nampak kabur saat dirinya menatap samar wajah Rico. "Sayang." Panggil Rico saat mendengar panggilan tersebut Arin langsung membelakkan matanya terkejut. "Apa yang kau lakuk---aahh." Perkataan Arin terhenti saat Rico mengentakkan miliknya dengan keras dan mengeluarkan benihnya di dalam rahim Arin. Sedangkan Arin menangis dan terkejut dia tidak menyangka jika dia akan mengalami hal ini. Lalu dimana dia sekarang? Bukankah tadi dia masih berada di rumah milik Diana. "Berbalik sayang." Perintah Rico, namun Arin hanya diam saja. Saat tidak mendapat pergerakan dari Arin sedikitpun Rico langsung membalik tubuh gadis itu sehingga menungging. Rico memasuki miliknya dengan sekali hentak. "Aaahh....uuhhh." Desah Arin gadis itu merasa sakit dan nikmat secara bersamaan. "Mendesahlah sayang, aku suka mendengar suara itu." Seringai keluar dari bibir Rico. ......... Diana berteriak dengan kencang saat dia masih terjebak di dalam kamarnya. Bahkan sekarang sudah menunjukkan pukul 7 malam dan Diana sungguh sangat lapar. Salah satu maid yang melewati kamar tersebut terheran ketika mendengar teriakan-teriakan dari dalam kamar nona muda mereka. "Nona apakah anda baik-baik saja?" Tanya Maid tersebut sambil mengetok pintu kamar Diana. "Tolong aku, aku terkunci di kamar ini!" Teriak Diana mendengar itu membuat maid tersebut langsung sigap menolong Diana. " Tunggu sebentar nona saya akan mencari kunci cadangan kamar anda." Lalu dengan cepat maid tersebut turun ke lantai bawah untuk dapat mencari kunci kamar yang berada di laci lantai satu. Saat sudah menemukan kunci tersebut dengan cepat dia menaiki tangga untuk menuju kamar Diana. Tidak lama dari itu akhirnya pintu kamar Diana terbuka. "Kemana saja kalian hah!" Teriak Diana dengan wajah merah padam antara menahan amara dan lapar. Maid itu hanya bisa menunduk dan minta maaf dengan kejadian yang baru saja terjadi. "Kau boleh pergi!" Maid tersebut dengan cepat berlalu dari hadapan Diana. Dia tidak ingin lagi terkena amukan ganas majikannya. "Sial kau Rico! Lihat saja aku akan membuat mu membayar semua ini." Kata Diana, lalu gadis muda tersebut berjalan menuju kamar milik Rico yang berada di bagian paling ujung lorong lantai dua rumah mereka. Dor dor dor Diana menggedor pintu kamar milik Rico sehingga menimbulkan suara yang sangat nyaring. Sedangkan Rico mengumpat kesal karena ada yang berani menganggu kegiatannya. "Fuckk." Umpat Rico, namun dia masih tidak mengubris gedoran yang terjadi di luar kamarnya. Dia terus mencari kenikmatan yang baru saja dia dapat dari gadis yang hanya bisa pasrah di bawah kukungannya. "Hey kenapa menangis hmm?" Tanya Rico. Sedangkan yang di tanya hanya bisa mengeluarkan air matanya. Dia baru saja sadar sepenuhnya dari obat bius yang di berikan oleh Rico. Saat dirinya sadar dia baru tahu jika ada seseorang yang dengan beraninya melecehkan dirinya. "Ahhkk...ahhhgh...." Desah Rico, dia masih belum puas saat lagi-lagi gadisnya mengeluarkan o*****e yang ke sekian kalinya. Duk duk duk "Rico sialan buka pintunya!" Teriak Diana sedangkan Rico terkekeh saat tahu siapa yang menganggu dirinya. Pria itu menatap Arin sebentar lalu mencabut miliknya, dia berjalan ke arah meja yang ada di dekat sofa dengan telanjang bahkan pria itu tidak memiliki malu sedikitpun saat miliknya bebas begitu saja. Rico mengambil handphone miliknya laku mendial nomor yang bisa membantu dirinya untuk menyingkarkan Diana dari depan pintu kamarnya. "Bawa Diana pergi dari depan kamar saya, dan ingat jangan sampai ada yang berani menganggu saya." Lalu pria itu mematikan teleponnya dengan sepihak. Tidak beberapa lama dia berjalan menuju Arin yang ketakutan saat menatap tubuh milik Rico. "Sssttt jangan takut sayang." Rico kembali menindih tubuh mungil Arin. "Aaku moh--on lepas." Kata Arin dengan terbata-bata air matanya masih mengalir dengan begitu deras dari matanya. Mendengar itu membuat Rico mencengkram dagu mungil milik Arin. "Apa kau ingin aku menyebar foto kita hm." Ancam Rico lalu dengan kasar pria itu mencium bibir milik Arin. Rico kembali memasuki Arin tanpa pelumas bahkan gadis itu berteriak kesakitan. "Akhhh lep-ashh." Namun suara itu hanya suara desahan dan menambah semangat Rico untuk segera mengeluarkan benihnya di dalam Arin. ..... "Lepaskan aku b******k!" Teriak Diana, dia tidak peduli jika dirinya belum mengisi perutnya sama sekali. "Kau pria gila, siapa yang menyuruhmu menyeretku seperti ini?!" Sedangkan yang di tanya hanya Diam saja dan itu membuat Diana semakin marah. Ben langsung mendorong Diana masuk kedalam mobil nya. Tadi dia mendapatkan telepon dari Rico untuk membawa Diana. Sungguh Ben tidak tahu menahu tentang apa yang terjadi di kediaman keluarga kaya itu. Sebenarnya Rico dan Ben berteman cukup lama maka dari itu Ben sangat dekat dengan keluarga Rico. Ben juga memiliki perusahan namun karena suatu alasan dirinya mau saja menjadi tangan kanan Rico. Mobil yang membawa keduanya berhenti di sebuah bangunan apartemen yang sangat elit bahkan Diana belum pernah menginap di sini. "Mau apa kau membawaku kesini?!" Tanya Diana. "Ikut saja." Ucap Ben dengan nada dingin. Lalu Ben turun dari dalam mobil dan langsung membuka pintu untuk Diana. Sedangkan gadis itu mengikuti Ben dengan pasrah dia tidak tahu jika hal buruk akan menimpa dirinya. ....... Akhirnya rilis juga yaa.. Untuk cerita My Deandra masih dalam proses pengetikan ya author tiba-tiba stuck tadi makanya gk bisa up cerita itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD