Sekalipun tidak seberapa menyukai aktivitas sosial, aku menyadari jika membangun koneksi adalah hal yang penting di dalam fasilitas. Kami yang memiliki banyak kenalan akan mendapatkan akses informasi eksklusif dengan lebih mudah. Tidak jarang beberapa murid bahkan nekat untuk meniduri peneliti atau guru mereka sendiri agar mereka mendapat jaminan bahwa mereka tidak akan dinonaktifkan suatu saat nanti. Aku pun mau tak mau melakukan hal yang serupa.
Tidak, tidak. Aku tidak meniduri siapa pun. Aku ini masih perjaka. Yang aku maksud adalah membangun kemitraan dengan para alumnus melalui organisasi binaanku, Byxvy. Byxvy kubangun untuk memberikan wadah kepada alumnus veteran untuk menyebarkan ilmu yang mereka dapatkan selama mereka menyinggahi Bumi. Kajian yang paling sering kami lakukan adalah forum Perbandingan. Forum yang kami gunakan untuk membandingkan seberapa akuratnya buku paket yang kami punya dengan fakta yang ada di lapangan.
Sejauh ini Byxvy sudah membantu para peneliti ICC untuk merevisi ulang berbagai teori yang mereka punya. Organisasiku adalah satu-satunya organisasi yang keberadaannya diakui oleh Harvel karena kontribusi kami yang nyata.
Mungkin mereka semua tidak akan menyangka jika ini justru akan menjadi alasan sistem keamanan ICC mendadak down setelah satu dasawarsa lebih telah menyala 24 jam.
Selagi berjingkat-jingkat melewati gang-gang yang sepi, aku akhirnya berhenti di salah satu persimpangan permukiman kumuh. Seharusnya di sekitar sini aku akan menemukan kediaman salah satu alumnus ICC yang semoga saja bersedia membantuku. Aku bilang ‘semoga’ karena sejatinya aku sendiri masih belum tahu apakah dia akan sudi menerima tawaranku. Namun, bermodalkan nekat dan kepasrahan, aku memberanikan diri untuk mengetuk pintu salah satu rumah yang ada.
Rumah tersebut tidaklah tampak seperti rumah manusia ataupun klon pada umumnya. Ini adalah rumah pribumi asli kami, audra, yang berada di tepi mata air dan terbangun dari segepok kayu pepohonan yang disusun menjadi satu—mirip rumah berang-berang. Ini adalah kediaman tipikal seorang audra yang juga merupakan tunawisma. Rumah-rumah kayu berjajar rapat di pemukiman ini. Beberapa audra yang lewat memandangiku dengan tatapan aneh. Entah karena lagakku yang mencurigakan, atau karena fakta bahwa seorang klon—yang dikatakan sebagai aset negara paling mahal—malah terdampar di tempat yang tak layak seperti ini. Mungkin keduanya.
Beberapa kali aku mengetuk pintu rumah di depanku, tetapi tidak ada jawaban.
“Jarex!” panggilku, mulai meninggikan suara. “Apa kau di dalam? Aku mohon keluarlah. Aku—”
Seruanku menguap di udara begitu aku menangkap suara langkah kaki dari balik punggungku. Aku langsung membalikkan tubuh dan menangkap sesosok pria dewasa yang kini menjulang beberapa langkah tak jauh dariku.
Pakaiannya kumuh. Ia hanya mengenakan kaus dan celana tipis yang sudah berlubang di sana-sini. Dia sama sekali tidak mengenakan busana penghangat apa pun, yang membuatku semakin terheran-heran. Seorang klon tidak seharusnya bertahan di iklim yang sedingin ini.
“Siapa kau?” untuk pertama kalinya Jarex membuka mulut. Suaranya tersebut terdengar berat dan serak, seakan dia sudah tidak minum selama berhari-hari. Kedua matanya pun sayu, bibirnya pecah-pecah.
Apa-apaan yang sudah pria ini lalui sampai dia terlihat sebegitu memprihatinkan?
“Aku Airuz,” ujarku mengumandangkan identitas. “Zaen sudah bilang aku akan datang.”
