Aksa pulang lebih larut dari biasanya. Langkahnya berat saat memasuki rumah yang terang benderang oleh lampu ruang tamu, tetapi terasa dingin seperti lorong panjang tanpa akhir.
Tiara duduk di sofa, memangku bayi mereka yang terlelap setelah tangisan panjang. Aroma minyak kayu putih menguar di udara, bercampur dengan bau s**u basi yang tumpah di sudut karpet.
Dulu, rumah ini pernah menjadi angannya—rumah tangga baru, anak yang dinanti, istri yang mengerti. Namun, kini, setiap sudut hanya mengingatkannya pada kekosongan.
Bayi mungil itu, darah dagingnya, yang seharusnya menjadi sumber kebahagiaan, justru membuatnya merasa seperti penumpang gelap di hidupnya sendiri.
“Akhirnya pulang juga,” suara Tiara datar, serak oleh kelelahan.
Aksa mendesah, meletakkan tas kerjanya di meja. “Maaf, tadi ada meeting dadakan.”
Tiara menegakkan tubuh, menatapnya tajam. “Meeting, atau kamu diam-diam melihat dia lagi?”
Jantung Aksa mencelos. Nama itu tak disebutkan, tapi ia tahu siapa yang dimaksud. Kirana—perempuan yang dulu menemaninya menata rumah tangga dari nol, perempuan yang dulu ia pikir akan terus bersamanya hingga tua. Kini, hanya jadi kenangan pahit yang menyesakkan.
“Tiara, aku sudah bilang, aku cuma kerja.”
“Kerja? Kamu kira aku bodoh? Aku lihat caramu melamun, caramu menatap kosong ke kamar bayi kita. Kamu bahkan jarang menggendong anak kita!” Suara Tiara meninggi. Bayi itu mulai menggeliat, hampir menangis lagi.
Aksa menahan napas. Ia tidak ingin bertengkar. Tidak malam ini. Tidak di hadapan anaknya. Tapi, kata-kata Tiara menusuk titik paling lemah dalam dirinya. Ia memang bersalah, tetapi juga terjebak dalam labirin yang ia ciptakan sendiri.
“Tiara, tolong… Aku lelah.”
Tiara tertawa sinis, pelan tapi pedih. “Lelah? Kamu pikir aku nggak lelah? Aku di rumah setiap hari, sendirian, dengan anak kita yang terus menangis. Aku juga lelah, Mas. Tapi, aku tetap di sini. Aku tetap mencoba.”
Suasana makin tegang. Mata Aksa beralih ke sudut ruangan, ke vas bunga plastik berdebu yang dulu ia beli bersama Tiara, sebagai simbol awal baru. Berbeda dengan vas bunga kering di rumah lamanya bersama Kirana, bunga ini palsu—tak pernah layu, tapi juga tak pernah hidup.
“Kamu masih mencintai dia, kan?”
Pertanyaan itu menghujam dadanya. Aksa terdiam. Ia tahu, jawaban apapun hanya akan membawa mereka pada jurang yang lebih dalam.
Tiara meletakkan bayi mereka perlahan ke dalam boks. “Aku capek pura-pura nggak tahu. Aku capek berpikir kalau kita bisa bahagia. Kamu selalu membandingkan aku sama dia, kan?”
Aksa menatap Tiara. Perempuan yang dulu ia anggap pelarian, kini menjadi belenggu. Namun, di balik amarah dan keletihannya, Aksa melihat sosok yang sama lelahnya, sama hancurnya.
“Aku… Aku nggak tahu,” jawab Aksa jujur. “Aku mencoba, Tiara. Aku sungguh mencoba mencintai kehidupan ini, kamu, anak kita. Tapi, aku… aku merasa kosong.”
Kata-kata itu membuat Tiara terduduk. Air matanya jatuh tanpa suara. Ia menggigit bibirnya, menahan tangis yang seakan sudah ditumpuk berbulan-bulan.
“Mas Aksa… Aku juga takut. Takut kamu pergi. Takut kamu akan meninggalkan aku dan anak kita seperti kamu meninggalkan dia…” Suaranya bergetar.
Aksa tersentak. Ia sadar, bukan hanya dirinya yang dihantui rasa bersalah. Tiara juga hidup dalam bayangan Kirana, dalam ketakutan akan ditinggalkan.
Keheningan menyelimuti mereka. Bayi kecil itu bergerak-gerak dalam tidurnya, sesekali mengeluarkan suara gumaman lembut. Aksa menatap anak itu lama. Ada perasaan bersalah yang membelit, tapi juga ada rasa sayang yang perlahan menyusup—meski belum utuh.
Ia melangkah mendekat, lalu dengan hati-hati mengangkat anaknya. Tubuh mungil itu terasa hangat di dekapannya. Nafasnya yang pelan, dadanya yang naik-turun, begitu rapuh, begitu nyata.
Aksa membisikkan sesuatu yang hanya ia sendiri dengar, entah permintaan maaf, entah harapan yang samar.
Tiara memperhatikan dari kejauhan. Matanya sembab, tapi bibirnya melonggar. Untuk pertama kalinya, Aksa terlihat benar-benar menjadi seorang ayah, meski masih canggung.
“Maaf, Tiara…” suara Aksa pelan. “Aku… Aku ingin mencoba lebih baik. Bukan buat kita berdua, tapi buat dia…” Matanya tertuju pada bayi itu.
Tiara mengangguk pelan. Meski hatinya masih menyimpan luka, malam itu, ia merasa ada secercah harapan—walau samar, walau belum pasti.
Aksa duduk di sofa dengan bayi di pelukannya. Ia menatap ke arah jendela, hujan gerimis membasahi kaca, meninggalkan jejak yang perlahan mengalir ke bawah, seperti air mata.
Ia tahu, rumah ini mungkin tak akan pernah terasa seperti rumah yang dulu ia impikan bersama Kirana. Namun, di sini, ada kehidupan baru yang bergantung padanya.
Mungkin, ia tak bisa mengulang waktu. Bunga cinta bersama Kirana telah gugur. Namun, di pelukannya kini, ada benih baru yang menuntutnya tumbuh menjadi sosok yang lebih baik.
Bayi itu menggeliat, membuka matanya sekejap, sebelum kembali terpejam. Dan di d**a Aksa, perlahan, tumbuh perasaan yang mungkin menyerupai cinta—bukan untuk perempuan di hadapannya, tetapi untuk kehidupan kecil yang kini menjadi tanggung jawabnya.
Di atas meja, vas bunga plastik tetap diam, tak berubah. Tapi, untuk pertama kalinya, Aksa merasa, mungkin suatu hari nanti, ia akan bisa menanam bunga yang sungguh hidup—meski butuh waktu.
Malam itu, Aksa memeluk anaknya lebih erat, seolah berjanji dalam hati—tak lagi menjadi pria yang hanya tahu menghancurkan.
Meski hatinya masih terikat pada bayang-bayang yang telah lalu, ia sadar: rumah bukan selalu tentang tempat atau pasangan sempurna, melainkan tentang siapa yang bersedia bertahan dan belajar mencintai, meski dari awal yang rapuh.
Dan, mungkin, rumah itu belum sepenuhnya ada. Tapi, di sini, di pelukan kecil ini—ia ingin mencoba membangunnya.