Pria itu tiba-tiba saja mendengus. Seumur hidup mempelajari bahasa tubuh manusia, aku tahu bahwa Jarex sedang meremehkanku. Yang aneh adalah binar kedua matanya terlihat jijik, tetapi penasaran.
“Kau ternyata memiliki keberanian juga, ya?” ujar Jarex.
Ia berjalan melaluiku dan membuka pintu rumahnya dengan cara mendorong engselnya sekuat tenaga. Pintu terbuka dengan deritan yang memekakkan telinga. Jarex melangkah masuk ke dalam, meninggalkanku terbengong-bengong di ambang pintu. Untuk sesaat pria itu hanya memandangiku dengan tatapan tak mengerti.
“Apa yang kau lakukan?” tanyanya. “Tidak mau masuk? Kau ingin membeku di luar sana?”
Aku berdehem. “Akan sangat tidak etis jika aku masuk tanpa kau persilakan terlebih dahulu,” jawabku, mengeja pengetahuan yang aku dapat dari salah satu diktat dasar tata krama Manusia.
Sesuatu dari perkataanku membuat Jarex tertawa terpingkal-pingkal. Ia sampai harus menumpukan kedua tangan ke lututnya agar tak terjatuh mengingat betapa bergelombangnya lantai tempat tinggalnya.
“Oh, ternyata begini inilah kelakukan klon paling top sekarang,” ujarnya, yang mengandung pujian tetapi secara aneh terdengar seperti sebuah olokan. “Menjunjung tinggi tata krama dan kepentingan bersama, ey?” Ia membeokan salah satu slogan ICC.
Aku menghirup napas dalam-dalam, berusaha sabar menyikapi sifatnya yang sudah mutlak kulebeli sinting tersebut. Kuingatkan pada diriku sendiri bahwa aku tidak boleh sampai naik pitam ataupun membuatnya jengkel. Mau bagaimanapun, aku membutuhkan bantuan Jarex agar bisa lulus.
Kembali berucaplah aku, “Seperti yang sudah kau tahu, aku butuh bantuanmu.”
“Dengan imbalan kehidupan yang lebih layak?” Ia kembali mempertontonkan dengusannya yang mulai terasa menyebalkan. “Aku tidak membutuhkannya.”
Tak memedulikan celotehannya yang sarkastik, aku berceletuk, “Skandal yang melibatkan dirimu kerap kali diceritakan oleh para guru. Dari generasi ke generasi, layaknya sebuah legenda yang mengajarkan kami untuk tidak berulah.”
Untuk pertama kalinya senyuman mengejek pupus dari wajah Jarex. Dapat kusaksikan ia kini mengeraskan wajah selagi mengepalkan kedua tangan. Kurasa aku telah menabur garam di atas luka yang tepat.
Kugunakan kesempatan itu untuk melanjutkan, “Anehnya sama sekali tidak ada yang mau menyebut namamu—sekalipun kami sudah tahu siapa yang ada di dalam cerita-cerita yang beredar. Namamu sudah menjadi aib terbesar dalam sejarah yang dimiliki ICC.”
“Aku tahu,” ujarnya tiba-tiba. “Kau kemari bukan karena kau membutuhkan bantuanku. Kau kemari untuk menjebakku.”
Aku terbelalak. “Apa yang—”
“Kau bekerja sama dengan si tua bangka Harvel, kan?” sergah Jarex. “Kau kemari karena kau ingin menanyaiku tentang Tes Imersi, yang jelas saja terdengar bodoh di telingaku. Murid top sepertimu tidak akan bisa melakukan—”
“Murid top sepertiku justru akan bersedia untuk melakukan apa pun untuk bisa menjadi yang terbaik,” selaku, penuh penekanan. “Termasuk melanggar aturan, sama seperti apa yang sudah kau lakukan.”
“Itu tidak membuktikan apa-apa,” sergah Jarex defensif. “Siapa yang tahu jika kau tengah mengenakan kabel perekam di balik mantelmu? Aku tidak bisa mempercayaimu dan aku tidak ingin. Jadi, lupakan saja semua ini.”
Dapat kurasakan amarah naik perlahan ke ubun-ubunku. Kukepalkan tanganku erat, berusaha meredam emosi yang mendadak menyeruak dari dalam diriku mengingat betapa mudahnya kata-kata tersebut terlontar dari mulut Jarex.
Dia tidak menyadari seberapa banyak hal yang harus aku korbankan hanya untuk sampai di depan wajahnya. Dia tidak mengerti bahwa saat ini aku sedang mempertaruhkan seluruh karir dan hidupku agar bisa bicara dengannya. Lalu, sekarang dia malah menolakku mentah-mentah bahkan sebelum aku bisa menjelaskan apa atau mengapa. Perbuatannya ini benar-benar keterlaluan. Aku pun mulai meragukan semua rumor yang beredar mengenai Jarex. Bagaimana mungkin pria tanpa sopan santun sepertinya merupakan klon dengan prestasi paling cemerlang pada masanya? Karena, kalau aku boleh jujur, melihat dari caranya memperlakukanku saja dia tidak akan lulus Tes Tata Krama—tes paling dasar yang para klon junior hadapi di tahun pertama mereka.
Apa-apaan dengan sifatnya itu?
Aku sungguh ingin mencaci maki, tetapi aku tidak akan berada di jajaran murid terbaik apabila aku tidak tahu bagaimana cara mengontrol diriku sendiri. Maka dari itu, aku memutuskan untuk memperbaiki intonasi suaraku.
“Jarex,” panggilku, mulai melunak. “Aku tahu kau butuh bantuan. Dan—”
“Semua orang membutuhkan bantuan,” sambarnya sengit. “Dan kalaupun aku membutuhkan bantuan, aku tidak akan mendapatkannya darimu. Nak, kaulah yang seharusnya mendapatkan bantuan. Kau sadar bahwa mimpi paling buruk seorang klon adalah nonaktivasi, bukan?”
Aku mengatupkan rahang kuat-kuat. Aku sedang tidak ingin memikirkan kemungkinan terburuk itu.
“Untuk apa kau melakukan ini semua? Mengorbankan nyawamu sendiri?” tanya Jarex dengan raut wajah iba yang membuatku muak. “Atas nama apa? Perbaikan negara? Cepat atau lambat seisi planet ini akan hancur dan tidak ada yang bisa kau lakukan untuk mencegahnya. Semua usahamu itu sia-sia.”
“Aku tahu semua usahaku terdengar tidak relevan bagimu,” ujarku. “Akan tetapi—”
Belum sempat aku menuntaskan kalimatku, tiba-tiba saja Jarex sudah mengayunkan pintu rumah tertutup. Spontan, kuulurkan tanganku ke depan untuk menghalanginya.
Dengan napas beruap akibat udara yang dingin, suaraku yang tercekat kembali terdengar, “Kau tahu apa yang tidak sia-sia?”
Kusaksikan sebagian wajah Jarex dari celah yang tersisa. Salah satu matanya yang terluka di bagian kelopak menghujamku tajam-tajam. Sekalipun tubuh kami terhalangi oleh pintu kayu, aku seolah dapat merasakan hawanya yang membunuh.
Jarex terlihat seakan dia hendak menghabisiku saat itu juga.
Kuteguhkan diriku sendiri. Apa pun yang terjadi, tidak akan ada kata kembali sekarang. Tidak setelah apa yang sudah kulakukan untuk bisa sampai ke hadapannya.
“Yang tidak akan sia-sia adalah,” serak, aku berujar, “membuatmu hidup lebih lama.”
Dengan tangan kananku yang gemetar melawan dingin, kurogoh saku mantelku lantas kupamerkan sesuatu di depan wajah Jarex.
Menyadari apa yang kini ada di dalam genggamanku, pupil mata pria itu membelalak lebar.
“Bagaimana kau…,” lirihnya tak percaya.
“Kau tentu menginginkan ini, bukan?” tanyaku, uap mengepul keluar dari bibir.
Jarex menatapku lamat-lamat untuk beberapa detik sebelum akhirnya membukakan pintu.
*